Janganlah
kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan
oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan
semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat
(Ibr. 10:25)
Secara
spesifik, kata “jemaat” dapat didefinisikan sebagai pribadi orang percaya yang
telah dipanggil oleh Allah keluar dari gelap kepada terangNya. Sedangkan
koinonia sendiri merupakan salah satu tugas panggilan gereja yang berarti
bersekutu atau persekutuan. Secara spiritual, jemaat/orang percaya dipanggil
untuk bersekutu dengan Allah, namun secara sosial jemaat dipanggil untuk
bersekutu dengan sesama orang percaya. Karena sesungguhnya manusia diciptakan
oleh Allah bukan hanya sebagai makhluk spiritual tetapi juga sebagai makhluk
sosial. Hal ini berarti bahwa bahwa seseorang bukan hanya dituntut untuk
bersekutu dengan Allah, tetapi juga perlu bersekutu dengan sesamanya. Sehingga
menjadi sesuatu yang keliru ketika orang percaya menghilangkan atau meniadakan
salah satu persekutuan. Bersekutu dengan sesama tidak ada artinya tanpa adanya
persekutuan pribadi dengan Tuhan. Demikian juga sebaliknya, persekutuan pribadi
dengan Tuhan akan tidak actual jika tidak di implementasikan dalam koinonia
kepada sesama.
Pesatnya
perkembangan ilmu dan teknologi memang mempermudah manusia dalam melakukan
berbagai aspek kehidupan. Dimana komunikasi dan informasi menjadi lebih mudah untuk
diperolah. Berkembangnya teknologi dapat menjadi ancaman untuk seseorang
menjadi “rusak” tetapi juga dapat menolong seseorang untuk bertumbuh dengan
“baik atau benar”. Karena melalui iptek seseorang dapat memperoleh informasi
yang salah namun melaluinya juga bisa mendapatkan informasi yang baik/benar, termasuk
Firman Tuhan. Mendengan atau membaca Firman Tuhan melalui media memang tidak
salah. Itu baik. Tetapi menjadi keliru bila kita merasa cukup bahkan puas
dengan mendengar atau membaca firman melalui media atau teknologi namun
mengabaikan persekutuan dengan sesama orang percaya lainnya. Dengan kata lain
menganggap tidak perlu untuk datang bersekutu dengan orang percaya lainnya di
gereja atau dikelompok-kelompok persekutuan lainnya.
Koinonia
merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan bergereja atau berjemaat.
Karena pentingnya koinonia, sehingga penulis Ibrani menasihatkan atau
mengingatkan kepada orang percaya waktu itu supaya mereka jangan menjauhkan
diri dari pertemuan-pertemuan ibadah (Ibr. 10:25). Dalam konteks kehidupan
jemaat mula-mula, koinonia menjadi salah satu bagian dari cara atau model hidup
mereka. Dalam konteks jemaat mula-mula ini, mereka melakukan koinonia karena
mereka telah menerima perkataan para Rasul atau menerima pengajaran tentang
Firman Tuhan yang disampaikan oleh para Rasul (Kis. 2:41). Dengan kata lain sebagai
tanda mereka telah menerima dan mengalami Firman Tuhan sehingga ada koinonia
dalam kehidupan jemaat mula-mula. Atas dasar panggilan Allahlah maka dapat
terbentuknya koinonia (1 Kor. 1:9). Sehingga ketika jemaat mengabaikan
koinonia, maka ia mengabaikan akan panggilan Allah dan mengabaikan Allah yang
telah memanggilnya.
Selanjutnya,
mengapa pentingnya koinonia dalam jemaat, adalah supaya bisa saling menasihati.
Menasihati, mengajar, membimbing dan mengingatkan adalah hal yang penting dalam
kehidupan berjemaat. Tidak ada seorang pun yang terlalu kuat seorang diri
sehingga ia tidak memerlukan orang lain disisinya, dan tidak ada seorang pun
yang terlalu lemah yang tidak memerlukan kehadiran orang lain dalam
kehidupannya. Namun dengan koinonia maka satu sama lain dapat saling
melengkapi, saling menopang dan saling memperhatikan sehingga jemaat dapat
bertumbuh bersama satu dengan yang lain dalam pengenalan akan Kritsus. Selamat
Menjadi jemaat yang koinonia. Tuhan Yesus memberkati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar