Kamis, 15 Juli 2021

BERUSAHALAH, JANGAN MENYERAH

 


Berusahalah, Jangan Menyerah

Salah satu tanda kehidupan adalah adanya usaha dan perjuangan. Sebatang pohon yang hidup maka akarnya akan terus bergerak berjuang untuk mencari makanan walaupun ada tantangan keras seperti tanah yang liat dan batu kerikil yang di hadapinya. Namun akar tidak menyerah, berhenti dan putus asa. Ia akan berusaha mencari celah yang bisa dilalui. Bahkan rela membelok kerarah yang berbeda demi mempertahankan hidup. Bagaimana dengan kita manusia? Apakah kita menyerah dan putus asa dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup yang ada. Apakah jalan kita sudah buntu? Apakah tidak ada sedikit celah yang ada untuk kita berusaha dan berjuang mempertahankan hidup? Kita perlu berusaha. Berusaha bagaimana? Mengapa kita perlu berusaha? Paulus menuliskan; Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya, 2 Korintus 5:9.

Apakah kita sungguh-sungguh percaya bahwa Kristus adalah Raja kita? Ini menjadi panggilan untuk melayani dengan setia dan beriman kepada Kristus yang telah menyelamatkan kita dari belenggu Iblis. Ia telah menghancurkan kuasa Iblis atas kita dan sanggup melindungi kita dari murka Allah. Singkat kata, siapakah yang berhak atas kita selain Kristus? Ia telah menyerahkan nyawa-Nya demi menebus kita dan melepaskan kita dari semua musuh sehingga kita dapat melayani Dia dalam kekudusan tanpa ketakutan sepanjang hidup kita. Biarkanlah Iblis dan manusia melakukan pekerjaan kefasikan, tetapi bukan tangan kita, oh orang percaya!

Jika darah kesetiaan mengalir dalam pembuluh kita, hati kita yang sudah dimenangkan akan menghantam kita ketika kita melanggar bahkan sisi yang paling remeh dari hukum-Nya yang kudus. kita laksana membawa bara api di pangkuan jika hati kita menyembunyikan pengkhianatan melawan Allah yang berdaulat. Tidak, sebaliknya milikilah hasrat untuk meninggikan nama Kristus dan menjadi alat Allah bagi generasi kita. kita bukanlah seorang bawahan yang baik jika hanya mencari keuntungan dari Sang Raja, tetapi tidak pernah memikirkan pelayanan apa yang dapat dipersembahkan. Kita bukan seorang Kristen sejati jika lebih memikirkan kebahagiaan sendiri dibandingkan kehormatan Allah. Paulus bersedia menderita demi kemajuan Injil, dan sabar menunggu upah yang akan diterimanya belakangan. Inilah yang membuat hidup layak dijalani, melayani Allah sebagai bukti penghargaan kita akan kasih-Nya yang menebus.

Wahai orang percaya, karena Ia telah menyelamatkan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam kerajaan Anak-Nya yang terkasih, janganlah membuang waktu: apa yang kita rindu lakukan bagi Allah, lakukanlah dengan segera! Bekerjalah dengan gigih bergairah! Jika pedang Raja baru kita ada di tangan kita, pakailah dan gunakan dengan saksama, sehingga ketika kita mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah, sarung pedang kita tidak kedapatan berkarat, yang diakibatkan oleh sikap malas dan pengecut. Jadilah setia, kerjakanlah tugas kita dan bekerjalah keras, karena kita adalah duta Allah dan akan memandang wajah-Nya dengan sukacita. Amin.

Selasa, 13 Juli 2021

PERJUANGAN HIDUP YANG SEJATI

Perjuangan hidup


Selama kehidupan kita masih berlangsung di dalam dunia, maka perjuangan hidup kita akan tetap ada. Baik itu perjuangan untuk melawan sakit-penyakit, perjuangan melawan kesulitan ekonomi, berjuang melawan ketidakadilan, serta segala kejahatan lainya, termasuk berjuang melawan keingingan daging dalam diri.

Dunia dimana kita tinggal adalah dunia yang sudah rusak oleh karena keberdosaan manusia. Karena itu, sebagai orang percaya, kita dipanggil dan diutus ke dalam dunia untuk memberitakan berita pertobatan, menyatakan kasih Allah, menjadi saksi-Nya, memberitakan Injil kepada orang yang belum percaya seraya memohon belas kasihan Tuhan kiranya Roh Kudus menuntun orang yang mendengar Injil percaya dan menerima Tuhan Yesus Kristus dan diselamatkan. Dengan kata lain bahwa kita hadir di dalam dunia untuk mendemonstrasikan kasih Allah, sekaligus sedang bertarung dan berjuang. Dunia ini merupakan arena untuk memproklamirkan kasih Allah sekaligus sebagai arena pertarungan juga bagi kita. Surat rasul Paulus kepada orang percaya di Efesus memberikan kepada kita gambaran perjuangan hidup yang dihadapi oleh orang percaya.

 Apa yang orang percaya harus lawan? Rasul Paulus menuliskan; Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara (Efesus 6:12).

Dari apa yang Paulus tuliskan, seorang bernama William Gurnall dalam perenungannya menyampaikan bahwa keadaan kehidupan orang Kristen di dunia ini digambarkan sebagai pertarungan. Ini pertarungan tersendiri, satu lawan satu. Karena kehidupan Kristen merupakan pertempuran yang berkesinambungan, maka ia membutuhkan pedang sekaligus juga sekop. Orang percaya diserang musuh dari segala arah. Ketika ia sedang berdoa, Iblis dan kedagingan juga berceloteh untuk menenggelamkan suara permoronannya. Basuhlah jiwa kita dengan sering merenungkan kasih Kristus, hal ini akan membuat kita tidak menggubris tawaran dosa. Jangan katakan kita mengasihi Dia selama kita masih dapat memangku bahkan memeluk dosa yang menusuk hati-Nya. Adalah janggal jika seorang anak menyimpan dan suka menggunakan pisau yang pernah dipakai orang untuk menikam ayahnya, dan bukannya pisau lain. Sebagai pegulat yang arif, seranglah musuh kita dengan segenap kekuatan tubuh kita. Jangan biarkan dia bernafas atau bangkit lagi.

Status kehidupan beranugerah hanya memulai pertarungan kita melawan dosa. Oh, seharusnya hal ini membuat kita merindukan rumah kita, di mana tidak ada huru-hara maupun keributan yang membabi buta: di mana tidak ada pedang, melainkan daun palem: bukan genderang, tetapi harpa, bukan rintihan tentara yang berdarah dan nurani yang terluka: melainkan suara musik pujian indah dan menakjubkan bagi Allah kita dan Sang Anak Domba. Hiburkanlah diri kita dengan hal-hal ini. Ada tempat perhentian bagi umat Allah di sana. Di dunia ini, kita menang untuk selanjutnya bertarung kembali. Pertarungan melawan satu godaan mungkin berlalu, tetapi peperangan masih terus berlangsung. Kedamaian seperti apa yang dapat kita miliki selama setan-setan dapat tiba-tiba muncul dari lubang persembunyian mereka? Tetapi apabila kematian datang, hantaman terakhir dihentikan. Tabib Agung akan memulihkan secara sempurna semua kebutaan dan ketimpangan rohani kita.

Wahai, orang percaya, apa yang merampas kesukacitaan hidup kita selain pertarungan? Bukankah hidup adalah anugerah untuk melayani dan kematian adalah keuntungan? Kedamaian menjadi indah setelah peperangan, dan lidah siapakah yang sanggup mengungkapkan kesukaan dan kemuliaan yang memenuhi para makhluk saat perjumpaan pertama mereka dengan Allah dan mereka yang berbahagia bersama-sama dengan-Nya. Tak seorang pun kecuali mereka yang menetap di sana mampu mengungkapkannya. Karena itu selama Tuhan mempercayakan hidup kepada kita untuk bertarung melawan dosa, bertarunglah dengan menggunakan seluruh perlengkapan senjata Allah, yaitu kebenaran-Nya serta memohon kekuatan dan pertolongan Roh Kudus. Karena hanya oleh Dialah kita dimampukan untuk memperoleh kemenangan. Selamat berjuang, Tuhan memberkati dan menolong kita.


Minggu, 11 Juli 2021

PERKATAAN DAN TINDAKAN

  

Dalam kehidupan sehari-hari yang kita jumpai atau kita jalani beragam tipe manusia. Pertama, ada yang banyak dan fasih dalam berbicara tetapi kurang dalam tindakan atau mungkin juga tidak ada tindakan sama sekali. Kedua ada tipe orang yang sedikit berbicara tetapi kaya dalam tindakannya. Tipe yang ketiga adalah, ada orang yang balance dalam perkataan dan tindakan. Dalam hal ini apa yang dikatakannya itulah yang dilakukannya. Hidup seseorang bukan saja tentang apa yang dikatakannya, tetapi apa yang dilakukannya? Bagaimana seseorang melakukan sesuatu? Itu manusia. Bagaimana dengan Allah? Mari melihat apa yang ditulis oleh seorang pemazmur; Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi, Dia memberi perintah, maka semuanya ada (Mazmur 33:9).

Apa yang diucapkan Allah adalah tindakan-Nya sekaligus. Semua janji-Nya merupakan satu kesatuan dengan penggenapannya. Ia sungguh berkehendak untuk menggenapi Firman-Nya sesuai dengan apa yang dijanjikan-Nya. Tidak ada jarak antara kata dan tindakan-Nya, tidak seperti manusia. Perkataan dan tindakan Allah adalah satu kesatuan. Pertimbangan ini langsung menyingkirkan hambatan utama iman. Bukankah hal ini yang melemahkan keyakinan kita akan janji-janji Allah? Bukankah kita menganggap penggenapan janji-janji Allah sebagai tidak pasti dan sulit, atau di masa mendatang dan masih sangat lama? Jika kita mampu memandang penggenapan sepasti janji-Nya, iman dapat menyimpulkan bahwa penggenapan janji-janji Allah adalah pasti, mudah, dan terjadi pada saat ini.

Akar semua kepastian adalah kehendak Allah. Jika Ia berkehendak untuk menjanjikan, la juga berkehendak untuk menggenapi. Bagi Allah, kedua hal ini sama. Orang percaya memiliki hak yang tidak perlu dipertanyakan terhadap semua hal yang dijanjikan Allah. Semua janji itu diwariskan kepada orang percaya melalui kehendak kekal Sang Bapa, dan telah lunas dibayar oleh darah Kristus yang mahal. Seluruh esensi Allah yang mulia terlibat demi penggenapan setiap janji-Nya. la akan berhenti menjadi Allah jika gagal menggenapi janji-Nya yang mana pun. Karena Ia bukan Allah jika la bukan Yang Paling Sempurna. Seandainya Ia tidak menggenapi janji-janji-Nya, hal ini akan menyingkirkan Dia sebagai yang mutlak sempurna.

Jika Ia tidak menggenapi janji-janji-Nya, Ia dapat dikatakan tidak memiliki kehendak, atau kemampuan. Artinya: Ia memiliki kekurangan, baik dalam hal kuasa maupun hikmat. Jika la tidak pernah berkehendak untuk menggenapi, lalu bagaimana la dapat dianggap benar? Jika la pernah berkehendak, tetapi sekarang berubah pikiran, bagaimana Ia dapat disebut Allah Yang Mustahil Berubah? Jika la bukan Yang Mustahil Berubah, Ia tidak kekal. Sepasti Ia adalah Allah, la akan mewujudkan janji-janji-Nya. Kita sama saja mengatakan tidak ada Allah bila meragukan penggenapan atas janji-janji-Nya. Kemuliaan keberadaan-Nya dipertaruhkan di sini. Ia tidak kehilangan apa pun jika la menggenapi janji-janji-Nya, tetapi jika tidak, la akan kehilangan segalanya. Ia melibatkan diri-Nya tatkala la menerapkan Firman-Nya. Manusia dapat tetap sebagai manusia meskipun tidak setia, sebaliknya Allah tidak dapat tetap sebagai Allah apabila Dia tidak setia: Ia tidak dapat menyangkal Diri-Nya sendiri.

Betapa bersyukurnya kita memiliki Allah yang telah beranugerah kepada kita dalam Tuhan Yesus Kristus. Dia tidak pernah melalaikan firman-Nya. Allah yang kita sembah dalam Tuhan Yesus Kristus adalah Allah yang menggeanpi seluruh firman-Nya, bagi kita yang dikasihi dan mengasihi-Nya. Karena itu jangan pernah ragu akan kebenaran firman Allah. Tuhan menolong dan memberkati kita dalam melakukan kehendak-Nya. Amin

 

HAL YANG BERHAGA BAGI KITA

 

Dalam kehidupan kita apa yang berharga? Bagi sebagian orang mungkin akan berkata, keluargalah yang berharga. Mungkin juga ada yang berpendapat bahwa kesehatan, atau yang lain mungkin akan berkata bahwa karier (pekerjaan). Tapi mungkin juga ada yang menganggap bahwa harta, entah itu uang, deposito (tabungan). Barangkali ada yang berpikir mungkin yang dianggap berharga adalah teman, follower, fans. Barangkali masih banyak yang lainnya yang dianggap berharga bagi kehidupan ini. Apakah itu semua cukup? Tidak. apakah masih ada hal lain yang paling berharga bagi kita? Ada. Apakah itu? yaitu janji-janji yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada kita. Kita memiliki janji-janji dari Allah. kita hidup dalam janji-janji Allah. Janji-janji Allah yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita sangat berharga dan sangat besar. Rasul Petrus berkata; Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar (2 Petrus 1:4).

Di dalam sebuah perenungannya, David Clarkson menuliskan bahwa dengan iman orang percaya dapat mengambil penghiburan dari suatu janji dari kebanyakan ayat Alkitab. Tak terhitung banyaknya jenis dan janji tersirat yang dapat kita terapkan. Iman hidup di dalam kekuatan janji. Iman berbincang dengan Allah berdasarkan janji-janji Allah dengan penalaran yang kudus. Sebuah janji yang telah diberikan Allah kepada orang lain dapat diterapkan secara khusus kepada kita jika tidak terdapat alasan tertentu yang membatasinya. Bermacam-macam simbol atau kejadian dapat diterapkan secara pribadi sebagai janji-janji: manna dari sorga sebagai nutrisi rohani dari Kristus. Janji-janji untuk hal-hal lahiriah dapat diaplikasikan secara rohani, demikian sebaliknya.

Barangkali tidak semua kita menyetujui pandagan yang disampaikan oleh David Clarkson tersebut. Sebab menurut Clarkson “Jika Allah mengaruniakan makanan jasmaniah kepada orang yang dikasihiNya, masakan la membiarkan jiwa kelaparan? Masakan Ia yang melepaskan jiwa dari kematian tidak menyediakan sedikit sekam dari dunia?" Orang percaya tidak seharusnya ragu-ragu untuk memohon janji-janji bersyarat meskipun ia hanya sedikit memenuhi syaratnya. Anugerah mungkin belum berbentuk kobaran api, tetapi sudah mulai berasap. Anda mungkin belum tumbuh setinggi pohon aras, tetapi Kristus berkenan pada buluh yang terkulai. Tidak seharusnya kita berkecil hati “memohon” janji-janji Allah. la menawarkannya dengan kondisi harga terjangkau. Memercayai Allah lebih disambut oleh-Nya dan memberikan hak yang lebih jelas atas janji tersebut dibandingkan dengan persyaratan yang menyertainya. Memenuhi persyaratan tidak serta-merta mewujudkan janji jika tanpa iman. Jika orang percaya membawa serta iman ke atas sebuah janji, maka mereka membawa apa yang paling menyenangkan Allah.

Memohon satu janji membuat orang percaya berhasrat atas semua janji Allah. Tindakan awal iman mengaruniakan mereka hasrat kepada Kristus, dan semua orang yang memiliki Kristus, memiliki segalanya. Orang percaya berhak atas semua janji Allah, dan dapat dengan yakin menerapkan semuanya. Orang percaya ada dalam pemikiran Allah tatkala Dia merancang janji itu. Alangkah membesarkan hati! Bertindak dan hiduplah di dalam iman, dan ingatlah bahwa Anda ada di dalam pemikiran Allah dan di depan mata-Nya tatkala Dia berjanji.

Yang menjadi problem bukan pada janji-janji Allah, hati manusia. problemnya ada dalam kehidupan orang percaya adalah ada yang hanya mau memohon dan menerima janji-janji Allah. Bahkan ada yang mengklaim janji-janji Allah. Tetap abai untuk hidup dalam ketaatan dan kesetiaan kepada kehendak Allah. Sekiranya kita hidup dalam ketaatan dan kesetiaan kepada Allah maka kita tidak perlu ragu dengan janji-janji Alah. Karena Allah adalah Allah yang setia dan adil. Betapa bersyukurnya kita memiliki janji-janji Allah yang berharga dan besar bagi kehidupan kita. Betapa bersyukurnya kita menjadi orang yang diperekenan oleh Allah untuk menerima janji-janjinya yang berharga dan besar. Satu hal yang seyogyanya kita ingat sebagai orang yang diberi anugerah oleh Allah untuk menerima janji-janjinya yang berharga, yaitu hidup taat dan setia melayani Dia. Amin

Sabtu, 10 Juli 2021

SUKACITA KETIKA MENDERITA

 

Mendekati kebaikan dan menjauhi penderitaan, barangkali itu yang ada dalam pemikiran dan keinginan manusia. Mengapa? Karena penderita identik dengan ketidaknyamanan, kesatikan, ketidakberdayaan, kemiskinan dan lain-lain. Menderita sesuatu yang tidak menyenangkan. Bagi manusia tidak ada sukacita ketika hidup mengalami penderitaan. Tetapi Alkitab memberikan pemikiran yang berberbeda dari apa yang manusia umumnya pikirkan. Bagi kehidupan orang percaya, bersukacita bukan hanya ketika hidup tidak mengalami penderitaan. Bersukacita dapat dirasakan ketika hidup sedang mengalami suatu penderitaan. Penderitaan tidak bisa dihindari oleh manusia. Bahkan setiap manusia memilki bagian penmderitaannya masing-masing, termasuk bagi orang percaya. Apa yang dikatakan oleh rasul Petrus; “Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.”1 Petrus 4:13

Bagaimana penderitaan bagi kehidupan orang percaya? Bagaimana orang percaya ketika mereka menderita? Mengapa orang percaya menderita? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering muncul dalam pikiran sebagian orang Kristen.  Seorang Puritan, Thomas Case, menuliskan berikut ini. Penderitaan kita sendiri memberikan sebagian pencerahan tentang penderitaan Yesus Kristus. Di masa kemakmuran, kita mengabaikan salib. Cerita tentang kesengsaraan Kristus membawa hati kita kepada-Nya, tetapi rasa haru dan kesedihan cepat berlalu. Tetapi jika Allah menimpakan penyakit pada tubuh kita, membuat nyeri tulang-tulang kita, dan demam membakar kita, kaki lecet-lecet di balik kasut, dan jiwa kita tertikam pisau, maka kita akan memandang Dia yang mereka tikam dan mengatakan: “Jika serpihan salib yang saya rasakan sedemikian berat, betapakah berat salib (Kristus) yang sesungguhnya? Jika rasa sakit tubuhku demikian pahit, alangkah menyesakkannya penderitaan yang dipikul Tuhan Yesus di dalam jiwa-Nya?

Jika kemarahan manusia begitu menusuk hati, bagaimanakah jadinya murka Allah? Bukankah begitu pedih hati kita tatkala ditinggalkan para sahabat? Lalu seperti apakah rasanya bagi Anak Allah yang dikasihi, ditinggalkan oleh Bapa-Nya? Apakah belenggu begitu berat, penjara begitu menjijikkan, dan hukuman mati demikian mengerikan? Aduh, bagaimana rasanya bagi Dia, Pencipta langit dan bumi, dibelenggu, diejek, ditindas, diludahi, dipukul, dicerca, dilempar ke penjara, didakwa, dihukum, dan dihukum mati dengan cara yang paling memalukan dan terkutuk! Oh, untuk apa Dia menanggung semua perlawanan manusia berdosa, kegusaran setan, dan murka Allah, sambil berteriak keras: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” la tidak melakukan satu pun kejahatan, tipu tidak pernah keluar dari mulut-Nya.

Terpujilah Allah, penjaraku bukanlah neraka, kebakaranku bukanlah oleh api tak terpadamkan, cawan minumanku tidak diisi oleh murka (Allah), dan aku dilepaskan dari murka yang akan datang! Dengan keikutsertaan kita menanggung sisa-sisa serpihan salib, yang diwariskan kepada kita sebagai pusaka, kita dapat sedikit memahami penderitaan Kristus, atau setidaknya melalui penderitaan kita yang sangat tidak sebanding dengan penderitaan-Nya, kita mampu menduga-duga penderitaan-Nya yang tidak mampu kita pahami sepenuhnya. Tuhan menolong, memimpin dan menguatkan ketika kita sedang mengalami penderitaan. 

Minggu, 04 Juli 2021

BELAJAR MENCUKUPKAN DIRI

Belajar mencukupkan diri         


Rasa tidak cukup, tidak puas dan ingin lebih. Itulah gambaran hati manusia berdosa. Merasa tidak pernah cukup mengakibatnya manusia menjadi serakah, mengekspoitasi, menindas, menjarah, mencuri, korupsi hingga tega membunuh sesama bahkan keluarga demi mencapai keinginannya. Tidak pernah puas dan tidak merasa cukup juga membuat manusia sulit untuk berbagi dengan sesamanya, karena hidup hanya berpusat pada diri. Manusia akan menjadi egois dan krisis cinta kasih. Tidak pernah merasa puas dan selalu merasa kurang membuat manusia tidak bersukacita, kalau pun ada sukacita, maka sukacitanya adalah sukacita yang semu. Orang yang merasa selalu kurang dan tidak pernah merasa cukup akan sulit untuk mengucap syukur atas pemeliharaan Tuhan dalam kehidupannya. Kemampuan dan perasaan merasa cukup bukan tindakan instan dalam diri seseorang tetapi suatu proses pembelajaran yang harus dilakukan.

        Sebagai orang percaya apakah kita masih diikat oleh hati dan sikap hidup yang tidak pernah merasa cukup? Atau kita sudah belajar untuk mencukupkan diri dengan segala yang Tuhan telah berikan kepada kita? Belajar mencukupkan diri berarti menyangkut suatu pengendalian atas diri. Itulah yang dilakukan oleh rasul Paulus ketika ia berkata; Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan (Filipi 4:11).

Mengutip dari pandangan seorang puritan bernama Thomas Lye, ada karang-karang dan rawa pasir hisap yang harus dihindari secara maksimal oleh iman: Waspadailah kekhawatiran yang merusak (Flp. 4:6). Kekhawatiran yang merusak adalah kekhawatiran yang membuat seseorang meragukan pemeliharaan Tuhan atas hidupnya. Allah yang memberi makan burung pipit akan mencukupi kebutuhan kita. Hati-hati terhadap nasihat duniawi, dan jangan mengandalkan manusia atau bantuan yang bersifat kedagingan. Mencari kelepasan dengan melawan hukum dapat disamakan dengan memancing menggunakan kail emas tetapi hanya berhasil menangkap bangkai ikan, tubuh mungkin terpelihara, tetapi membinasakan jiwa.

Jangan membatasi Yang Kudus dari Israel dengan satu cara kelepasan belaka. Naaman menginginkan Nabi Elisa menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit (kusta) itu untuk menyembuhkannya. Namun Elisa memerintahkan kepadanya untuk pergi ke sungai Yordan, dan mandi tujuh kali di sana (2Raj. 5:10-11). Awasi ketidaksabaran yang menimbulkan sungut-sungut, keluh kesah, dan perbantahan melawan pengaturan Allah. Inilah batu besar yang menjadi sandungan Yunus yang malang: kemarahannya yang begitu besar karena pohon jarak yang mengering. Jangan meragukan kasih Allah ketika menderita. Hati Allah tidak dapat kita pahami sepenuhnya. Diperlukan iman untuk taat pada pemeliharaan Allah.

 Iman kerap kali justru menemukan kasih di hati Allah meskipun yang terlihat di keningNya kernyitan belaka. Batu pemberat iman bergerak dalam aliran arus yang berbeda. Iman mengalir dalam arus rasa cukup (Flp. 4:11) dan kerendahan hati. Kerendahan hati menenangkan jiwa dan membuatnya selamat menunggangi badai. Kesombongan membengkakkan hati dan menyebabkan hati tidak sanggup menahan beban sekecil apa pun. Iman juga mengalir dalam arus pemikiran sorgawi. Iman mengecap dan mengarahkan afeksinya pada perkara yang di atas. Iman yang dipengaruhi oleh pemikiran sorgawi, terbang tinggi dan mampu memandang melampaui bintang-bintang. Iman memandang pada "tangan sorga” dalam semua peristiwa hidupnya. Iman memandang melampaui hingga menjangkau isi hati Allah. “Allah yang mengambil,” kata Ayub. Allah senantiasa bertindak atas dasar kasih, yang mana tujuan akhir pengaturan-Nya senantiasa demi kebaikan para orang kudus-Nya. Iman berpusatkan pada kemuliaan di masa mendatang. Kristus menjalani salib menuju sorga: demikianlah seharusnya semua orang percaya. Pikullah salib hari ini, terimalah mahkota kehidupan di hari esok (Yak. 1:12). Mohonlah kekuatan dan pertolongan dari Allah untuk menjalani semuanya. Tuhan memberkati. Amin

Jumat, 02 Juli 2021

JANGAN PUTUS ASA SAAT SITUASI HIDUP YANG BERAT

          Dalam zaman kepemerintahan raja Yosafat, bangsa Israel menghadapi peperangan melawan bani Moab dan bani Amon. Mereka bangsa yang besar, kuat dan punya pasukan yang banyak jika di bandingkan dengan orang Israel. Raja Yosafat menjadi takut. Apakah Yosafat akan menyerah, putus asa, dan takluk kepada musuhnya? Tidak. Yosafat mencari Tuhan. Ia berseru kepada Tuhan. Dia datang kepada Allah. Tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Salah satu kalimat yang ia ucapkan adalah “Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu” (2 Taw. 20:12).

Apa yang di hadapi oleh Yosafat merupakan gambaran hidup yang mungkin sedang kita hadapi, atau akan kita hadapi. Masalah kita begitu banyak dan sangat besar. Kita tidak tahu harus berbuat apa? Harus bertindak bagaimana? Tetapi ingat, kita punya Allah.

Masa kesesakan adalah masa yang tepat untuk mengandalkan Allah. Ketika tidak ada roti untuk dimakan, atau air untuk diminum, tetapi hanya ada kesesakan dan keterkejutan, inilah saatnya untuk tidak secara berlebihan berduka, menggerutu, tenggelam, patah semangat, putus asa, melainkan saat untuk mengandalkan Allah. Jika di kapal, nakhoda memerintahkan petugas kapal untuk melemparkan jangkar ke bawah (ke laut) supaya jangkar dapat terkait pada batu karang untuk menahan kapal agar dapat bertahan dan tenang ketika ada ombak badai yang datang menerpa. Demikian juga seyogyanya kita orang percaya. Saat diserang badai, orang percaya harus melemparkan jangkarnya ke atas. Bukan ke bawah. Ke atas, kepada Allah, Dialah Batu Karang yang teguh tenpat jangkar kita terpaut. Kita melemparkan jangjar ke atas, Percaya dan mengandalkan Tuhan.

Menyerahkan hidup pada Tuhan, mengandalkan Dia merupakan obat penawar paling ampuh bagi kita untuk mendapat ketenangan hidup, melawan kelemahan, ketidakberdayaan, dan keterpurukan. Tatkala Tuhan mengijinkan beragam kesulitan hidup, ombak dan gelombang yang datang menerpa hidup kita, ada kedukaan, kesulitan ekonomi, pekerjaan dan sebagainya, tatkala la meremukan kita, tatkala panahNya menusuk kita, dan tekanan tangan-Nya yang menyakitkan, tatkala kita makan debu bagaikan roti dan minuman kita bercampur dengan tangisan, inilah saatnya untuk merangsang iman kita kembali ke tujuan sejati. Dalam situasi badai seperti ini, dudukkan iman di tempat pengemudi dan lindungi jiwa dari kekaraman.

Iman bergulat dengan Goliat penderitaan, dan sanggup mengalahkannya. Tatkala hati condong gagal, jiwa condong tak berdaya, iman mengambil “botol obat"-nya dan mengatur pemberian minuman penyegar iman. Di tengah semua badai, topan, dan prahara, ya, di tengah angin ribut kedukaan dan kesengsaraan, iman tahu bagaimana dan kapan melemparkan jangkar: “Janganlah gelisah hatimu: percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku" (Yoh. 14:1).

Iman adalah obat penawar ampuh dan penyembuh kita. menuntun kita kembali pada Allah. Iman memungkinkan kitaa tetap hidup di tengah kematian. Allah mempunyai sarana luar biasa untuk menanggulangi ketika sarana-sarana lain gagal. la mampu mengubah racun menjadi penawar ampuh, hambatan menjadi pendorong, dan penghancuran menjadi kelepasan. Burung gagak memberi makan Nabi Elia. Ikan besar Tuhan pakai menjadi kapal dan juga kaptennya Yunus. Tanpa sarana pun, Allah yang mahakuasa juga mampu berkarya. Bukankah begitu banyak kesaksian yang Alkitab berikan kepada kita ketika Allah membawa umat-Nya ke dalam situasi kebuntuan. Allah memberi manna kepada orang Israel untuk mereka makan. Memberi mereka minum dari bukit batu. Musa bersama dengan orang Israel digiring oleh Allah kepinggir laut Teberau. Yosua dan umat Israel digiring oleh Allah ke tepi sungai Yordan. Mengapa Ia melakukan itu? Ia melakukan ini agar mereka mengenal kesanggupan-Nya. Allah beserta dengan umatNya senantiasa, tetapi Ia paling ramah saat mereka paling terpuruk. Allah beserta dengan kita. Allah beserta dengan saudara. Bahkan Ia paling mengerti ketika engkau dan saya paling terpuruk dan jatuh ke tingkat yang paling terendah. Allah hadir di sana dan mengangkat kita memimpin kita untuk berjalan dalam kehendak-Nya, mencapai tujuan yang Dia sediakan bagi kita. Amin

 

 

Jakarta, 03 Juli 2021

Rabu, 30 Juni 2021

Allah Tempat Perteduhan

 Dalam surat kepada orang percaya di Efesus, Paulus dalam doanya menyampaikan akan kelimpahan kasih karunia Allah dalam Tuhan Yesus Kristus yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan…(Ef. 3:20)

Tangan Tuhan yang mahakuasa merupakan dasar yang kokoh dan tempat yang aman bagi tempat orang kudus menaruh kepercayaan mereka. Berbagai gambaran yang dipakai oleh Alkitab untuk menyatakan akan Allah Yang Mahakuasa. Ia mengukur langit dengan jengkal-Nya (Yes. 40:12). Ia jaya dan perkasa (Mzm. 24:8) dan dengan memberi perintah maka terciptalah dunia (Mzm. 33:9). la adalah El-Shaddai, Allah yang Maha kuasa (Kej. 17:1). Kuasa-Nya yang besar jauh melebihi kebutuhan kita, doa-doa kita, pemikiran, dan semua yang mungkin pernah kita perlukan, minta, atau bayangkan. Kita dapat meminta hal-hal besar dan membayangkan bahkan yang lebih besar lagi. Namun kuasa Allah jauh melampaui semuanya. Jika kita membuka mulut lebar-lebar, maka Ia akan membuatnya penuh (Mzm. 81:11).

Jika manusia membuat penyangga bagi dirinya, apakah penyangga tersebut memiliki kekuatan untuk menopang manusia? Sudah pasti tidak. Penyangga buatan manusia tidak mampu menahan bobot jiwa yang tidak fana. Penyangga buatan cenderung ambruk di bawah kita. Tetapi Allah yang mahakuasa adalah gunung batu. Orang yang membangun di atas dasar-Nya akan kokoh walaupun angin melanda dan badai menerjang (Mat. 7:25). Di atas gunung batu itu Abraham telah mendirikan imannya yang melampaui akal, yaitu iman yang transenden (Rm. 4:21) demikian juga dengan Daud. Ia mendirikan keyakinannya yang tak tergoyahkan di atas gunung batu yang kokoh, yaitu Allah.

Alasan dan dasar lain untuk mengandalkan Allah ialah di atas kemurahan dan kelimpahan-Nya serta kebaikan-Nya yang cuma-cuma, dan tak terbatas. Hati-Nya lembut dan tangan-Nya kuat. la tidak pernah kekurangan hasrat ataupun kemampuan untuk memberi kelegaan. “Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia” (Mzm. 103:13). Seorang ayah yang melihat anaknya kekurangan akan berusaha untuk menolong anaknya. Seorang ayah tidak akan berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa untuk menolong anaknya jika ia melihat anaknya mengalami kekurangan. Itulah ayah yang baik. Jika anaknya meminta ikan maka ayah yang baik tidak akan memberikan ular sebagai gantinya, jika anaknya meminta telur apakah ayahnya akan memberikan kala jengking? (Luk. 11:11-12). Allah adalah Bapa yang begitu mengasihi anak-anak-Nya. Ia Tuhan yang sangat mengasihi umat-Nya. Kasih-Nya melampaui batas yang dapat dipikirkan dan dimohonkan oleh umat-Nya.

Betapa baiknya Allah. Allah sungguh Allah yang baik. Dia sajalah “yang terbaik.” Kebaikan adalah sifat-Nya yang memikat dan merupakan kemuliaan-Nya. Musa meminta untuk melihat kemuliaan Allah dan ia melihat kebaikan-Nya (Kel. 33:8). Sekalipun kita tidak layak memohon apa pun kepada Allah, namun Ia berkenan memberikan apa yang Dia ingin berikan kepada kita menurut kerelaan dan kekayaan kasih karunia-Nya. Allah memberikan diri dalam Tuhan Yesus Kristus yang menyerahkan nyawanya, rela mati di kayu salib  untuk menebus kita dari hukuman murka Allah yang membinasakan. Yesus Kristus datang ke dalam dunia,  rela berdiam bersama dengan manusia untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita. Apakah kita masih ragu akan pemeliharaan Allah dalam Tuhan Yesus Kristus dan penyertaan Roh Kudus atas hidup kita? Kiranya tidak. Mari letakanlah hidup kita pada dasar yang kokoh, yaitu Allah sebagai gunung batu yang teguh. Dia adalah kekuatan dan hidup kita. Amin

Senin, 28 Juni 2021

Sandaran Hidup

            Apa yang menjadi objek andalan manusia? Apakah kesehatan? Atau kekuatan fisik? Usia yang masih muda? Otak yang pintar? Keluarga? Sahabat? Atau harta kekayaan? Apakah itu semua adalah akar dan pondasi untuk kita meletakan hidup? Jika ya, maka seberapa kuat semua hal tersebut untuk menjadi pondasi bagi kehidupan kita? Bagaimana dengan kita sebagai orang percaya. Apakah kita menjadikan semua itu sebagai objek andalan kita. Bukan.

Tuhan seharusnya menjadi objek tunggal andalan orang percaya. Di tengah pergumulan hidup, topan badai, kita harus datang kepada Gunung Batu ini sebagai tempat perlindungan (Yes. 26:4). Saat panas terik, pohon jarak Yunus terbukti tidak berarti; tidak ada tempat teduh yang menyamai naungan sayap-Nya (Mzm. 36:8). Pengandalan atau kepercayaan yang kudus merupakan satu tindakan lazim sekaligus istimewa, menyembah kepada Allah yang kudus. Tidak boleh ciptaan berbagian dalam hal ini, karena itu akan menjadi ilah atau allah palsu. Memercayai dan mengandalkan Allah merontokkan engsel-engsel kepercayaan kita kepada yang lain termasuk kepercayaan kita pada diri sendiri. Kita tidak dapat mengandalkan Allah sekaligus Mamon. Seharusnya hanya ada satu tali busur kepercayaan kita, dan itu adalah Tuhan. Secara lebih khusus, kita tidak boleh meletakkan andalan kudus kita kepada apa pun, baik yang berada di dalam maupun di luar kita, selain kepada Allah. Kita tidak dapat bersandar pada pengertian sendiri (Ams. 3:5). Meletakkan dan menaruh kepercayaan pada sesuatu yang bukan Allah hanya akan menuntun kita ke tempat berlumpur yang mematikan. Pada kesesatan yang semakin jauh dari pusat kehidupan dan semakin masuk dalam kegelapan yang tidak ada setitik pun sinar di sana.

Kita tidak dapat mengandaikan hati kita sendiri, karena hati kita terlalu licik (Yer. 17:9). Kita tidak dapat mengandalkan kekuatan fisik kita. Lengan yang paling berotot pun akan gagal sama sekali tatkala diserang kematian dan penyakit. Kaki yang sekarang berdiri kokoh laksana pilar tembaga segera akan tampak aslinya, pilar cetakan tanah liat yang rapuh. Kita tidak dapat mengandalkan keunggulan-keunggulan alami kita yang adalah pinjaman, semua ini adalah kesia-siaan. Tidak ada juga hal-hal di luar diri kita yang dapat kita andalkan, selain Allah. Mengandalkan apa pun yang merupakan bagian dari alam ciptaan ibarat memberi diri makan kerikil. Kita tidak boleh mengandalkan kekayaan yang melimpah, sekalipun dalam aliran paling lancar dan limpah, kekayaan adalah hal yang paling tidak menentu dan tidak akan berfaedah pada hari penghakiman. Harta kekayaan apapun tidak memiliki nilai yang stabil. Nilainya bisa berubah kapanpun. Harta kekayaan bisa hilang, entah karena diambil pencuri atau karena bencana seperti kebakaran, bencana alam dan lain sebagainya. Harta kekayaan berapapun banyaknya dan sebesar apapun nilainya tetap adalah benda mati. Dan itu bisa dicari, bisa dibeli. Karena itu jika kita percaya pada harta kekayaan untuk hidup maka kita akan sia-sia.

Orang yang mengandalkan kekayaan tidak pernah dapat mengharapkan warisan pusaka di sorga. Lebih muIah seekor unta masuk lubang jarum daripada seorang kaya memasuki gerbang kemuliaan sorga. Demikian juga jika mengandalkan manusia, yang tidak lain adalah buluh yang patah. Manusia hanyalah debu dan harapan-harapan kita lenyap bersama kematian. Ah, tetapi orang kudus mendapatkan dasar fondasi kokoh dengan mengandalkan Allah! Semua yang kita temukan di dalam Allah akan mengajarkan kepada kita untuk menempatkan kepercayaan kita di dalam Dia saja. Percayalah kepada Allah. Allah kita adalah tempat kita bersandar dengan aman. Karena itu Yesaya mendorong atau memerintahkan bahwa percaya pada Tuhan adalah selama-lamanya bukan hanya dalam situasi tertentu saja tetapi dalam setiap musim hidup kita. Percayalah pada Tuhan bukan hanya sesaat atau sementara, tetapi selama-lamanya. Amin

Minggu, 27 Juni 2021

Allah Punya Rencana Bagi Kita

Allah mempunyai rencana atas setiap kehidupan kita. Itu adalah suatu penghiburan yang perlu kita sadari dalam kehidupan ini. Segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan di dunia ini berada dalam kedaulatan dan kuasa-Nya, termasuk penderitaan dan beragam kesulitan hidup yang kita hadapi seperti masa pandemic covid yang sedang terjadi. Allah mengetahui setiap kondisi hidup yang kita hadapi, bahkan rambut di kepala kita sekalipun Allah mengetahuinya (Luk. 12:7). Karena itu tidak perlu kita mengalami ketakutan yang berlebihan.

Percayakan hidup secara total kepada Allah. Walau goncangan ini telah mempengaruhi banyak dari kita. Tapi kita tetap percaya bahwa Allah tidak pernah terlelap dan tertidur (Mzm. 121:4). Firman Kebenaran ini memberi penghiburan dan sukacita bagi kita untuk tetap memiliki kekuatan dan bersandar terus pada Tuhan dan tetap percaya pada pemeliharaan-Nya. Kita percaya bahwa Dia sanggup menolong kita untuk melewati berbagai kesulitan yang sementara ini. Kesulitan yang kita hadapi akan berakhir, walau terkadang harus berakhir dengan kematian. Namun kita tetap berpegang pada janji Allah bahwa Ia akan memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (Flp. 4:19). Ingat akan janji Allah bahwa Ia akan menyertai kita sampai kepada akhir zaman (Mat. 28:20). Tetap semangat…tetap kuat. Tuhan Yesus menyertai kita semua. Amin

Jumat, 23 Agustus 2019

DOA YESUS UNTUK PARA MURID-NYA

Yohanes 17:9-17
 
     Yesus mendoakan murid-murid-Nya agar Tuhan memisahkan dan melindungi mereka dari dunia ini. Untuk merekalah Kristus berkorban, dan untuk merekalah Kristus berdoa. Kasih dan kedekatan Yesus dengan murid-murid-Nya sangat terlihat di dalam doa ini. Yesus akan pergi meninggalkan para murid dan Dia meminta Bapa untuk menjaga mereka. Mereka telah diberikan Bapa kepada Dia, dan sekarang Yesus menyerahkan mereka ke tangan Bapa karena Dia akan segera pergi kepada Bapa. Yesus telah menjanjikan kepada mereka akan mengirimkan Roh Kudus, dan Yesus tetap mendoakan agar Bapa menjaga para murid. Doa dan janji-Nya berisi tema yang sama. Para murid tidak sanggup menjalankan yang Yesus jalankan dengan penuh kesetiaan. Tetapi Yesus adalah Sang Pengantara yang tidak mungkin gagal. Dia menebus kita dengan darah-Nya, dan Dia mendoakan kita agar Bapa senantiasa memelihara iman kita. Doa Yesus adalah ekspresi jiwa-Nya yang penuh kasih sekaligus ungkapan diri-Nya yang dekat dengan Bapa. Doa yang memohon bagi orang lain sesuai dengan kehendak Bapa di surga adalah doa yang benar, berkuasa, dan patut diteladani. Apakah yang sering kita doakan? Kita sering kali terlalu berpusat pada diri di dalam doa-doa kita, atau sering kali juga kita mendoakan banyak hal tanpa kepekaan akan kehendak Bapa di surga. Tetapi doa tidak boleh dipanjatkan dengan munafik. Apa yang ada di dalam hati kita, itulah yang kita doakan. Dengan demikian, melatih diri untuk mendoakan orang lain demi kehendak Bapa di surga dan demi kemuliaan Bapa di surga adalah bentuk disiplin rohani yang tidak boleh diabaikan. Yesus berdoa agar Bapa menyertai murid-murid-Nya demi kemuliaan Bapa. Mengapa? Karena mereka ini adalah milik Bapa yang dipercayakan kepada Kristus. Yesus, Gembala mereka, menerima mereka dari Bapa, dan Yesus menyerahkan mereka ke dalam perlindungan tangan Bapa karena Dia akan menyelesaikan pekerjaan yang menjadikan para murid itu milik-Nya dan milik Bapa-Nya. Betapa indahnya doa ini. Yesus, yang rela mati bagi murid-murid-Nya ini, akan segera menyelesaikan pekerjaan-Nya menyatakan Kerajaan Allah dan menebus umat pilihan Allah. Dia, yang dengan sempurna mengerjakannya, tetap bergantung pada Bapa di surga untuk pekerjaan-Nya ini. Kebergantungan kepada Bapa bukanlah sifat pasif, pasrah, dan tidak berjuang. Justru kegigihan memperjuangkan kehendak Tuhan harus dilakukan secara menyeluruh. Rencana, tindakan, kegigihan, niat hati, dan kebergantungan di dalam doa menjadi satu kesatuan yang tidak mungkin dipisahkan. Yesus mengasihi murid-murid-Nya, Dia telah menetapkan hati untuk menebus mereka. Yesus mengasihi Bapa-Nya, Dia telah menetapkan hati untuk menaati-Nya menggenapi rencana Kerajaan-Nya di surga dan dunia. Yesus, yang telah menetapkan hati-Nya untuk melakukan hal-hal ini, juga akan menjalankannya dengan sempurna. Yesus yang akan menjalankannya dengan sempurna, juga adalah Yesus yang berdoa bergantung kepada Bapa di surga untuk menjaga para murid dan memuliakan nama Allah.
      Selama Yesus bersama para murid, Dia menyertai mereka, mendampingi mereka, menjaga, dan melindungi mereka seperti gembala yang baik menyertai domba-dombanya. Tidak ada yang diluputkan dan tidak ada yang dibiarkan hilang kecuali dia yang tidak pernah dipilih untuk menjadi milik-Nya. Setelah Yesus menyelesaikan pekerjaan-Nya, Dia akan pergi meninggalkan murid-murid-Nya. Untuk apakah Dia pergi? Untuk menyelesaikan pekerjaan-Nya sebagai Imam Besar yang memimpin jemaat Allah. Dia ada di surga menjadi Pengantara bagi kita. Dan inilah yang sedang Yesus lakukan. Dia berdoa sebagai Imam Besar yang mengasihi dan memedulikan jemaat Allah. Imam Besar yang tidak ingin umat Allah tercerai-berai.
     Bagaimana supaya murid-murid dapat terpelihara? Bagaimana agar mereka tidak lepas dan binasa? Hanya ada satu cara, yaitu dengan menyatukan mereka dengan Yesus dan dengan Bapa di surga. Inilah yang Yesus minta di ayat 11. Apakah maksudnya kesatuan antara murid-murid dan Yesus bersama Bapa? Di dalam ayat 10-17 kesatuan antara murid-murid dan Yesus bersama Bapa terjadi karena tiga hal. Yang pertama adalah kesatuan di dalam kasih, yang kedua adalah identitas di dalam Kristus dan di dalam Bapa, dan yang ketiga adalah kesatuan karena dipelihara oleh firman. Kasih Bapa di dalam Kristus diberikan Kristus kepada murid-murid. Identitas, yaitu nama yang diberikan Bapa kepada Kristus, diberikan oleh Kristus kepada murid-murid. Dan yang ketiga adalah firman yang diberikan Bapa kepada Kristus, diberikan oleh Kristus kepada murid-murid. Semua ini dilakukan agar Kristus, Bapa, dan para murid menjadi satu.

Kamis, 17 Mei 2018

Perhambaan Kehendak


The bondage of the will adalah satu pemikiran Martin Luther dalam menanggapi pemikiran Erasmus yang mendukung kemampuan moral alami manusia untuk mematuhi Injil. Erasmus berpandangan bahwa semua perintah Tuhan untuk taat membuktikan bahwa manusia memiliki “kehendak bebas” untuk melakukannya. Luther dengan pandai dan ironis mengungkapkan mengapa kehendak bebas adalah doktrin yang tidak benar dan tidak alkitabiah, yang ada akhirnya meremehkan Injil itu sendiri. Pemikiran Luther menghujam langsung pada inti permasalahan : Apakah keselamatan hanya oleh anugerah, atau berumber dari gabungan antara alam dengan sedikit percikan kasih karunia? Isu ini bukan saja ada di era reformasi, tetapi masih saja relevan untuk dibahas, dipikirkan dan disampaikan di era sekarang. Mengingat pandangan tentang kehendak bebas masih saja menjadi kontribusi orang Kristen di jaman ini. Dan masih banyak orang Kristen yang membawa asumsi alkitabiah yang dijunjung oleh Erasmus, yang menyatakan bahwa setiap perintah dari Tuhan untuk percaya atau mematuhi Injil menyiratkan kemampuan moral manusia untuk melakukannya. Logika semacam ini adalah melompat keluar dari kebenaran Alkitab.
Apa yang dikatakan oleh Luther kepada Erasmus, dalam menjawab pandangan tersebut. Luther berkata, “ketika anda telah selesai dengan semua perintah dan nasihat anda…saya akan menulis Roma 3:20 di atas segalanya. “…oleh hukum Taurat orang mengenal dosa”. Dengan kata lain perintah ini tercantum untuk menunjukkan apa yang tidak dapat manusia lakukan dan ketidakmampuan manusia untuk melunasi hutang kepada Tuhan tidak menghilangkan tanggung jawab manusia untuk melakukannya. Selanjutnya, hal ini juga mengandung perintah Tuhan terhadap umat seeluruh dunia untuk bertobat dan percaya pada Injil suatu tindakan yang mustahil jika dilakukan tanpa pekerjaan supernatural dari Roh Kudus yang menyatukan manusia berdosa (orang percaya) dengan Kristus. Sebab hanya anugerah dari Yesus Kristus melalui Roh Kudus yang dapat memberi pencerahan terhadap Firman dengan sedemikian rupa, untuk mencelikkan mata dan membukakan telinga sehingga dapat melihat keindahan dan kesempurnaan Kristus serta karyaNya.
Manusia yang berdosa tidak akan mampu melihat kesempurnaan Kristus dan dengan sendirinya tidak akan memiliki kapasitas untuk mencintai hal yang spiritual, sehingga bergantung sepenuhnya kepada Tuhan untuk menerjemahkan Firman dan membawa mereka dari kegelapan kepada terang. Luther menyatakan bahwa manusia telah kehilangan kemerdekaannya dan telah ditundukan dibawah dosa sehingga ia tidak bisa dengan sendirinya mengejar kebaikan. Manusia berdosa pada dasarnya adalah selalu mengejar kejahatan. Tercatat pula bahwa perintah Allah tidak diberikan secara sembarangan tetapi dengan tujuan agar manusia yang buta dan sombong dapat menyadari kegagalan dan ketidakmampuannya untuk melaksanakan perintah tersebut dan dengan demikian menyadari keberdosaan mereka.
Luther menunjukkan kepada Erasmus kegagalannya dalam menyadari bahwa “kehendak bebas” tidak dapat melakukan apa pun tanpa adanya anugerah. Luther berkata bahwa merupakan kedaulatan tersembunyi Allah dalam mengizinkan (menganugerahkan) sebagian manusia menerima Firman, yaitu mereka yang dikasihi-Nya, dan sebagian orang “dibiarkan” dalam kebinasaan karena keberdosaan mereka. Kristus berinkarnasi, menderita dan mati di kayu salib untuk menyelamatkan kita yang berdosa walaupun banyak yang menolak dan melawannya, sebagaimana tertulis dalam Yohanes 1:5 “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan tidak menguasainya”. Tidak semua manusia berdosa menerima pengorbanan Kristus (Yoh. 1:11 “Ia telah ada di dalam dunia…tetapi dunia tidak mengenal-Nya”) dan ini merupakan bagian dari kedaulatan Allah. Di sini Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa kemampuan manusia untuk menerima anugerah bergantung pada anugerah dari Tuhan sendiri. Luther menulis “biarkan semua yang meneriakkan “kehendak bebas” berjuang sekuat tenaga mereka di dalam dunia, hal tersebut tidak pernah akan menghindarkan manusia dari hati yang dikeraskan jika Tuhan tidak menganugerahkan Roh Kudus, apa pun dari mendapatkan pengampunan jika ia bergantung pada dirinya sendiri.
Kemahakuasaan dan kemahatahuan Allah dengan sendirinya telah meruntuhkan argumentasi “kehendak bebas”. Allah yang begitu baik dan berbelaskasihan tidak mungkin meninggalkan manusia untuk tenggelam dan berjuang sendiri dalam keberdosaannya, seakan-akan ia menikmati penderitaan manusia ciptaanNya. Sungguh suatu kekejian untuk berpikir sedemikian mengenai Allah. Allah sendiri menyatakan bahwa kedagingan manusia tidak memampukan manusia untuk mengejar yang lain dari kehendak daging, maka “kehendak bebas” hanya akan berakhir dengan dosa.
Apa yang bisa dilakukan oleh manusia tanpa Roh Kudus? Sesuai dengan perkataan Kristus, “…sesungguhnya jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah” (Yoh. 3:5). Suatu penyimpangan yang sangat fatal untuk berpikir bahwa manusia bisa mencari jalan tengah mereka sendiri dari kerajaan setan kepada kerajaan Allah, saat Allah sendiri menyatakan bahwa manusia dalam kedagingannya tidak akan mampu dengan kemampuannya sendiri datang kepada Allah. Semua ayat dalam Alkitab yang menyatakan bantuan adalah ayat-ayat yang menentang konsep “kehendak bebas” yang tidak terhitung banyaknya. Karena dibutuhkan anugerah, dan bantuan yang diperoleh dari anugerah tersebut, karena “kehendak bebas” tidak dapat melakukan apa pun.


Jumat, 23 Februari 2018

MENINGGALKAN TUHAN



Amon, Raja Yehuda Yang Meninggalkan Tuhan
2 Raja-raja 21

 Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan tentang bagaimana raja Manasye, dalam melakukan berbagai kejahatan di mata Tuhan selama ia menjadi raja atas Yehuda. Sebagai akibatnya maka orang-orang Yehuda pun menjadi berbuat jahat dan berdosa kepada Tuhan. Sebagai akibatnya Tuhan murka terhadap mereka dengan mendatangkan berbagai hukuman atas kehidupan Yehuda. Apa yang telah Tuhan perbuat atas mereka ternyata tidak membuat raja Amon yang kemudian memerintah menjadi belajar untuk berbalik dari kejahatan. Ia justru melanjutkan perbuatan jahat yang dilakukan oleh Manasye, ayahnya.
Amon diangkat menjadi raja atas Yerusalem ketika dia berumur 20 tahun, dan memerintah selama 2 tahun. Ini suatu pemerintahan yang relative sangat singkat bila dibanding dengan beberapa masa keperintahan raja lainnya, apalagi bila disbanding dengan masa kepemerintahan Manasye, ayahnya. Yang menjadi perhatian adalah bukan sekedar berbicara lamanya masa kepemerintahannya, tapi apa yang dilakukannya selama ia memerintah? Bagaimana kehidupannya selama ia memerintah. Itu jauh lebih penting. Penting bukan saja bagi dirinya tapi juga bagi kehidupan rakyat yang dipimpinnya.
Apa yang dituliskan dalam Alkitab tentang apa yang dilakukan oleh raja Amon ketika dia memerintah atas Yerusalem, ini menjadi perhatian dalam tulisan ini. Alkitab menyatakan bahwa Amon melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Mungkin kita akan bertanya, hal yang jahat apa yang dilakukan oleh Amon? Pertama, ia beribadah kepada berhala-berhala. Kedua, ia menyembah kepada berhala-berhala. Ketiga, ia meninggalkan Tuhan. Keempat, ia tidak hidup menurut kehendak Tuhan.
Apa yang dilakukan oleh raja Amon sangat bertentangan dengan apa yang Tuhan telah perintahkan kepada Musa. Raja Amon telah melawan hukum Tuhan yang telah diberikan-Nya melalui perantaraan Musa dan para nabi. Allah telah melarang umatNya untuk tidak menyembah dan beribadah kepada ilah-ilah. Allah hanya menginginkan umatNya untuk beribadah kepada Dia, Tuhan yang disembah oleh Abraham, Ishak dan Yakub. Tuhan yang telah membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Allah yang telah memberikan hukum dan ketetapanNya melalui Musa. Raja Amon telah melawan Tuhan.
Tindakan Amon yang melawan Tuhan mengakibatkan hukuman Tuhan atas dirinya. Ketika Amon memerintah sebagai raja, maka pegawai-pegawainya memberontak terhadap dia. Mereka mengadakan persepakatan untun melawan dan berusaha untuk membunuhnya diistana. Musuh-musuhnya bukan berasal dari orang di luar istana. Musuh-musuh Amon adalah orang-orang di dalam istana. Yaitu para pegawainya. Mungkin kita akan bertanya, mengapa para pengawai begitu berniat jahat terhadap dia? Apa yang menyebabkan mereka berlaku demikian terhadap rajanya? Mungkinkah  para pegawainya adalah orang yang telah sadar dari perbuatan jahat raja sebelumnya, sehingga mereka ingin keluar dari kejahatan, yang mengakibatkan murka Tuhan atas mereka? Mungkinkah mereka mendengar pemberitaan para nabi yang diutus Tuhan untuk menyampaikan berita pertobatan kepada mereka? Sehingga mereka tidak menginginkan raja yang berlaku jahat dan yang meninggalkan Allah nenek moyang mereka.
Namun satu hal yang dijelaskan dalam bagian ini terkait dengan mereka yang bersepakat untuk membunuh raja Amon. Bahwa rakyat berpihak kepada raja Amon, sehingga rakyat membunuh para pegawai raja yang melakukan persepakatan untuk membunuh raja. Raja yang memerintah dengan melakukan hal yang jahat di mata Tuhan akan mendapatkan perlawanan, namun disisi lain kita juga dapat melihat bahwa ada rakyat yang telah diracuni dengan kejahatan akan melakukan pembelaan terhadap raja yang jahat pula. Disinilah kita melihat bahwa kejahatan dilawan dengan kejahtan. Raja yang jahat dibela juga oleh rakyat yang jahat. Itulah rantai dosa.
Selanjutnya, bagaimana akhir dari masa kepemerintahan raja Amon. Kisah ini diakhiri dengan bagaimana rakyat mengangkat Yosia, anaknya untuk menggantikan dia menjadi raja dan memeritah atas Yerusalem. Itulah jabatan. Itulah masa kekuasaan. Kekuasaan, kepemerintahan manusia akan berakhir. Tetapi kepemerintahan Allah akan hidup orang percaya tidak akan pernah berakhir. Kekuasaan Allah atas hidup orang percaya tetap untuk selama-lamanya.
Akhirnya raja Amon bukan saja mengakhiri masa kepemerintahannya sebagai raja atas Yerusalem. Ia pun mengakhiri hidupnya di dunia. Ia pun meninggal dan dikuburkan. Segala kisah hidup dengan semua yang dilakukannya sebagai raja dicatat dalam kitab sejarah raja-raja Yehuda. Demikian halnya dengan hidup kita dengan segala yang akan kita lakukan, bukan saja dicatat oleh generasi selanjutnya tetapi juga dicatat dalam catatan sejarah yang kekal. Apakah hidup kita memuliakan Tuhan, apakah dalam hidup ini kita telah melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan, adakah kita setia kepada Tuhan selama kita menjalani hidup yang Tuhan telah anugerahkan? Atau jangan-jangan sebaliknya, kita telah mengikat hati dan hidup kita pada berhala-berhala zaman. Mungkin kita telah mencintai diri lebih dari pada Tuhan, mungkin kita telah mencintai pekerjaan, hobi harta kekayaan jabatan dan lain-lainnya lebih dari pada kita mencintai Tuhan. Atau jangan-jangan kita telah mencintai aktivitas religiusitas kita lebih dari cinta kita kepada Tuhan. Siapa yang tahu? Sejujurnya diri kita yang tahu tentang siapa kita. Dan lebih jujur lagi, hanya Tuhanlah yang tahu tentang siapa kita sesungguhnya. Karena jangan sampai kita merasa kita telah mengasihi Tuhan, tapi Tuhan tidak mengasihi kita. Jangan sampai kita merasa dikasihi oleh Tuhan, tapi ternyata Tuhan murka dan menolak kita.
Mari belajar dari kisah kehidupan raja Amon. Janganlah kiranya hati kita terikat pada ilah-ilah zaman, janganlah kiranya kita memperhamba diri pada hal-hal yang bersifat kesementaraan dan janganlah kiranya kita meninggalkan Tuhan hanya karena berbagai macam kesulitan hidup yang sementara, janganlah kiranya kita meninggalkan Tuhan hanya karena ingin kekayaan, kedudukan, kesehatan dll. Kiranya Tuhan menolong kita, memampukan kita dan menuntun kita dalam hidup takut akan Dia. Amin

BERUSAHALAH, JANGAN MENYERAH

  Berusahalah, Jangan Menyerah Salah satu tanda kehidupan adalah adanya usaha dan perjuangan. Sebatang pohon yang hidup maka akarnya akan te...