Kamis, 21 Maret 2013

Eksegesis Kejadian 1:26-28

Posted by Netsen Juwali on 01.27 with 1 comment


MANUSIA SEBAGAI PENATALAYAN DAN PEMELIHARA CIPTAAN
(Eksegesis Kejadian 1:26-28)


I.       Pendahuluan

Kitab Kejadian merupakan kitab permulaan dari seluruh Alkitab. Sebagai Kitab permulaan, maka Kitab ini mencatat tentang awal mulanya segala sesuatu yang ada di bumi. Dalam bagian pendahuluan ini akan dibahas mengenai latar belakang masalah, konteks Kejadian dan konteks Alkitab.

A.    Latar Belakang Masalah                       

Untuk memahami manusia sebagai penatalayan dan pemelihara ciptaan, maka seyogianya perlu bertitik tolak dari satu presaposisi bahwa manusia adalah diciptakan secara istimewa serta mendapat tempat yang istimewa di antara ciptaan lain. Keistimewaan manusia sebagai ciptaan adalah, ia dicipta menurut gambar dan rupa Allah. Sedangkan keistimewa manusia di antara ciptaan lain adalah, ia diberi kuasa untuk menaklukkan dan memerintah atas ciptaan lain.
Teks yang secara tersurat memberi perintah kepada manusia supaya mereka berkuasa untuk menaklukkan dan memerintah atas bumi melahirkan sifat egosentrisnya  atas ciptaan lain. Manusia menganggap bahwa ciptaan lain hanya diperuntukan bagi kepentingan manusia. Hal tersebut dikarenakan terjadi kekeliruan dalam menginterpretasi terhadap teks Kejadian 1:26-28. Hal tersebut senada dengan yang dinyatakan oleh David Atkinson dalam bukunya Seri pemahaman dan penerapan amanat Alkitab masa kini, Kejadian 1-11 mengatakan; “ayat ini akan dinalar salah bila kita menafsirkannya salah, seolah berarti bahwa segenap ciptaan lainnya diciptakan melulu untuk kepentingan manusia. Selanjutnya David Atkinson memberikan contoh di mana seorang ahli Amerika Lynn White yang menuduh agama Kristen adalah agama paling antropis di dunia, dan dia berpendapat bahwa polusi dalam dunia masa kini adalah akibat ajaran gereja tentang diberinya manusia kekuasaan atas bumi.”[1] Yang menjadi pertanyaan dari teks Kejadian 1:26-28 ini, apakah dengan diberikannya kekuasaan kepada manusia untuk menaklukkan dan memerintah atas bumi ini, menjadi dasar bagi manusia untuk mengeksploitasi bumi? Apakah signifikansi dari kekuasaan untuk menaklukkan dan memerintah atas ciptaan lain?
            Melalui bagian teks ini, makalah ini ingin mengedepankan pesan-pesan dari sisi peran manusia sebagai ciptaan yang mendapat tempat istimewa di antara ciptaan lain sebagai wakil Allah untuk menatalayan dan memelihara ciptaan dari penulis kitab hingga masih relevan.

B.     Konteks Kejadian

Kejadian pasal 1 menceritakan secara komprehensif bagaimana Allah menciptakan langit, bumi dan segala isinya. Ayat 1 sampai ayat 25 memaparkan dengan jelas tentang penciptaan. Tahap demi tahap proses penciptaan dilakukan secara sistematis dan teratur. Setelah Allah selesai menciptaan langit, bumi dan segala isinya. Ia melihat semuanya sangat baik. Selanjutnya Allah mengambil inisiatif menciptakan manusia untuk menempati bumi yang telah diciptakan, sebagai ciptaan yang terakhir. Penciptaan manusia merupakan puncak dari segala pencitaan, Gordon J. Wenham menyatakan bahwa penciptaan manusia diperhitungkan klimaksnya.[2] Dalam ayat 2 dijelaskan bahwa bumi belum berbentuk. Secara implisit menyatakan bahwa bumi dalam keadaan kacau-balau. Allah sendiri yang kemudian menatanya sehingga menjadi teratur. Selanjutnya dalam Kejadian 2:15 Allah menempatkan manusia dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Dengan kata lain manusia diberi tugas untuk menatalayan dan memelihara apa yang ada di taman Eden. Pemberian tugas tersebut terlihat secara nyata di mana manusia memberi nama atas makhluk hidup (Kej. 2:19-20).
Walaupun dalam perkembangan selanjutnya, di taman Eden manusia gagal dalam mentaati Allah. Manusia memilih untuk lebih mendengarkan rayuan iblis. Di mana manusia makan buah buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat yang telah dilarang oleh Allah (Kej. 3:3-6). Akibatnya, Allah mengusir manusia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil (Kej. 3:23). Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perintah Allah kepada manusia untuk menatalayan dan memelihara ciptaan lain bukan hanya sebatas taman Eden, tetapi meliputi seluruh bumi. Di mana manusia berada ditempatkan oleh Allah, maka seyogianya manusia menatalayan dan memelihara ciptaan. Sebab tugas tersebut telah diberikan oleh Allah kepada manusia ketika Ia menciptakan manusia, yaitu sebelum manusia jatuh ke dalam dosa.

C.    Konteks Alkitab

Dalam Mazmur 8, Daud menyatakan kemuliaan dan keagungan Allah yang mengatasi seluruh bumi dan langit. Pemazmur juga mengungkapkan, tatkala ia melihat langit buatan Allah, bulan dan bintang yang ia tempatkan, lalu Daud menyadari dengan bertanya; apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Dan siapakah manusia, sehingga Engkau telah mengindahkannya? Allah yang mulia dan agung, sebagai pencipta telah membuat manusia hampir sama seperti Allah, dan memahkotainya dengan kemuliaan dan kehormatan. Selanjutnya  pemazmur menyatakan, bahwa Allah membuat manusia berkuasa atas buatan tangan-Nya. Segala ciptaanNya Allah letakkan di bawah kaki manusia. Dengan kata lain, penguaasan dunia diserahkan kepada manusia sebagai ciptaanNya.

II. Eksegesis

Terjemahan:  

26 Dan Allah berfirman, marilah kita menjadikan manusia di dalam gambar kita seperti rupa
     kita dan mereka akan memerintah pada ikan laut itu dan pada unggas langit itu dan pada 
     ternak pada seluruh bumi itu dan pada seluruh yang melata binatang merayap atas bumi itu.
27 Dan Allah menciptakan manusia dalam gambar-Nya di dalam gambar Allah Dia 
     menciptakan-nya laki-laki dan perempuan Dia menciptakan mereka.
28 Dan Allah memberkati mereka dan Allah berfirman kepada mereka hendaklah mereka
     berbuah/beranak cucu dan hendaklah mereka banyak dan mereka memenuhi bumi itu dan    
     mereka menguasainya dan mereka memerintah pada ikan laut itu dan pada unggas langit itu  
     dan pada seluruh binatang yang merayap atas bumi itu.

KJV
26  And God said, Let us make man in our image, after our likeness: and let them have dominion   
     over the fish of the sea, and over the fowl of the air, and over the cattle, and over all the  
     earth, and over every creeping thing that creepeth upon the earth.
27 So God created man in his own image, in the image of God created he him; male and female
     created he them.
28 And God blessed them, and God said unto them, Be fruitful, and multiply, and replenish the
     earth, and subdue it: and have dominion over the fish of the sea, and over the fowl of the air,
    and over every living thing that moveth upon the earth.

A.    Rencana penciptaan manusia

Berfirmanlah Allah: “baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita.

Sebagaimana dalam ayat-ayat sebelumnya mengenai penciptaan, ayat 26 memulai dengan kata “Berfirmanlah Allah.” Demikian juga dalam Ayat 26, penulis Kejadian memulai dengan kata (wǎyyō'mér ’Ělōhîm). kata (wǎyyō'mér) merupakan kerja bentuk qal imperfek orang ketiga maskulin tunggal, (berkata) yang didahului oleh awalan penghubung  (waw) ‘dan.’ Secara harafiahnya kata (wǎyyō'mér):  berarti ‘dan ia berkata.’ Ia yang berkata adalah menunjuk kepada ’Ělōhîm (Allah). Frase dan Allah berfirman diikuti oleh kalimat yang menarik jika dibandingkan dengan kalimat yang dipakai ketika Allah menciptakan ciptaan lain. Dalam menciptakan langit, bumi dan isinya penulis Kejadian memakai ‘jadilah atau hendaklah…, maka ciptaan itu jadi. Tetapi dalam ayat 26 Allah berfirman: baiklah kita menjadikan manusia, nă‘ăśě(h) `ād'ām besălmēnû kĭd'mût"ēnû, Let us make man in our image, after our likeness (KJV). Kalimat ini sangat menarik, jika dibandingkan dengan ayat-ayat sebelumnya. Frase ‘baiklah kita menjadikan manusia.’ Kata yang dipakai untuk ‘menjadikan’ dalam bagian ini adalah (nă‘ăśě[h]), merupakan kata kerja qal imperfek orang pertama jamak dari kata (‘āśā[h]) ‘membuat, menjadikan.’ Istilah (nă‘ăśě[h]), secara harafiahnya berarti ‘kita membuat, menjadikan. ditemukan dalam PL 2600 kali. Istilah ini adalah umum, dan dipergunakan baik untuk pekerjaan manusia maupun karya Allah (band. Kej. 1:31).[3]
             Kalimat nă‘ăśě(h)`ād'ām secara harafiah diterjemahkan ‘marilah kita membuat manusia.’ Bentuk jamak “Kita” dalam bagian ini mengundang banyak perhatian dari para penafsir, dengan tafsiran yang beragam. Louis Berkhof menyebutkan beberapa pandangan para penafsir tentang bagian ini di antaranya, ada yang menganggapnya sebagai bentuk jamak kemuliaan, ada yang menganggapnya sebagai komunikasi jamak di mana Allah mengikutsertakan para malaikat bersama dengan-Nya, sedangkan yang lain lagi menganggap bahwa bentuk jamak tersebut merupakan pemuliaan diri sendiri.[4] Salah seorang penafsif, D A Carson, ia menafsirkan bentuk jamak “Kita” dalam teks ini adalah menunjuk kepada malaikat. Dalam bukunya New Bible Commentary Carson menyatakan; “Here god is pictured talking to the angles, the only allusion to other supernatural beings in this chapter. This remark implies that man is like both god and the angles.”[5]
 Sementara penafsir lainya, David Atkinson memberi kemungkinan bahwa barangkali bentuk jamak dalam bagian ini menunjuk pada keagungan Dia yang berbicara itu.[6] Ada yang menafsirkan bentuk jamak ‘kita’ ini sebagai “kemegahan yang jamak” yang menunjukkan martabat dan kebesaran.[7] Anthony A. Hoekema dalam bukunya Manusia: Ciptaan menurut gambar Allah menyatakan “kita harus menafsirkan bentuk jamak ini mengindikasikan bahwa Allah tidak bereksistensi sebagai keberadaan yang tersendiri, melainkan sebagai keberadaan yang memiliki persekutuan dengan “yang lain.” Selanjutnya Hoekema menegaskan bahwa Allah bereksistensi sebagai satu “pluralitas.”[8] Meskipun bagi Hoekema dalam bagian ini kita tak bisa mengatakan memiliki ajaran yang jelas mengenai Trinitas, melainkan hanya secara implisit tersirat.[9] Hal yang sama juga yang ditegaskan oleh Louis Berkhof dalam bukunya ‘Teologi Sistematika 2 Doktrin Manusia. Berkhof menjelaskan, bentuk jamak ‘Kita’ memang tidak dapat dipahami secara literal menujuk kepada Trinitas, tetapi secara implisit bentuk jamak tersebut seyogianya dipakai untuk menunjuk pada suatu kenyataan ketritunggalan Allah.[10] Hal yang serupa juga ditegaskan oleh Charles F. Pfeiffer dan Everett F. Harrison dalam Commetary Alkitab Wycliffe bahwa Narasi ini menggambarkan Allah sebagai meminta dewan surgawi atas kedua anggota Tritunggal lainnya untuk memusatkan perhatian mereka pada peristiwa penciptaan manusia.[11] Selanjutnya ia menegaskan, bentuk jamak dari kata yang dipakai untuk Allah, di mana Tuhan ditampilkan sebagai memberikan pertimbangan yang luar biasa terhadap sesuatu soal yang sangat penting,[12] sebab penciptaan manusia itu sendiri didahului oleh suatu pertimbangan yang agung.[13]
Bertitik tolak dari beberapa penafsiran yang ada tersebut adalah tidak mungkin untuk memilih tafsiran yang menunjuk bahwa Allah berbicara kepada para malaikat dalam merencanakan penciptaan manusia. Sebab Allah tidak pernah meminta masukan dari malaikat dalam menciptakan manusia (band. Yes. 40:41). Secara status malaikatpun sebagai ciptaan Allah. Selanjutnya manusia bukan dijadikan menurut gambar malaikat (band. Kej. 3:22). Bagi penulis, sulit untuk menafsirkan bentuk jamak ‘Kita’ yang ada dalam teks ini secara literal. Tetapi perlu memperhatikan konteks penciptaan secara keseluruhan dalam terang Alkitab (PL dan PB). Dalam Kejadian 1:2, Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air, selanjutnya dalam memulai penciptaan Ia memakai Firman. Rasul Paulus juga menuliskan dalam Kolose 1:16 “karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Dengan melihat konteks tersebut, maka penulis menafsirkan bentuk jamak ‘Kita’ adalah menunjuk kepada aktivitas Allah Tritunggal dalam penciptaan. Seperti yang ditegaskan oleh Hoekema “apa yang dinyatakan secara tidak langsung di sini akan dikembangkan lebih lanjut dalam Perjanjian Baru menjadi doktrin Trinitas.”[14]
Selanjutnya kata yang dipakai untuk manusia adalah ('ād'ām) merupakan kata benda maskulin tunggal absolutus ‘man, mankind, people.’ Penggunaan kata ('ād'ām) memiliki beberapa pengertian, di antaranya; dipakai sebagai nama diri, Adam (band. Kej. 5:1 “Inilah daftar keturunan Adam”), memiliki arti manusia pada umumnya, baik itu laki-laki atau perempuan atau laki-laki dan perempuan, serta dipakai untuk menunjuk kepada umat manusia (band. Kej. 6:5). Dalam teks ini, kata  ('ād'ām) dapat diartikan menunjuk kepada manusia sebagai laki-laki dan perempuan di mana mereka juga dapat disebut umat manusia. Pengertian yang sama juga dinyatakan John H. Sailhamer;
the creation of humanity is specifically noted to be a creation of “male and female.”  The author  has not considered gender to an important feature to stress in his account of the creation of the other forms of life, but for humankind it is of some importance. Thus the narrative stresses that God created humankind  as “male and female.”[15]
Gordon J. Wenham menyatakan; Adam, the first man created and named, is representative of humanity.[16]
            Kata berikut yang perlu diperhatikan adalah: ‘menurut gambar dan rupa kita.’ Kedua kata ini akan di bahas dalam bagian berikutnya, yaitu pada bagian pelaksanaan penciptaan manusia.

B.     Tujuan penciptaan manusia

“Supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi”

Setelah Allah mengumumkan rencanaNya untuk menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Kini Allah menentukan, apa yang menjadi tujuan Allah menciptakan manusia atau mengapa Allah menciptakan manusia. Ayat 6b memulai dengan kata; Supaya mereka berkuasa…” (LAI TB),  supaya diperintahkannya (LAI TL), and let them have dominion (KJV), and let them rule (NAS, NIV). Kata yang dipergunakan untuk ‘berkuasa’ dalam teks ini adalah (weyĭrdû ). Merupakan kata kerja qal imperfek orang ketiga maskulin jamak dari kata (rād'āh) yang  artinya tread, rule, govern, to scrape out’ (menguasai, memerintah). Kata  (weyĭrdû) didahului oleh kata penghubung (waw), maka secara harafiah kata weyĭrdû dapat diterjemahkan ‘dan mereka akan memerintah.’ LAI versi terjemahan lama menerjemahkan ‘supaya diperintahkannya.’ Walaupun secara gramatika kata rād'āh didahului oleh kata penghubung waw yang berarti ‘dan’, tetapi karena kata kerja yang dipakai adalah bentuk imperfek, yang dalam pemakaiannya dapat dipergunakan untuk menyatakan pekerjaan yang hendak dilakukan. Sehingga dalam penerjemahannya kata kerja imperfek sering diterjemahkan dengan menambahkan keterangan seperti ‘akan’, ‘hendak’, ‘kiranya’ dan sebagainya.[17]
Dari bentuk imperfek dan awalan penghubung yang dikenakan pada kata kerja (weyĭrdû) maka dapat dipahami bahwa arti kata kerja tersebut tentunya menunjuk kepada harapan yang sekaligus mengandung suatu makna tujuan. Sehingga kata (weyĭrdû) yang diterjemahkan ‘dan mereka akan memerintah merupakan harapan Allah sebagai Sang Pencipta manusia, agar manusia yang diciptakan-Nya dalam gambar menurut rupa-Nya akan memerintah atas seluruh ciptaan lain. D A Carson menyatakan; “Di sini Kejadian menegaskan tujuan dan tempat umat manusia di dalam rencana Allah.”[18] Alkitab memberikan penjelasan yang komprehensif mengenai tujuan penciptaan manusia. Hal ini berbeda dengan tradisi-tradisi yang ada, salah satunya adalah tradisi Babel. Menurut tradisi Babel, manusia diciptakan supaya para dewa bebas dari beban pekerjaan sehari-hari. Manusia diciptakan untuk menjadi pelayan dewa-dewa termasuk menyediakan makanan bagi mereka.[19] Namun, dalam Alkitab digambarkan manusia sebagai mahkota penciptaan. Ini berarti bukan manusia yang menyediakan makanan bagi Allah, tetapi sebaliknya, Allah yang menyediakan tumbuh-tumbuhan sebagai makanan bagi manusia (band. Kej. 1:29). Dan bahkan  dikatakan “Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau. Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, janganlah kamu makan.” (Kej. 9:3-4).
Apa yang telah Allah sediakan bagi manusia, kini ada dalam kekuasaannya di mana manusia akan memerintah atasnya. Inilah tujuan penciptaan manusia atas ciptaan lainnya. Jadi, dalam bagian ini memberikan indikasi yang secara gamblang dan jelas, mengenai tujuan Allah menciptakan manusia. Di mana secara eksplisit tujuan manusia diciptakan adalah untuk memerintah atas ciptaan yang lain, yang meliputi;  pada ikan di laut dan pada unggas di langit dan pada ternak pada seluruh bumi dan pada seluruh yang melata binatang merayap atas bumi.
Sebagai wujud dari gambar rupa Allah sehingga manusia diberi kuasa untuk memerintah atas bumi. Menurut Charles F. Pfeiffer dan Everett F. Harrison dalam Commetary Alkitab Wycliffe menjelaskan bahwa manusia harus menjadi wakil dan penatalayan Allah yang bertanggung jawab di bumi untuk melaksanakan semua kehendak Allah dan menggenapi maksud Sang Khalik.[20] Maka, memerintah dalam bagian ini hanya dapat dipahami dalam konteks manusia sebagai gambar rupa Allah. D A Carson menegaskan; “ini berarti manusia, baik laki-laki dan perempuan, mereka adalah wakil Allah di bumi.”[21] Dengan demikian Allah menyerahkan seluruh ciptaan lain kepada manusia. “Akan takut dan akan gentar kepadamu segala binatang di bumi dan segala burung di udara, segala yang bergerak di muka bumi dan segala ikan di laut; ke dalam tanganmulah semuanya itu diserahkan.” (Kej. 9:2)

C.    Penciptaan manusia

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
            Ayat 27 ini merupakan ayat yang sangat menarik jika memperhatikan teks aslinya.  Ayat yang berbunyi “wǎyyivrā' ’Ělōhîm 'ét"-hā'ād'ām besǎlmô besělěm 'Ělōhîm bārā' 'ōtô zāk'ār ûneqēvā(h) bārā' 'ōtām,” LAI menerjemahkan Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. KJV, NAS, So God created man in his own image, in the image of God created he him; male and female created he them. Jika diterjemahkan ke dalam terjemahan harafiahnya, ayat ini terdiri atas kombinasi tujuh kata inti. Merurut Yonky Karman, tujuh kata inti yang dikombinasi tersebut  adalah; “menciptakan, Allah, manusia menurut gambar, lelaki, perempuan, dia/mereka.” Ketujuh kata inti tersebut tersebar dalam tiga baris yang masing-masing terdiri lagi atas empat kata.[22] Ketiga baris tersebut dapat dibagi sebagai berikut :
            Dan Allah menciptakan manusia dalam gambarnya
            Dalam gambar Allah diciptakan-Nya dia:
            Laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka
Gordon J. Wenham menyebutkan tiga kalimat pendek tersebut dengan ketiga anak kalimat, yang ada dalam keterangan tambahan. Dan dalam ayat 27 ini mencatat aspek yang sangat penting mengenai keberadaan manusia yang di catat khusus dalam tiga kalimat singkat sebagai pelaksanaaan dari ketetapan Sang Ilahi yang terdapat dalam ayat 26.[23] Ayat 27, mulai dengan frase “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya”. Kata (wǎyyivrā' ) dari kata to create, shape’ (menciptakan, membuat). wǎyyivrā'  adalah kata  kerja qal imperfek orang ketiga maskulin tunggal yang diawali oleh kata penghubung (waw). Secara harafiah wǎyyivrā' berarti ‘dan Dia menciptakan.’ Dia yang dimaksud adalah menunjuk kepada 'Ělōhîm. Kata kerja bārā' muncul di seluruh PL sebanyak 49 kali, dengan subjek selalu Allah. Tentang kata bārā' Yonky Karman dalam bukunya Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama, menyatakan;  “Dalam konteks penciptaan akar kata kerja bārā' tidak begitu saja mendukung doktrin dari yang tidak ada menjadi ada, tetapi yang hendak ditegaskan adalah unsur kebaruan dari tindakkan Tuhan dan hanya Yang Mahakuasa saja dapat menghasilkan kebaruan seperti itu. Tindakan Allah dalam menciptakan ini benar-benar unik tanpa bandingan.”[24]
Kata kerja bārā' sangat khas dalam Perjanjian Lama. Di dalam bahasa-bahasa yang serumpun dengan bahasa Ibrani istilah ini tidak ditemukan, melainkan hanya istilah yang lebih umum artinya seperti banu (mendirikan) dalam bahasa Akkad (Mesopotamia). Sedangkan dalam bahasa Ibrani sendiri istilah bārā' hanya dipakai mengenai karya Allah, untuk menyatakan keunggulan penciptaanNya dibanding dengan hasil karya manusia. Allah dapat menciptakan (bārā') sesuatu yang sama sekali baru, sedangkan manusia hanya mampu membuat (āśā) sesuatu dari bahan yang sudah diciptakan Allah.[25]
Kata berikut yang perlu untuk diperhatikan adalah ‘menurut gambar-Nya.’ Sebelum membahas kata ‘menurut gambar-Nya’ dalam ayat 27 ini, penulis terlebih dahulu akan membahas kata ‘menurut gambar dan rupanya’ yang terdapat dalam ayat 26. Kata yang dipakai untuk gambar dalam ayat 26 adalah (besălmēnû) dari (sělěm) image’. Yaitu kata benda maskulin tunggal konstruktus dengan kata depan dan suffix orang pertama jamak. Secara harafiah  (besălmēnû) adalah ‘di dalam gambar kita’ LAI terjemahan lama menerjemahkan ‘atas peta.’ KJV, NAS, NIV menerjemahkan ‘in Our image.’ Sedangkan  kata yang dipakai ‘rupa kita’ adalah (kĭd'mûtēnû). Merupakan kata benda feminim tunggal konstruktus dari kata (demût") artinya ‘pattern, form, shape, something like’ yang mendapatkan penambahan kata depan ‘seperti, menurut’ dan suffix orang pertama jamak ‘kita.’ Secara harafiahnya (kĭd'mûtēnû) ‘menurut bentuk kita.’ LAI terjemahan lama menerjemahkannya ‘atas teladan kita.’ Dengan demikian frase (besălmēnû kĭd'mûtēnû)  yang diterjemahkan oleh LAI terjemahan baru “menurut gambar dan rupanya. LAI terjemahan lama menerjemahkan atas peta dan atas teladan kita.” Beberapa versi lain seperti KJV menerjemahkan in our image, after our likeness, NAS menerjemahkan in Our image, according to Our likeness, NIV menerjemahkan in our image, in our likeness.Secara harafiah frase besălmēnû kĭd'mûtēnû dalam ayat 26 dapat diterjemahkan ‘di dalam gambar kita menurut rupa kita.’ Di dalam teks aslinya (Bahasa Ibrani) tidak terdapat kata penghubung atau kata sambung ‘dan’ di antara kedua kata tersebut seperti yang terdapat dalam terjemahan LAI. Hal yang sama ditegaskan oleh Anthony A. Hoekema, baik Septuaginta[26] maupun Vulgata[27] memasukan kata dan.[28] Berdasarkan teks aslinya, kedua kata tersebut tidak memiliki perbedaan yang esensial di antara keduanya, sebab tidak terdapat kata penghubung yang di antara kedua kata tersebut.  Dengan penambahan kata penghubung dan, sehingga memberi kesan bahwa ‘gambar’ dan ‘rupa’ mengacu kepada dua hal yang berbeda. Anthony A. Hoekema menegaskan, kata ‘menurut gambar Kita’ hanyalah suatu cara lain untuk mengatakan ‘menurut rupa Kita.’[29]
Dalam ayat 27, kata yang dipakai ‘menurut gambar-Nya’ adalah (besǎlmô) sama dengan bentuk kata gambar yang dipakai dalam ayat 26. Tetapi dalam ayat 27 mendapatkan  suffix orang ketiga maskulin tunggal. Secara harafiahnya kata ini diterjemahkan ‘di dalam gambar-Nya.’ LAI TB menerjemahkan ‘menurut gambar-Nya. LAI TL menerjemahkan kata besǎlmô  atas petanya.’ Oleh beberapa versi seperti KJV, NAS, NIV diterjemahkan in his own image. Pemakaian kata gambar maupun rupa dalam Alkitab terkadang dipakai secara bersama-sama dan terkadang dipakai salah satunya. Misalnya dalam Kejadian 5:1, menyebutkan “Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah. Kata (demût") dikenakan untuk rupa dalam Kejadian 5:1 ini. Sedangkan dalam Kejadian 9:6, disebutkan “sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.” Dalam bagian ini pun kata ‘menurut gambar-Nya’ memakai kata (sělěm) image. Sementara dalam Kejadian 5:3, ketika Adam memperanakkan seorang anak laki-laki baginya, anak Adam disebutkan sebagai menurut rupa dan gambar dari Adam. Dan kata dasar yang dipakai untuk menunjuk kepada rupa dan gambar dari Adam adalah (demût) dan (sělěm). Dalam hal ini, kedua kata  dipakai dengan urutan yang berbeda. Jadi jelas bahwa, baik ‘gambar’ maupun ‘rupa’ dapat dipakai secara bersama-sama dan dapat dipakai secara terpisah atau bergantian. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, baik ‘gambar’ maupun ‘rupa’ biasa dipakai secara sinonim,[30] dengan kata lain tidak ada perbedaan yang esensial.
Frase, manusia diciptakan menurut gambar Allah menarik banyak perhatian dari para penafsir. Di satu sisi ada penafsir yang mengartikan “gambar” itu secara jasmani, di mana bagi penafsir ini menunjuk kepada sikap berdiri manusia yang tegak lurus, bertentangan dengan binatang-binatang, dan yang menganggap ini sebagai keistimewaan yang membedakan manusia dari makhluk lain.[31] Selanjutnya ada orang yang berspekulasi bahwa gambar Allah adalah kemiripan manusia dengan Penciptanya dan kemiripan itu terletak pada karakteristik manusia yang membedakannya dari hewan seperti rasio, kekekalan dan konsepnya, perasaan moral, dan seterusnya.”[32] Hal yang sama juga disampaikan oleh William A. Dyrness dengan mengatakan; “Dahulu para teolog menekankan pada kemampuan rasional dan rohani manusia sebagai arti dari gambar Allah.” Tetapi bagi Dyrness, gambar Allah berarti manusia diciptakan untuk mencerminkan Allah.[33] Apa yang dikatakan oleh Dyrness di mana manusia mencerminkan Allah, senada dengan interpretasi D A Carson. Carson menyatakan; God says man is to be made in our image, in our likeness. This means that mankind, both male and female, is God representative on earth.[34] Ini berarti bahwa manusia, laki-laki dan perempuan sebagai representasi atau wakil Allah di bumi. Sementara Karl Barth, seperti yang dinyatakan oleh David Atkinson, bahwa “gambar Allah” sebagai pengertian “laki-laki dan perempuan” yang saling melengkapi.[35] Ada pula yang bertolak belakang dengan pandangan Karl Barth. Seorang teolog PL seperti Eichrodt yang dikutip oleh Yonky Karman dengan mengartikan  bahwa gambar Allah terletak pada kesadaran diri dan kemampuannya untuk menentukan diri.[36]
Selanjutnya ada beberapa penafsir yang menafsirkan “gambar” menujuk kepada manusia sebagai rekan-Nya, dan bahwa manusia dapat hidup bersama dengan Allah. Ini berarti menunjuk kepada suatu hubungan manusia dengan Allah. Misalnya, Yune Sun Park, menjelaskan; “Allah menciptakan manusia ‘menurut gambar dan rupa’-Nya, supaya manusia dapat mengenal Allah. Hubungan di antara manusia dan Allah berbeda dengan hewan-hewan yang lain. Park menegaskan, ‘gambar dan rupa’ Allah berarti manusia diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Ef. 4:24).”[37] Menurut Westermann, “Manusia diciptakan sedemikian rupa sehingga keberadaannya adalah hubungannya dengan Allah.” Menurut pandangan ini, “gambar Allah” bukan sesuatu yang dimiliki manusia, atau sesuatu kemampuan untuk menjadi atau berbuat sesuatu, melainkan suatu hubungan.[38] Davit Atkinson menafsirkan ‘gambar Allah’ ialah “hubungan dalam mana Allah menempatkan diriNya terhadap manusia, suatu hubungan dalam mana manusia menjadi mitra kerja, wakil dan kemuliaan Allah di atas bumi.”[39]
Dengan melihat beragam penafsiran yang ada, maka sulit untuk menentukan arti gambar Allah yang sesungguhnya. Sebab bagaimanapun, manusia menyerupai Allah tidak dinyatakan secara spesifik dan eksplisit di dalam kisah penciptaan. Oleh sebab itu untuk menemukan arti dan makna gambar Allah perlu memperhatikan apa kata teks dengan akar kata yang diturunkan dan juga konteks. Kata Ibrani untuk gambar adalah (sělěm). Kata sělěm ini diturunkan dari akar kata yang memiliki makna “mengukir” atau “memotong.”[40] Tentang pemakaian kata sělěm ini, menurut Hoekema, “kata ini bisa dipakai untuk mendeskripsikan ukiran berbentuk binatang atau manusia. Ketika diaplikasikan pada penciptaan manusia di dalam Kejadian 1, kata sělěm ini mengindikasikan bahwa manusia menggambarkan Allah. Artinya manusia merupakan suatu representasi Allah.”[41] Dalam konteks sosial Timur Dekat kuno (sělěm) gambar biasa dimaksud sebagai bentuk fisik yang mewakili kehadiran seorang penguasa. Ketika seorang raja menguasai wilayah di luar kerajaannya, kehadirannya secara fisik di wilayah itu biasa diwakili dengan sělěm berupa patung dirinya yang ditaruh di daerah itu. Patung itu bukan raja sebenarnya, melainkan biasa dipandang sebagai representasi kehadirannya di suatu wilayah.[42] Berdasarkan analogi ini, penciptaan manusia menurut gambar Allah secara negatif menyangkal manusia sama dengan Allah. Akan tetapi manusia adalah gambar Allah, namun manusia bukanlah Allah.
Sedangkan kata Ibrani untuk rupa, (demût) di dalam Kejadian 1 memiliki makna “menyerupai.”[43] Maka dengan demikian, bisa dikatakan bahwa kata demût" di dalam Kejadian 1 mengindikasikan bahwa gambar tersebut juga merupakan keserupaan.[44] Dengan kata lain ‘menurut gambar dan rupa’ dapat dikatakan ‘gambar yang menyerupai.’ Dengan kedua kata tersebut baik sělěm maupun demût, memberitahukan bahwa manusia sebagai ciptaan yang dicipta di dalam gambar menurut rupa Allah adalah merepresentasikan Allah dan menyerupai Dia.[45] Dengan memperhatikan konteks yang ada, maka manusia sebagai gambar rupa Allah bersifat fungsional.[46] Di mana manusia diberi kuasa untuk memerintah atas ciptaan lain. Hoekema menyatakan, bagaimana manusia menyerupai Allah tidak dinyatakan secara spesifik dan eksplisit di dalam kisah penciptaan. Tetapi dapat dilihat keserupaan-keserupaan tertentu dengan Allah yang terimplikasikan  dalam bagian teks Kejadian ini.[47] Lebih lanjut Hoekema menarik suatu kesimpulan mengenai keserupaan-keserupaan yang terimplikasi dalam Kejadian 1:26-28 dengan menyebutkan; kekuasaan atas binatang dan atas seluruh bumi merupakan aspek dari gambar Allah. Selanjutnya ia berpedapat, di dalam menjalankan kekuasaan ini manusia menjadi serupa dengan Allah, karena Allah memiliki kuasa yang tertinggi dan ultimat atas bumi.[48] Ini berarti otoritas (kuasa) manusia atas ciptaan-ciptaan lain menunjuk kepada manusia sebagai rupa Allah. Selanjutnya Hoekema menyebutkan aspek lain dari gambar Allah menyangkut perihal penciptaan manusia sebagai laki-laki dan perempuan.[49] Dari aspek gambar ini, Hoekema menyebutkan keserupaan dengan Allah dalam hal ini ditemukan di dalam perbedaan fisik antara kaum laki-laki dan kaum perempuan.  Dalam hal ini laki-laki memerlukan pendamping, yaitu perempuan dan mereka saling melengkapi satu dengan yang lain.[50] Ini berarti manusia memiliki hubungan persekutuan dengan sesamanya. Hal ini juga nampak dalam  manusia sebagai mahkluk sosial yang Allah ciptakan dalam diri laki-laki dan perempuan. Dalam hal ini manusia mencerminkan Allah yang bereksistensi, bukan sebagai keberadaan yang terasing. Bahkan berada di dalam suatu relasi dengan dengan Allah.
Manusia yang diciptakan dalam gambar menurut rupa Allah tidak hanya disebutkan dalam Perjanjian Lama, tetapi dalam Perjanjian Baru juga menyebutkan bahwa manusia diciptakan menurut rupa Allah. Seperti yang terlihat dalam Yakobus 3:9 menyebutkan “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah.” Kata Yunani yang dipakai untuk rupa dalam Yakobus 3:9 adalah (homoiōsin) sebagai kata benda akusatif feminim tunggal dari (homoiōsis) yang berarti ‘likeness.’ Dalam Septuaginta kata yang dipakai untuk gambar adalah (eikona) yaitu kata benda akusatif feminim tunggal dari (eikōn) yang artinya ‘image.’ Sedangkan kata rupa yang dipakai dalam Septuaginta adalah (homoiōsin) sebagai kata benda akusatif feminim tunggal dari (homoiōsis) yang berarti ‘likeness.’  
Pemakaian kata ‘gambar’ maupun ‘rupa’ tidak hanya dikenakan kepada manusia. Dalam Perjanjian Baru, penggunaan kata ‘gambarjuga dipakai untuk menunjuk kepada pribadi Kristus. Kristus sebagai gambar Allah yang nyata, seperti dalam beberapa tulisan Rasul Paulus. “Dia-lah gambar Allah yang tidak kelihatan” (Kol. 1:15). Selanjutnya dalam 2 Korintus 4:4, “kemuliaan Kristus, yang adalah gambar Allah.” Kata Yunani yang dipakai untuk gambar dalam Kolose 1:15 dan 2 Korintus 4:4, adalah (eikōn), yang setara dengan kata Ibrani  sělěm. Demikian juga penulis surat Ibrani,Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah” (Ibr. 1:3). Dalam Ibrani 1:3, kata Yunani yang diterjemahkan menjadi ‘gambar wujud’ adalah (charaktēr), artinya express image, exact representation, repoduction. Menurut W.E. Vine, kata ini bermakna “cap atau cetakan, seperti pada sebuah koin atau meterai, di mana meterai yang di cap menyandang gambar yang dihasilkan oleh cap itu. Sebaliknya, semua aspek dari gambar yang dihasilkan tersebut, persis sama dengan aspek-aspek yang ada pada sarana yang menghasilkannya.”[51] Analoginya adalah seperti dengan melihat sebuah koin, seseorang bisa mengetahui secara tepat cetakan asli yang menghasilkan gambar pada koin itu, demikian juga dengan melihat Anak, orang bisa mengetahui Allah secara tepat. Anthony A. Hoekema menyebutkan “sulit membayangkan gambaran lain yang lebih kuat untuk menyampaikan pemikiran bahwa Kristus adalah reproduksi yang sempurna dari Bapa. Setiap sifat, setiap karakteristik, setiap kualitas yang terdapat di dalam Bapa juga terdapat di dalam Anak, yang merupakan gambar wujud Bapa.”[52]

D.    Mandat Allah atas manusia

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

Setelah Allah menciptakan manusia menurut gambar rupa-Nya, kini Allah memberkati serta memberi mandat kepada manusia. Ayat 28 LAI TB memulai dengan “Allah memberkati mereka.” Kata kerja yang dipakai untuk memberkati adalah (wǎyvārēkh) yaitu kata kerja bentuk piel imperfek tiga maskulin tunggal. Terdiri dari kata penghubung dari kata dasar (bārǎkh) yang artinya to kneel, bless, (memberkati). Secara harafiah wǎyvārēkh diterjemahkan ‘dan dia telah memberkati.’ Dia sebagai bentuk ketiga menunjuk kepada ’Ělōhîm (Allah). Kata berikutnya adalah partikel ('ōtām) dengan suffix orang ketiga maskulin jamak yaitu ‘mereka.’ Menurut versi KJV dan NAS suffix orang ketiga ‘mereka’ disini menujuk kepada (rāvāh). Dengan demikian dapat diterjemahkan ‘dan Allah telah memberkati mereka.’ Frase berikut adalah "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi. Kata yang dipakai untuk ‘beranakcuculah’ adalah (pe) yaitu kata kerja qal imperatif maskulin jamak dari (pārāh) yang artinya bear fruit, be fruitfull. Kata berikut adalah (ûre) dari kata (rāvāh) dengan kata penghubung yaitu kata kerja qal imperatif maskulin jamak, artinya dan bertambah banyak. Kata ‘penuhilah’ memakai (ûmil'û) sebagai kata kerja qal imperatif maskulin jamak, dengan kata penghubung waw yang berarti ‘dan penuhilah’ bumi. Berkat Allah atas manusia “beranakcuculah dan bertambah banyaklah” adalah seperti yang dinyatakan atas ciptaan lain (binatang-binatang) dalam ayat 22. Baik binatang-binatang maupun manusia, mereka akan berkembang biak dan bertambah banyak. Namun di dalam ayat 22 binatang-binatang hanya diberi perintah, tetapi dalam ayat 28 menambahkan “dan Allah berkata kepada mereka” sebagai sesuatu perhatian yang melukiskan hubungan pribadi antara Allah dan manusia.
Selanjutnnya, Tuhan memberitahu kepada manusia ‘taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi’. Kata ‘taklukanlah itu’ menggunakan (wekivšŭhā)  dari kata (kāvǎsh) dengan kata penghubung waw, dan suffix orang ketiga feminim tunggal. (wekivšŭhā) merupakan kata kerja qal imperatif maskulin jamak. Secara harafiahnya berarti ‘make subservient’  (membuat tunduk). Bentuk imperatif hanya dipakai untuk mengungkapkan perintah-perintah, maka kata (wekivšŭhā) diartikan ‘dan buatlah tunduk dia’ atau ‘dan tundukkanlah dia. LAI TB menerjemahkan ‘taklukkanlah bumi, LAI TL menerjemahkan ‘taklukkanlah dia, and subdue it’ (KJV, NAS, NIV). Suffik orang ketiga tunggal ‘dia’ menunjuk kepada 'ět"-hā'ārěs
Pemakaian kata (kāvǎsh) terdapat dalam beberapa teks lain yang memiliki arti yang sangat keras.  Misalnya, dalam Ester 7:8 dan Yeremia 34:16, kata kāvǎsh  memiliki pengertian menundukkan dengan paksa seperti dalam pemerkosaan. Kata kāvǎsh yang mengandung arti menundukkan dalam kedua teks ini (Est. 7:8 dan Yer. 34:16) tidak dapat menjadi acuan untuk menunjuk kepada suatu tindakkan manusia dalam ‘memaksa’ ciptaan-ciptaan lain agar takluk di bawah kekuasaannya. Sebab dalam kedua konteks yang ada dalam Ester dan Yeremia memberikan gambaran akan tindakkan manusia yang tidak mengindahkan ketentuan Allah. Dalam Ester 7:8, Raja Ahasyweros telah mabuk oleh anggur, demikian juga Haman besujud memohon kepada Ester bersikap seperti memaksa agar ia tidak dihukum. Dalam konteks Yeremia 34:16, Allah telah mengikat perjanjian dengan bangsa Israel, di mana mereka diharuskan membebaskan budak yang telah menjual diri kepada mereka. Sebaliknya mereka berbalik dari ketetapan Tuhan. Mereka tidak membebaskan budak tetapi justru menundukkan supaya budak tersebut tetap dalam kekuasaan mereka. Ini berarti ada ambisi manusia yaitu mereka yang telah membeli budak tersebut untuk tetap memperbudak mereka yang telah dibelinya. Tidak demikian dengan pemakaian kata (kāvǎsh) dalam konteks Kejadian 1:28. Salah satu dari pengertian kata (kāvǎsh) menundukkan” dalam konteks penciptaan dapat juga memiliki suatu pengertian di mana manusia diperintahkan oleh Sang Pencipta untuk memenuhi bumi dengan berkembang biak dan terus bertambah banyak. Yonky Karman menegaskan hal ini; “manusia ditempatkan di bumi untuk menunjukkan kedaulatan Allah atas dunia ciptaan dengan menunundukkannya.[53]  
Selanjutnya kata yang dipakai untuk ‘berkuasalah’ adalah (ûred'û) yaitu kata kerja qal imperatif maskulin jamak dari kata (rādāh) artinya ‘to rule,’ dengan kata penghubung waw Maka secara harafiah kata ûred'û diterjemahkan dan memerintahlah. LAI TB menerjemahkan berkuasalah, LAI TL perintahkanlah, KJV menerjemahkan and have dominion, NAS dan NIV mengartikan and rule. Penggunaan kata (rādāh) dalam Yoel 3:13 memiliki pengertian menginjak-injak seperti ketika memeras anggur. Dari pengertian tersebut maka dalam Yoel 3:13 pemakaian kata (rādāh) memiliki makna yang radikal. Makna yang radikal tersebut akan dapat dipahami karena dalam konteks Yoel 3:13, kata (rādāh) dipakai kepada suatu cara mengerjakan buah anggur untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Dari akar kata tersebut terkandung suatu makna yang mendalam, di mana manusia berkuasa untuk memerintah atas ciptaan-ciptaan yang lain untuk tujuan kebaikan, yaitu kemuliaan Allah. Penjelasan mengenai kata (rādāh) ‘memerintah’ telah disinggung juga di dalam bagian sebelumnya, yaitu pada bagian B (Tujuan penciptaan manusia). Walaupun penggunaan kedua kata kerja baik kāvǎsh maupun rādāh dipakai dalam konteks yang lain memiliki arti yang keras, namun Yonky Karman menyatakan; “menguasai alam dalam konteks Alkitab pada waktu itu adalah harmoni dengan alam sebelum kejatuhan dan belum ada unsur keserakahan manusia untuk menguras alam.” Lebih lanjut Karman menegaskan, “maka, kerasnya pengertian kata kāvǎsh dan rād'āh tidak perlu dikhawatirkan menjadikan pembenaran segala bentuk eksploitasi alam.”[54]
Baik kata rādāh maupun ûred'û kedunya adalah kata kerja qal imperatif. Oleh karena kedua kata tersebut sama-sama bentuk imperatif, maka keduanya mengungkapkan perintah Allah kepada manusia. Ketika Allah memberikan mandat kepada manusia dengan berkata ‘taklukkanlah dan berkuasalah’ atau harafiahnya ‘tundukkanlah dan memerintahlah’ dalam ayat 28 ini artinya bahwa kuasa dan kemampuan untuk memerintah tersebut diberikan kepada manusia. Yaitu kepada manusia secara umum laki-laki dan perempuan sebagai ciptaan yang diciptakan dalam gambar menurut rupa Allah. Seperti yang ditegaskan oleh David Atkinson dengan melihat ini dalam rangka kedudukan selaku manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, yaitu selaku wakil Allah di atas bumi.”[55] Pasal 2 menggambarkan bagaimana manusia sebagai pengelola yang memelihara dan melindungi Taman Allah. Jadi kekuasaan diberikan kepada manusia sebagai yang mewakili Allah yang bertugas memelihara ciptaan Pencipta-nya. Kekuasaan itu bukan keleluasaan seorang lalim mengeksploitasi bumi, melainkan penatalayanan seorang pengelola yang bertanggung jawab, yang mengakui bahwa segala sesuatu memperoleh keberadaannya dari tangan Allah dan yang ingin membantu agar segala sesuatu berkembang sebagaimana mestinya menurut kehendak Allah.

III Kesimpulan dan Implikasi Bagi Orang Percaya Masa Kini

A.    Kesimpulan
Penciptaan manusia adalah penciptaan yang sangat istimewa. Dikatakan istimewa karena penciptaan manusia adalah puncak atau klimaks dari segala penciptaan yang Allah lakukan. Allah menciptakan manusia paling akhir dengan maksud yang khusus, sebab segala mahkluk dan lingkungannya disediakan terlebih dahulu bagi manusia. Allah yang menciptakan manusia adalah Allah yang bereksistensi. Oleh sebab itu dalam menciptakan manusia Allah melakukan pertimbangan-pertimbangan yang khusus dan agung. Berbeda dengan pada waktu Allah menciptakan ciptaan-ciptaan lain yang hanya dengan berfirman. Penciptaan yang didahului oleh pertimbangan Allah yang agung ini tidak menghilangkan dasarnya, di mana dasar penciptaan manusia tetap merupakan penciptaan materi.
Allah menciptakan manusia ‘dalam gambar menurut rupa-Nya’ supaya manusia dapat mengenal Allah dengan memerintah atas bumi. Hubungan di antara manusia dan Allah berbeda dengan mahkluk-mahkluk lain. Manusia diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Ef. 4:24). Menjadi gambar Allah adalah menjadi wakil Allah di dunia ini. Ini bukan semata-mata hak istimewa (privilese) melainkan juga tanggung jawab. Semakin besar hak diberikan, semakin berat pula kewajibannya. Menjadi gambar Allah bukan hanya memiliki sejumlah potensi Ilahi, tetapi bagaimana mewujudkan potensi itu bagi kemuliaan Allah. Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya supaya manusia bisa mengelola dunia dan segala isinya ini untuk kemuliaan Allah. Kata-kata yang digunakan untuk menyatakan tugas manusia itu, "berkuasa", "taklukkanlah" adalah kata-kata yang lazim digunakan dalam konteks kekuasaan seorang raja.
Setelah penciptaan manusia, Allah memberkati semua aspek kehidupan sehingga ciptaan bisa bertumbuh kembang dengan baik. Berkat merupakan kelanjutan dari karya Allah yang telah rampung dalam penciptaan. Selanjutnya manusia diberi mandat oleh Pencipta dan Penguasa alam semesta untuk menguasai dan menaklukkan alam, menjalankan kekuasaan terbatas yang didapatnya dari Allah. Dan semua usaha itu harus mendatangkan kesejahteraan bagi semua orang.  Allah memberi tugas kepada manusia untuk berkuasa dan memerintah atas segala sesuatu yang diciptakan-Nya.

B.     Implikasi
Penciptaan dirayakan dalam ibadah Israel sebagai refleksi iman Israel bahwa kelangsungan hidup dunia ciptaan dipertahankan berkat pemeliharaan dan pengawasan Allah berhadapan dengan kekuatan-kekuatan lain yang selalu siap menghancurkan. Tanpa tindakan penciptaan tidak ada kehidupan seperti sekarang ini.[56]
Allah yang menciptakan manusia adalah Allah Pencipta segala sesuatu, dan yang telah menciptakan alam raya dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya ini baik adanya (Kej. 1:31, band. I Tim. 4:4). Itu sebabnya seluruh ciptaan Allah dalam segala keindahan dan keagungannya memancarkan kebesaran dan kemuliaan Sang Pencipta (Mzm. 19). Karena Allah adalah Pencipta maka Allah adalah pemilik yang berdaulat atas seluruh ciptaan-Nya (Mzm. 24). Ini berarti manusia bukan pemilik bumi dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Manusia yang diciptakan dalam gambar rupa Allah, dengan keunggulan dan dominasi manusia atas ciptaan lain akan menjadikan peran manusia hanya sebagai wali atau duta dari Tuhan sendiri atas ciptaan. Manusia yang diciptakan sebagai bagian dari seluruh ciptaan sekaligus sebagai penatalayan ciptaan Allah yang lain, ditugaskan untuk memakai dan memelihara bumi atau ciptaan lain (Kej. 2:15).  
Aspek khusus dari penciptaan manusia sebagai gambar/rupa Allah dinampakkan dalam tugas memelihara dan menjaga ciptaan seperti Allah melihara ciptaan-Nya. Sebagai ciptaan yang mulia di antara ciptaan-ciptaan yang lain seyogianya tidak menjadikan manusia sebagai manusia yang arogan dan menyombongkan diri, sebaliknya akan bersyukur kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Manusia yang sadar akan siapa yang menciptakannya mestinya akan tetap mengingat Sang Pencipta, sebagaimana yang ditegaskan oleh Pengkhotbah 12:1-8, “Ingatlah akan Penciptamu.”
Gambar Allah pada manusia tidak hanya ditemukan di dalam diri, melalui kapasitas mental dan rohani, tetapi juga di luar, melalui tindakan penatalayanannya atas alam dan kehidupannya. Walaupun setelah manusia melakukan dosa relasi antara Allah dan manusia menjadi rusak dan putus. Secara rohani manusia telah rusak karena telah terpisah dari Allah tetapi aspek dari gambar  dalam rupa Allah seperti berkuasa untuk memerintah dan menaklukan bumi tidak hilang. Atau dengan keadaan yang telah berdosa tersebut tidak menghilangkan gambar Allah yang ada di dalam diri manusia. Dengan kata lain, manusia yang telah jatuh ke dalam dosa tetap menyandang gambar Allah.[57] Maka sebagai penyandang gambar Allah, baik dalam keadaan sebelum kejatuhan maupun setelah jatuh ke dalam dosa, manusia tetap menjadi mitra Allah dalam menatalayan dan memelihara ciptaan yang lain. Ini berarti tugas menatalayan dan memelihara ciptaan yang Allah berikan sebagai tugas dan tanggung jawab manusia secara universal dan juga secara individu.
 Memang dampak dari dosa telah menyebabkan gambar Allah dalam diri manusia tidak berfungsi dengan benar. Manusia hidup bukan untuk kemuliaan Allah melainkan untuk kepentingan diri sendiri yang bersifat merusak dan menghancurkan. Akan tetapi tidak berarti bahwa manusia yang relasinya dengan Allah belum dipulihkan tidak mampu untuk menatalayan dan memelihara ciptaan. Mereka tetap memiliki kemampuan untuk melakukan penatalayanan dan memelihara ciptaan yang lain karena mereka tetap penyandang gambar Allah yang memiliki kemampuan untuk berkuasa dalam memerintah dan menundukkan bumi. Walaupun apa yang manusia lakukan di luar iman kepada Yesus Kristus dan tidak di dalam terang Roh Kudus tetap dipandang sebagai dosa, karena secara rohani hubungan mereka dengan Allah masih rusak. Hanya satu jalan untuk memperbaiki semua ini, yaitu dengan mengizinkan Allah memperbarui gambar-Nya di dalam diri manusia oleh karya penyelamatan Yesus.
Dengan memperhatikan kembali pertanyaan yang terdapat dalam latar belakang masalah, apakah dengan diberikannya kekuasaan kepada manusia untuk menaklukkan dan memerintah atas bumi dan ciptaan lain, menjadi dasar bagi manusia untuk mengeksploitasi bumi? Jawabannya, sekali-kali tidak. Dengan telah memperhatikan konteks dan makna kata yang ada, maka dengan diberikannya kekuasaan kepada manusia untuk menaklukkan dan memerintah atas bumi dan ciptaan lain, mestinya menjadikan manusia semakin bertanggung jawab dan bijaksana dalam menatalayan dan memelihara ciptaan. Menundukkan dan memerintah atas alam tidak berarti mengeksploitasi bumi melainkan suatu tindakkan mempelajari hukum-hukum alam, menyelidikinya, mengeksplorasinya.[58] Tindakkan untuk mempelajari hukum-hukum alam, menyelidiki, dan mengeksplorasinya bukan suatu pekerjaan yang ringan tetapi diperlukan keseriusan dan kekuatan manusia.  Bernette yang dikutif oleh Glen H. Stassen dan David P. Gushee dalam buku Etika Kerajaan menegaskan bahwa Allah menghendaki manusia menjadi piñatalayan bagi ciptaan-Nya, dan ia memperingatkan orang-orang Kristen terhadap krisis ciptaan yang berkembang dengan cepat.[59] Secara khusus orang percaya. Gereja selaku persekutuan orang-orang yang telah ditebus yang sekaligus menjadi tanda ciptaan baru dalam  Kristus (II Kor. 5:7), dipanggil oleh Allah untuk berperan dalam pembaruan ciptaan. Dengan dikuatkan oleh Roh Kudus, orang-orang Kristen dipanggil untuk bertobat dari penyalahgunaan dan perlakuan kejam terhadap alam. Gereja perlu merefleksikan apresiasi baru tentang ciptaan sebagai dasar dan dorongan bertanggung jawab terhadap seluruh ciptaan.
Selanjutnya untuk menjawab pertanyaan, apakah signifikansi dari kekuasaan untuk menaklukkan dan memerintah atas ciptaan lain? Dalam konteks pemeliharaan Allah, Ia menempatkan manusia pada posisi mitra. Manusia diikutsertakan dalam pemeliharaan-Nya atas dunia dengan jalan meneruskan penciptaan dalam kapasitasnya sebagai ko-pencipta. Dengan akal budi dan hati nuraninya, manusia dimungkinkan untuk mengembangkan dunia ciptaan, termasuk berlaku adil dan murah hati kepada mereka yang tertindas (Ams. 14:31; 22:2). Allah mengharapkan agar manusia mengabdikan segala sesuatu di bumi kepada-Nya dan mengelolanya untuk memuliakan Allah, sambil memenuhi maksud ilahi (band. Mzm. 8:7-9; Ibr 2:7-9). Maka dengan demikian dapat dipahami bahwa merusak lingkungan disamakan dengan tindakan dosa karena dipandang sebagai tindakan melawan kehendak pencipta. Sebaliknya, usaha atau tindakan menjaga dan memelihara lingkungan hidup dipahami sebagai kebajikan dan karena itu disebut sebagai suatu tindakan dalam melakukan mandat Sang Pencipta.  
Memelihara lingkungan adalah bagian dari misi Allah dalam mendatangkan Shalom Kerajaan Allah. Maka orang Kristen, secara sendiri-sendiri atau sebagai institusi, wajib menjaga dan memelihara lingkungan hidup. Ditinjau dari segi doktrin atau pemahaman iman Kristen, maka kepedulian terhadap lingkungan hidup tidak lagi perlu dipertanyakan. Barangkali yang menjadi persoalan adalah praktek dalam kehidupan sehari-hari setiap orang. Menurut pendapat penulis ada berbagai faktor yang menyebabkan masih kurangnya kepedulian terhadap krisis lingkungan hidup, antara lain: Keyakinan iman belum diimplementasikan dalam keseharian hidup. Agama masih bersifat seremoni atau baru pada tahap pengakuan iman. Semua orang mengetahui dan meyakini bahwa lingkungan hidup adalah anugerah Tuhan yang harus dipelihara, tetapi perilaku hidup sehari-hari tidak sejalan dengan pengetahuan dan keyakinan itu. Pengaruh yang sangat kuat dari semangat konsumerisme, materialisme dan hedonisme, sehingga masih lebih mengutamakan penikmatan hidup dan belum pada tahap penghargaan kehidupan secara utuh.
Dengan mengamati dan mengetahui bahwa betapa pentingnya mandat yang Allah berikan kepada manusia dalam menatalayan dan memelihara ciptaan, kiranya menjadikan gereja melalui hamba-hamba Tuhan untuk menjadikan suatu pengajaran yang tidak diabaikan melalui khotbah-khotbah. Hal tersebut untuk tetap mengingatkan dan menghimbau orang-orang Kristen supaya tetap menjaga keharmonisan ciptaan-ciptaan lain sebagai salah satu bentuk ketaatan kepada Allah sebagai Sang Pencipta.


Daftar Pustaka

Atkinson, David.,  Kejadian 1-11. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1998
Baker., Pengantar Bahasa Ibrani. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008
Berkhof, Louis., Teologi Sistematika 2 Doktrin Manusia. Surabaya: Momentum, 2009
Brown, Francis, S.R. Driver, dan Charles Briggs., Hebrew and English Lexicon of the Old Testament. New York: Houghton Mifflin, 1907
Carson, D. A., New bible commentary. USA: Intervarsity Press, 1994
Dyrness, William A., Agar Bumi Bersukacita Misi Holistis dalam Teologi Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004
Hoekema, Anthony A., Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah. Surabaya: Momentum, 2008
Karman,Yonky., Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009
Park, Yune Sun., Tafsiran Kitab Kejadian Jawa Timur: Departemen Literatur YPPII, 2002
Pfeiffer, Charles F. dan Everett F. Harrison (Editor)., Commentary Alkitab Wycliffe. Jakarta: Gandum Mas, 2007
Rad, Gerhard Von., Genesis. Rev. OTL. Philadelphia: Westminster, 1972
Sailhamer, John H., The Pentateuch As Narative. Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1992
Stassen Glen H. & David P. Gushee., Etika Kerajaan. Surabaya: Momentum, 2008
Wenham,Gordon J. Word Biblical Commentary Volume I. Waco,Texas: Word Books, Publisher, 1987
Vine, W.E., An Expository Dictionary of New Testament Words. Old Tappan, NJ: Revell, 1940; cetak ulang 1966






[1] David Atkinson, Kejadian 1-11 (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1998), hlm. 38
[2] Gordon J. Wenham, Word Biblical Commentary Volume I (Waco,Texas: Word Books, Publisher, 1987), hlm. 27
[3] Baker, Pengantar Bahasa Ibrani (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), hlm. 83
[4] Louis Berkhof, Teologi Sistematika 2 Doktrin Manusia (Surabaya: Momentum, 2009), hlm. 6
[5] D A Carson, New bible commentary (USA: Intervarsity Press, 1994), hlm. 61
[6] David Atkinson, Kejadian 1-11 (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1998), hlm. 45
[7] Charles F. Pfeiffer dan Everett F. Harrison (Editor), Commentary Alkitab Wycliffe (Jakarta: Gandum Mas, 2007), hlm. 29
[8] Anthony A. Hoekem, Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah (Surabaya: Momentum, 2008), hlm. 16-17
[9] Ibid, hlm. 17
[10] Louis Berkhof, hlm. 6
[11] Charles F. Pfeiffer dan Everett F. Harrison, Commentary Alkitab Wycliffe (Jakarta: Gandum Mas, 2007), hlm. 29
[12] Editor, Charles F. Pfeiffer dan Everett F. Harrison, hlm. 29
[13] Louis Berkhof, hlm. 6
[14] Anthony A. Hoekema, hlm. 17
[15] John H. Sailhamer, The Pentateuch As Narative (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1992) hlm. 94-95
[16] Gordon J. Wenham,…hlm. 32
[17] D.L. Baker, hlm. 103-104
[18] D. A. Carson, hlm. 61
[19] Yonky Karman, hal. 24
[20] Editor, Charles F. Pfeiffer dan Everett F. Harrison, Commentary Alkitab Wycliffe (Jakarta: Gandum Mas, 2007), hlm. 30
[21] D. A. Carson, hlm. 61
[22] Yonky Karman, Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), hlm. 45
[23] Gordon J. Wenham,…hlm. 32-33
[24] Op. Cit, hlm. 31
[25] Baker,...hlm. 82
[26] Perjanjian Lama versi Yunani, dihasilkan pada abad ke-3 SM.
[27] Alkitab terjemahan Latin disusun oleh Jerome dari tahun 382 sampai 404
[28] Anthony A. Hoekema,…hlm. 17
[29] Anthony A. Hoekema, hlm. 18
[30] Anthony A. Hoekema, hlm. 18
[31] David Atkinson, hlm. 41
[32] Yonky Karman, hlm. 50
[33] William A. Dyrness, Agar Bumi Bersukacita Misi Holistis dalam Teologi Alkitab (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), hlm. 35
[34] D A Carson, hlm. 61
[35] David Atkoinson, hlm. 42
[36] Yanky Karman, hlm. 50
[37] Yune Sun Park, Tafsiran Kitab Kejadian (Jawa Timur: Departemen Literatur YPPII, 2002), hlm. 15
[38] Gordon J. Wenham, hlm. 31
[39] David Atkinson, hlm. 42-43
[40] Francis Brown, S.R. Driver, dan Charles Briggs, Hebrew and English Lexicon of the Old Testament (New York: Houghton Mifflin, 1907), hlm. 853
[41] Anthony A. Hoekema, hlm. 18
[42] Gerhard Von Rad, Genesis. Rev. OTL (Philadelphia: Westminster, 1972), hlm. 60
[43] Francis Brown, hlm. 197-198
[44] Anthony A. Hoekema, hlm. 18
[45] Anthony A. Hoekema, hlm 18
[46] Yonky Karman, hlm. 51
[47] Anthony A. Hoekema, hlm. 18
[48] Anthony A. Hoekema, hlm. 19
[49] Ibid, hlm. 19
[50] Ibid, hlm. 19
[51] W.E. Vine, An Expository Dictionary of New Testament Words (Old Tappan, NJ: Revell, 1940; cetak ulang 1966), hlm. 247
[52] Anthony A. Hoekema, hlm. 28
[53] Yonky Karman, hlm. 51
[54] Yonky Karman, hlm. 51
[55] David Atkinson, hlm. 40
[56] Yonky Karman, hlm. 30
[57] Anthony A. Hoekema, hlm. 25
[58] Yonky Karman, hlm. 51
[59] Glen H. Stassen & David P. Gushee, Etika Kerajaan (Surabaya: Momentum, 2008), hlm. 560

1 komentar:

  1. terimakasih buat saudara Netsen.
    mohon izin saya kutip sebaian sebagai referensi tugas Pasca saya di STT Sola Gratia.!
    semoga tulisan ini dapat memberkati para pembaca.
    TUHAN memberkati.!!!

    BalasHapus