Rabu, 16 Oktober 2013

JEMAAT YANG KOINONIA


Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat
 (Ibr. 10:25)
Secara spesifik, kata “jemaat” dapat didefinisikan sebagai pribadi orang percaya yang telah dipanggil oleh Allah keluar dari gelap kepada terangNya. Sedangkan koinonia sendiri merupakan salah satu tugas panggilan gereja yang berarti bersekutu atau persekutuan. Secara spiritual, jemaat/orang percaya dipanggil untuk bersekutu dengan Allah, namun secara sosial jemaat dipanggil untuk bersekutu dengan sesama orang percaya. Karena sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah bukan hanya sebagai makhluk spiritual tetapi juga sebagai makhluk sosial. Hal ini berarti bahwa bahwa seseorang bukan hanya dituntut untuk bersekutu dengan Allah, tetapi juga perlu bersekutu dengan sesamanya. Sehingga menjadi sesuatu yang keliru ketika orang percaya menghilangkan atau meniadakan salah satu persekutuan. Bersekutu dengan sesama tidak ada artinya tanpa adanya persekutuan pribadi dengan Tuhan. Demikian juga sebaliknya, persekutuan pribadi dengan Tuhan akan tidak actual jika tidak di implementasikan dalam koinonia kepada sesama.

Pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi memang mempermudah manusia dalam melakukan berbagai aspek kehidupan. Dimana komunikasi dan informasi menjadi lebih mudah untuk diperolah. Berkembangnya teknologi dapat menjadi ancaman untuk seseorang menjadi “rusak” tetapi juga dapat menolong seseorang untuk bertumbuh dengan “baik atau benar”. Karena melalui iptek seseorang dapat memperoleh informasi yang salah namun melaluinya juga bisa mendapatkan informasi yang baik/benar, termasuk Firman Tuhan. Mendengan atau membaca Firman Tuhan melalui media memang tidak salah. Itu baik. Tetapi menjadi keliru bila kita merasa cukup bahkan puas dengan mendengar atau membaca firman melalui media atau teknologi namun mengabaikan persekutuan dengan sesama orang percaya lainnya. Dengan kata lain menganggap tidak perlu untuk datang bersekutu dengan orang percaya lainnya di gereja atau dikelompok-kelompok persekutuan lainnya.

Koinonia merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan bergereja atau berjemaat. Karena pentingnya koinonia, sehingga penulis Ibrani menasihatkan atau mengingatkan kepada orang percaya waktu itu supaya mereka jangan menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah (Ibr. 10:25). Dalam konteks kehidupan jemaat mula-mula, koinonia menjadi salah satu bagian dari cara atau model hidup mereka. Dalam konteks jemaat mula-mula ini, mereka melakukan koinonia karena mereka telah menerima perkataan para Rasul atau menerima pengajaran tentang Firman Tuhan yang disampaikan oleh para Rasul (Kis. 2:41). Dengan kata lain sebagai tanda mereka telah menerima dan mengalami Firman Tuhan sehingga ada koinonia dalam kehidupan jemaat mula-mula. Atas dasar panggilan Allahlah maka dapat terbentuknya koinonia (1 Kor. 1:9). Sehingga ketika jemaat mengabaikan koinonia, maka ia mengabaikan akan panggilan Allah dan mengabaikan Allah yang telah memanggilnya.

Selanjutnya, mengapa pentingnya koinonia dalam jemaat, adalah supaya bisa saling menasihati. Menasihati, mengajar, membimbing dan mengingatkan adalah hal yang penting dalam kehidupan berjemaat. Tidak ada seorang pun yang terlalu kuat seorang diri sehingga ia tidak memerlukan orang lain disisinya, dan tidak ada seorang pun yang terlalu lemah yang tidak memerlukan kehadiran orang lain dalam kehidupannya. Namun dengan koinonia maka satu sama lain dapat saling melengkapi, saling menopang dan saling memperhatikan sehingga jemaat dapat bertumbuh bersama satu dengan yang lain dalam pengenalan akan Kritsus. Selamat Menjadi jemaat yang koinonia. Tuhan Yesus memberkati.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERUSAHALAH, JANGAN MENYERAH

  Berusahalah, Jangan Menyerah Salah satu tanda kehidupan adalah adanya usaha dan perjuangan. Sebatang pohon yang hidup maka akarnya akan te...