Rabu, 04 Mei 2016

MELAYANI OLEH KEHENDAK ALLAH


Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.
(Efesus 1:1-2)

Tanpa diragukan bahwa Rasul Paulus adalah penulis Kitab Efesus. Sebagai penulis, Paulus tentu dituntun dan dikuasai oleh Roh Kudus sepenuhnya, sehingga apa yang ditulisnya adalah benar-benar Firman Allah. Allah berotoritas penuh dalam memakai seluruh pikiran, kepribadian, kepandaian, dan bakat-bakat Paulus, sehingga ia betul-betul menuliskan Firman Allah sesuai kehendak Allah. Selanjutnya disebutkan bahwa Paulus adalah rasul Kristus Yesus. Ilham dari Allah dan kerasulan Paulus menjadi dasar otoristas isi surat sekaligus menyatakan sifat resmi surat yang ditulisnya.

      Menarik untuk diperhatikan bahwa, Paulus adalah rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah. Kerasulan Paulus bukan karena diutus oleh jemaat, bukan karena kehendak orang lain, juga bukan karena sukarela menawarkan diri, melainkan oleh kehendak Allah. Hal Ini menunjukkan bahwa panggilan menjadi rasul datang dari Allah. Dalam kasih karunia Tuhan, Paulus sangat menyadari bagaimana Tuhan memanggilnya menjadi utusan untuk memberitakan Injil tentang Yesus Kristus. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia “Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karuniaNya, berkenan menyatakan AnakNya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia; juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik” (Gal. 1:15-17).

      Melayani oleh kehendak Allah memberikan makna bahwa melayani adalah kasih karunia dari Allah. Siapakah manusia, sehingga oleh dan dengan kekuatannya, kepintarannya, kekayaannya bahkan dengan segala yang adapadanya dapat melayani Allah jika bukan Allah yang menggerakan dan mendorong manusia untuk melayani-Nya. Karena panggilan melayani Allah adalah atas dasar kehendak Allah, maka pelayanan harus berpusat kepada kehendak Allah, bukan pada kesenangan dan kebutuhan diri. Kehendak Allah harus lebih utama dan diatas kehendak diri. Dan itu sangat nyata dalam kehidupan diri Paulus. Apa yang Tuhan kerjakan dalam kehidupan Paulus, menyadar-ingatkan kita dalam melayani Tuhan. Sungguh, ketika kita melayani, kita melayani karena kasih dan kehendak Allah. Sehingga ketika kita melayani, maka kita melayani dengan hati nurani yang tulus dan murni. Panggilan dan kehendak Allah adalah dasar yang teguh dalam menjalani hidup melayani Tuhan. 

      Melayani oleh kendedak Allah adalah kerelaan untk menjadi saluran berkat bagi orang lain. Dalam permohonannya kepada Allah Paulus dengan jelas mengatakan kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu. Menjadi saluran berkat tidak serta merta dengan memberi hal-hal berupa harta benda. Paulus telah menjadi saluran berkat dalam memberika ajaran yang benar tentang Injil. Paulus telah menjadi saluran berkat dalam hidup keberimanan dan dalam keteladanan hidup yang nyata. Kepada Timotius dia berkata; “Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku,  cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku” (2 Tim 3:10). Demikian seharusnya panggilan kehidupan kita dalam melayani. Kiranya Tuhan menolong dan memberkati kita dalam melayani Tuhan di tiap sudut kehidupan yang Tuhan percayakan. Amin

Jumat, 16 Januari 2015

Hikmat Dalam Pengambilan Keputusan


"Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.(Matius 10:16)

Keputusan Yesus ketika Ia mengutus murid-muridnya seperti doma ke tengah-tengah serigala, merupakan pengutusan yang unik.  Mengapa? Sungguh tidak berimbang antara domba dengan serigala.  Dan domba yang diutus bukan domba yang super (super sheep), yang mampu mengalahkan serigala. Tetapi domba yang lemah, yang hampir pasti akan binasa dan mati. Banyak orang berpikir kalau menjadi pengikut Yesus, everything oke, semuanya akan baik dan kami akan mendapat kemudahan-kemudahan yang kami perlukan. Itulah yang diharapakan manusia pada umumnya. Sesungguhnya, tidak demikian ketika Yesus mengutus murid-muridNya. Yesus berkata; “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala”

Memahami kontek ini, demikianlah gambaran orang-orang Kristen di tengah-tengah dunia ini. Kita tidak dibuat lebih hebat. Terhindar dari kesulitan. Tidak. Tapi kita dituntut untuk tetap mengambil keputusan. Di tengah situasi yang sulit, kita dituntut untuk mengambil keputusan-keputusan penting dalam kehidupan.Ada dua hal yang menjadi pancingan dan menggoda dalam situasi sulit, ketika harus mengambil keputusan; Pertama, Terpancing untuk lari dan menghidar dari kesulitan. Kecenderungan naluri manusia ketika menghadapi kesukaran adalah menghindar dan lari. Tak terkecuali, tidak sedikit orang Kristen pun tidak siap menghadapi kesulitan. Entah itu kesulitan hidup dalam usaha, pekerjaan dan bahkan ketika diperhadapan dengan pelayanan yang penuh dengan tantangan. Seraya menganggap bahwa; “ini bukan kehendak Tuhan”. Manusia cenderung mengukur kehendak dan perkenanan Tuhan dengan segala sesuatu berjalan baik, lancar, serta tanpa kesulitan dan tantangan. Alkitab dengan jujur memberi kesaksian akan kesulitan yang dialami oleh orang percaya mula-mula dan bahkan oleh para rasul, ketika mereka melayani Allah. Salah satu contoh adalah kehidupan perjalanan pelayanan Rasul Paulus. Kedua, menyamar menjadi serigala, dengan meniru dan bersikap ganas layaknya serigala, dan bahkan lebih ganas dari serigala. Ini sebagai satu strategi untuk mendapat rasa aman dan pengakuan komunitas dan tempat di mana dia ada. Manusia tidak siap terisolir karena berbeda dengan dengan yang lain. Kecenderungan manusia tidak siap berbeda atau berjalan sendiri untuk sesuatu yang benar. Menjadi sama adalah salah satu langkah yang aman. Dan tidak sedikit orang Kristen hidup sama dengan orang duniawi, karena ingin rasa aman.

Dalam situasi seperti domba, Yesus memberikan solusi atau cara bagaimana kita mengambil keputusan. Strategi Pertama; Hendaklah kamu cerdik seperti ular. Ular adalah salah satu binatang yang cerdik. Misalnya, berbelit-belit, tetapi juga punya strategi dalam beradabtasi dengan mengganti kulitnya. Ular bukan saja simbol binatang yang cerdik tetapi juga mengingatkan kita pada peristiwa taman Eden, dimana ular dipakai oleh iblis untuk berbicara kepada hawa. Dan singkatnya, Hawa tertarik pada kisah yang disampaikan oleh ular. Ketika kita diminta untuk cerdik dalam pengambilan keputusan, kita tidak diminta untuk cerdik dalam menipu, tetapi pandai membuka cerita, menyampaikan kisah, yaitu kisah tentang kebenaran Allah. Dan hikmat dari Allah akan menolong kita untuk mampu menceritakan kebenaran. Strategi Kedua; Hendaklah engkau tulus seperti merpati. Kata “tulus” adalah kata yang sangat bagus,  akeraios (Yun); sincerus (Latin) yaitu sesuatu yang simple, sederhana, polos, lugu dan apa adanya. Sikap tulus dan murni sangat diperukan dalam mengambil keputusan. Sebagai sikap jujur dalam hidup keberimanan kepada Allah. Yesus mengajarkan kepada kita dalam hidup keimanan, betapa ketulusan diperlukan dalam mengambil keputusan. Ketulusan dan kecerdikan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam mengambil keputusan. Keduanya harus seimbang. Sebab, ketulusan tanpa kecerdikan akan membuat orang menjadi konyol yang tidak pernah lepas dari kesulitan. Sebaliknya kecerdikan tanpa ketulusan dapat membuat orang menjadi jahat, licik yang dapat menjatuhkan orang lain.

Pengambilan keputusan bukan sekedar sebuah ajaran menganenai SOP (standar operasional prosedur), tetapi seni. Pengambilan keputusan dalam kehidupan adalah art, yaitu bagaimana kita mengolah peristiwa demi peristiwa di setiap hari kita. Dan, di tengah sulitnya kehidupan di dunia, seperti domba di tengah-tengah serigala, Roh Kudus yang adalah Hikmat itu sendiri yang akan menyertai dan menuntun kita dalam pengambilan keputusan. Amin 

Selasa, 29 April 2014

MELAYANI, KARENA KASIH KARUNIA



Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah (1 Pet. 4:10)

Kasih karunia Allah kepada orang percaya sungguh nyata dan sempurna dalam Tuhan Yesus Kristus. Dia yang adalah Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai miliki yang harus dipertahankan. Melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, mengambil rupa seorang hamba, menjadi sama dengan manusia dan dalam keadaannya sebagai manusia, ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati di kayu salib. Yesus yang telah mati di kayu salib, telah dikuburkan, telah bangkit naik kesorga dan akan datang kembali.
Dalam menantikan kedatangan Kristus, maka Petrus mengingatkan kepada orang-orang Kristen Yahudi yang diaspora. Mereka mengalami berbagai macam penderitaan, kesulitan dan penganiayaan. Dengan realita hidup yang serba sukar, haruskah itu menjadi alasan bagi mereka untuk tidak melayani Tuhan? Tidak. Di tengah peliknya situasi yang menerpa hidup mereka, Petrus memerintahkan kepada umat yang diperantauan supaya mereka melayani. Petrus tak sekedar mengingatkan mereka yang sedang dalam berbagai penderitaan dan aniaya, tapi juga mengingatkan kepada kita yang sedang hidup dalam situasi yang nyaman, tentram dan berkecukupan. Mengapa kita melayani?
Pertama, melayani adalah kewajiban setiap orang percaya. “Layanilah seorang akan yang lain”. “Layanilah” adalah suatu bentuk kata perintah. Hukum dari suatu perintah adalah wajib untuk dilakukan. Paulus menyebutkan bahwa pemberitaan Injil sebagai suatu keharusan. “Celakalah aku bila aku tidak memberitakan injil” (1 Kor 9:16b). Pelayanan kita kepada Tuhan akan nyata ketika kita dapat melayani sesama manusia. Bila kita berkata bahwa kita melayani Tuhan, namun orang yang ada di sekitar kita terabaikan, maka kita sedang menipu diri sendiri.
Kedua, melayani adalah mengembalikan karunia yang telah diberikan oleh Allah. “…sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang…” Masing-masing individu diberikan karunia yang berbeda oleh Allah. Dengan karunia yang berbeda-beda, maka sebagai tubuh Kristus, kita harusnya saling melengkapi satu dengan yang lain. Ketika Tuhan percayakan karunia kepada kita lebih dari pada yang lain, maka tanggungjawab kita adalah melayaniNya dengan kelebihan yang ada pada kita.
Ketiga, melayani adalah kepercayaan dan kehormatan. Petrus menyebut orang percaya, sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. Dalam suratnya kepada Timotius, Paulus berkata; “apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai…” (2 Tim. 2:2). Sebagai pengurus dari kasih karunia Allah, maka kita diberi tanggung jawab yang besar oleh Allah. Tanggung jawab kita adalah bagaimana kita hidup menguasai diri dalam segala hal, memiliki hubungan pribadi yang indah dengan Allah dan hidup dalam kasih persaudaraan yang harmonis dengan sesama. Sehingga dengan demikian bayak orang diberkati melalui pelayan kita dan nama Allah akan dimuliakan.
Melalui Retreat Gereja Reformasi Indonesia, yang mengangkat tema Keluarga Rukun Kelurga Melayani ini, mengingatkan kepada kita akan arti penting dalam melayani Tuhan. Selama Tuhan perkenankan kita hidup seraya menanti kedatanganNya kembali kiranya kita tetap dalam iman dan melayaniNya. Jangan terlena diketenangan dunia dan kelimpahan yang ada sehingga membuat kita lalai dalam melayaniNya. Betapa kita sadar bahwa; Melayani adalah harga mati yang harus dibayar oleh setiap orang percaya. Mamun, itu pun tak percah cukup untuk membayar besarnya kasih karunia Allah yang telah memberikan hidup yang kekal kepada setiap kita, orang percaya yang melakukan kehendakNya. Tidak ada alasan bagi kita sebagai orang percaya untuk tidak melayani Tuhan. Selamat beretreat dan selamat melayani, Tuhan Yesus Memberkati.

Rabu, 12 Februari 2014

AWAS, JERAT DUNIA

Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih kesabaran dan kelembutan. (1 Timotius 6:11)

Ketika manusia jatuh ke dalam dosa maka natur manusia telah rusak total. sehingga yang ada dalam diri manusia hanya ada satu, yaitu cinta pada dirinya sendiri. Manusia menolak Allah dalam tatolitas hidupnya. Jauh dari dapa manusia untuk mencari Allah. Manusia hanya hidup sesuai dengan apa yang diinginkannya. Mereka hanya ingin melihat apa yang bisa memuaskan mata, mendengar apa yang dapat memuaskan telinganya dan melakukan sesuatu yang hanya bisa memberikan sebuah keuntungan. Sehingga benar atau salah bukan sebuah pertimbangan penting untuk menentukan sebuah pilihan dalam melakukan segala sesuatu. Hedonisme dan materialisme menjadi tujuan dan gaya hidup manusia yang membudaya dalam natur yang berdosa.

Gaya hidup hedonisme dan materialisme bukan hal baru, yang kita temuka dan kita hadapi di zaman yang serba modern ini, tetapi juga di zaman sebelumnya, bahkan ketika zaman Alkitab di tuliskan. Sebagai salah satu contoh, orang-orang yang ada di jemaat Efesus, dimana Timotius melayani. Mereka memiliki gaya hidup materalisme. Paulus menjelaskan bahwa ada dari antara mereka yang hidupnya hanya ingin kaya, sehingga mereka jatuh ke dalam berbagai pencobaan. Mereka jatuh ke dalam jerat dan ke dalam berbagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam reruntuhan dan kebinasaan. Bahkan ada di antara mereka menyimpang dari iman hanya karena ingin mengejar dan mendapatkan uang. Gaya hidup materialisme telah menguasai mereka dan uang telah menjadi tujuan utama dari kehidupan beberapa jemaat di Efesus.

Melihat fenoma yang terjadi di Efesus tersebut, Rasul Paulus pernah menasehatkan dan mengingatkan kepada Timotius, anak rohaninya; “Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih kesabaran dan kelembutan. (1 Timotius 6:11). Istilah pemakaian kata “manusia Allah” dalam PL menunjuk kepada mereka yang melayani Tuhan seperti para imam dan nabi, namun dalam PB istilah “manusia Allah” bukan hanya mengacu kepada para rasul tetapi juga menunjuk atau dikenakan kepada semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus dan yang melakukan kehendak-Nya.

Paulus ingin agar Timotius sebagai orang percaya yang juga melayani di Efesus tidak terjebak dan terjerat oleh gaya hidup seperti yang dilakukan oleh beberapa orang di Efesus. Sebagai orang percaya kiranya kita diberi hikmat untuk menghadapi dan menjalani kehidupan dunia yang serba penuh dengan kebahagiaan yang bersifat sesaat. Apalagi sampai menyimpang dari iman di dalam Tuhan Yesus Kristus hanya demi mengikuti “trend” yang sedang berkembang di sekitar kita. Karena tidak sedikit “orang Kristen” di zaman sekarang yang dengan rela dan dengan mudahnya meninggalkan persekutuan dengan Tuhan hanya karena demi mempertahankan “life style”. Karena itu, biarlah himbauan dan nasehat Rasul Paulus kepada Timotius juga mengingatkan kepada kita orang-orang percaya yang hidup di zaman yang serba modern untuk tetap kuat dalam iman dan setia dalam melayani Tuhan.  Amin

Jumat, 18 Oktober 2013

Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?”

( I Korintus 15 : 55 )
Proklamasi Rasul Paulus akan kuasa kebangkitan Kristus ini merujuk kepada penggenapan dari apa yang tertulis di dalam Hosea pasal 13 ayat 14: “Akan Kubebaskankah mereka dari kuasa dunia orang mati, akan Kutebuskah mereka dari pada maut? Di manakah penyakit samparmu, hai maut, di manakah tenaga pembinasamu, hai dunia orang mati? Mata-Ku tertutup bagi belas kasihan.” Mengapa proklamasi dari kuasa kebangkitan Kristus ini dikumandangkan?. Rasul Paulus mengetahui bahwa jemaat di Korintus telah menerima ajaran-ajaran yang salah mengenai kebangkitan tubuh. Sebagian orang Kristen Korintus yang berasal dari bangsa asing telah menolak kebangkitan tubuh dari kematian. Bahkan beberapa orang Korintus yang sudah percaya juga telah menolak realita kebangkitan tubuh Yesus Kristus. Rasul Paulus telah mendengar adanya pandangan yang salah dari orang-orang Korintus tentang kebangkitan Yesus Kristus. Ia harus mengembalikan mereka dari doktrin yang salah kepada ajaran yang benar yang sebelumnya telah diajarkan oleh para rasul.
            Rasul Paulus mengajarkan doktrin kebangkitan Yesus Kristus berdasarkan apa yang ditulis Kitab Suci. Saksi mata kebangkitan dengan jumlah yang cukup banyak itu menegaskannya. Ada tiga fakta dasar Injil yang telah disampaikan dan ini merupakan penggenapan dari apa yang tertulis di dalam Perjajian Lama. Ketiga fakta tersebut adalah :
 1.       Bahwa Yesus mati karena dosa-dosa kita sebagaimana tertulis didalam Kitab Suci (Yesaya 53:5-12).
2.       Bahwa Yesus telah dikubur dan telah dibangkitkan di hari yang ketiga sesuai dengan Kitab Suci (Mazmur 16: 8-10, Yunus 1:17).
3.       Bahwa Yesus telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus orang.
            Ketiga fakta diatas terdapat di dalam I Korintus pasal 15 ayat 3 sampai 6. Saat Rasul Paulus menuliskan tentang saksi mata ini banyak dari saksi mata-saksi mata tersebut masih hidup sehingga memungkinkan siapa saja untuk menyelidiki kebenarannya secara langsung kepada mereka. Saksi-saksi mata kebangkitan Kristus yang jumlahnya cukup banyak itu membuktikan bahwa kebangkitan Kristus ini bukanlah semata-mata halusinasi sekelompok orang.
            Rasul Paulus mengatakan bahwa jika Kristus tidak bangkit, maka Injil yang diberitakan oleh para rasul itu adalah sia-sia dan demikian pula halnya dengan iman orang-orang Korintus. Yang benar ialah: kematian datang melalui Adam tetapi kebangkitan dari kematian datang hanya melalui Kristus. Kebangkitan ini terjadi dengan ordo berikut ini: Pertama, Kristus terlebih dahulu dibangkitkan; Kedua, mereka yang adalah milik-Nya akan dibangkitkan kemudian. Adam membawa tubuh jasmani yang berasal dari debu tanah kepada keturunannya, tetapi Kristus membawa tubuh rohani yang berasal dari surga kepada orang-orang percaya.
            Rasul Paulus meminta pembacanya untuk kembali kepada ajaran yang benar dan memerintahkan meraka untuk berhenti berbuat dosa lagi sekaligus memperingatkan mereka bahwa di antara mereka ada orang-orang yang tidak  mengenal Allah dan hal ini dapat berakibat buruk terhadap mereka. Rasul Paulus mengejek kematian dengan mengutip apa yang telah disebut oleh Yesaya dan Hosea (Yesaya 25:8 dan Hosea 13:14) serta sekaligus mengekspresikan ucapan syukur kepada Tuhan atas kemenangan Yesus Kristus ini. Itu sebab Rasul Paulus memerintahkan para pembacanya agar tetap teguh , tidak goyah dan giat selalu di dalam pekerjaan Tuhan.

Kamis, 17 Oktober 2013

JEMAAT YANG MARTURIA

Dalam salah satu media online, jawaban.com, pada 8 Oktober 2013 melansir berita tentang kontoversi adanya rencana penghapusan sumpah di atas Alkitab dalam proses peadilan di Inggris. Para hakim Inggris menilai bahwa sumpah di atas Alkitab bagi para tersangka yang bersaksi untuk menyatakan kebenaran tidak memberikan pengaruh kepada mereka. Konsekuensi yang mereka terima tetap sama, yaitu penjara, apabila mereka tidak menyatakan kebenaran. Namun rencana para hakim Inggris tersebut belum final dan masih akan dibahas untuk dipertimbangkan. Pasalnya, pihak gereja di Inggris menilai hal tersebut sebagai bentuk penghapusan agama dari masyarakat. Lebih daripada itu "Alkitab terikat dengan konstitusi, lembaga dan sejarah bangsa. Tepat bila memilih sumpah, satu agama atau tidak beragama," ujar Pendeta Michael Nazir–Ali, mantan Bishop Rochester.
 Marturia atau bersaksi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan umat Tuhan atau dalam gereja Tuhan. Disebut penting karena marturia merupakan satu dari tiga panggilan gereja. Bersaksi adalah perintah atau mandat dari Yesus bagi para muridNya. Sebelum naik ke surga Tuhan Yesus berkata kepada para muridNya "Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi" (Kis.1:8). Menjadi saksi Tuhan adalah sebuah panggilan semua orang percaya. Karena itu marturia adalah hak dan tanggungjawab setiap jemaat Tuhan. Itu merupakan kehormatan dari Allah.
Menjadi saksi bagi Kristus adalah persoalan yang jauh lebih pelik dari menjadi saksi dalam pengadilan. Sebab yang diperlukan bukan hanya kata-kata melainkan mencakup seluruh totalitas hidup. Memiliki pengetahuan yang banyak akan kebenaran Firman Tuhan adalah sesuatu yang penting. Itu sangat baik. Karena tanpa pengetahuan bagaimana seorang dapat menyampaikan kesaksiannya dengan benar. Kekayaan pengetahuan akan kebenaran Firman Tuhan akan menolong seseorang untuk dapat bersaksi dengan benar. Namun sikap dan perbuatan sehari-hari bukan sesuatu yang harus diabaikan. Itu merupakan kesaksian nyata hidup orang percaya yang dapat mempengaruhi banyak orang. Itu adalah buah yang nyata dari iman orang percaya. Paulus menyebut hidup orang percaya sebagai surat Kristus yang hidup yang dikenal dan bisa dibaca oleh semua orang (2 Kor. 3:2-3). Dengan kata lain Kristus akan nampak dalam kehidupan orang percaya. Sehingga orang-orang percaya seyogyanya menjadi saksi Tuhan dimanapun ia berada.

Selain melaksanakan perintah Allah, bersaksi juga penting karena dengan bersaksi merupakan kesempatan untuk berbagi. Seorang perempuan Samaria yang berjumpa dengan Tuhan Yesus di sebuah sumur yang disebut sumur Yakub (Yoh. 4:1-42). Setelah Yesus selesai berbicara dengannya. Perempuan itu pulang dan bersaksi tentang Yesus. Ia membagi akan apa yang telah disampaikan oleh Yesus kepada orang lain. Sehingga banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada Yesus, karena perkataan atau kesaksian perempuan tersebut (ay.39). Semangat dan kegairahan untuk bersaksi senantiasa dimiliki oleh orang-orang yang telah mendapat pembaruan dari Tuhan. Mereka yang mau bersaksi adalah mereka yang mau berbagi hidupnya kepada orang lain. Karena mereka sadar bahwa mereka hidup bukan hanya untuk diri sendiri tetapi hidup untuk Tuhan dan untuk orang lain. Yesus yang telah menyelamatkan dan mengasihi hidup mereka tersebut harus disaksikan kebenarannya kepada orang lain. Lebih dari pada itu hidup mereka sendiri menjadi kesaksian bagi orang-orang yang ada di sekitar mereka.

Dengan memperhatikan betapa pentingnya bersaksi dalam kehidupan berjemaat, maka kiranya kita sebagai jemaat yang dewasa dalam Kristus untuk tetap menjadi saksi Kristus. Dengan berkata, bersikap dan bertindak benar maka hidup kita akan menjadi role model bagi sesama kita. Menjadi kesaksian bagi orang lain. Orang percaya adalah saksi bagi kebenaran dan kasih Allah. Yang kepada kita dipercayakan untuk menyampaikan berita Injil kepada semua semua orang yang ada di sekitar kita. Karena itu sebagai orang yang dipercayakan menjadi saksi untuk tetap membekali diri dengan kebenaran Firman Tuhan yang disampaikan kepada kita. Tanpa merasa sudah cukup bahkan puas dengan apa yang telah kita kitahui. Selamat bersaksi bagi kemuliaan nama Tuhan kita Yesus Kristus.

Rabu, 16 Oktober 2013

JEMAAT YANG KOINONIA


Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat
 (Ibr. 10:25)
Secara spesifik, kata “jemaat” dapat didefinisikan sebagai pribadi orang percaya yang telah dipanggil oleh Allah keluar dari gelap kepada terangNya. Sedangkan koinonia sendiri merupakan salah satu tugas panggilan gereja yang berarti bersekutu atau persekutuan. Secara spiritual, jemaat/orang percaya dipanggil untuk bersekutu dengan Allah, namun secara sosial jemaat dipanggil untuk bersekutu dengan sesama orang percaya. Karena sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah bukan hanya sebagai makhluk spiritual tetapi juga sebagai makhluk sosial. Hal ini berarti bahwa bahwa seseorang bukan hanya dituntut untuk bersekutu dengan Allah, tetapi juga perlu bersekutu dengan sesamanya. Sehingga menjadi sesuatu yang keliru ketika orang percaya menghilangkan atau meniadakan salah satu persekutuan. Bersekutu dengan sesama tidak ada artinya tanpa adanya persekutuan pribadi dengan Tuhan. Demikian juga sebaliknya, persekutuan pribadi dengan Tuhan akan tidak actual jika tidak di implementasikan dalam koinonia kepada sesama.

Pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi memang mempermudah manusia dalam melakukan berbagai aspek kehidupan. Dimana komunikasi dan informasi menjadi lebih mudah untuk diperolah. Berkembangnya teknologi dapat menjadi ancaman untuk seseorang menjadi “rusak” tetapi juga dapat menolong seseorang untuk bertumbuh dengan “baik atau benar”. Karena melalui iptek seseorang dapat memperoleh informasi yang salah namun melaluinya juga bisa mendapatkan informasi yang baik/benar, termasuk Firman Tuhan. Mendengan atau membaca Firman Tuhan melalui media memang tidak salah. Itu baik. Tetapi menjadi keliru bila kita merasa cukup bahkan puas dengan mendengar atau membaca firman melalui media atau teknologi namun mengabaikan persekutuan dengan sesama orang percaya lainnya. Dengan kata lain menganggap tidak perlu untuk datang bersekutu dengan orang percaya lainnya di gereja atau dikelompok-kelompok persekutuan lainnya.

Koinonia merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan bergereja atau berjemaat. Karena pentingnya koinonia, sehingga penulis Ibrani menasihatkan atau mengingatkan kepada orang percaya waktu itu supaya mereka jangan menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah (Ibr. 10:25). Dalam konteks kehidupan jemaat mula-mula, koinonia menjadi salah satu bagian dari cara atau model hidup mereka. Dalam konteks jemaat mula-mula ini, mereka melakukan koinonia karena mereka telah menerima perkataan para Rasul atau menerima pengajaran tentang Firman Tuhan yang disampaikan oleh para Rasul (Kis. 2:41). Dengan kata lain sebagai tanda mereka telah menerima dan mengalami Firman Tuhan sehingga ada koinonia dalam kehidupan jemaat mula-mula. Atas dasar panggilan Allahlah maka dapat terbentuknya koinonia (1 Kor. 1:9). Sehingga ketika jemaat mengabaikan koinonia, maka ia mengabaikan akan panggilan Allah dan mengabaikan Allah yang telah memanggilnya.

Selanjutnya, mengapa pentingnya koinonia dalam jemaat, adalah supaya bisa saling menasihati. Menasihati, mengajar, membimbing dan mengingatkan adalah hal yang penting dalam kehidupan berjemaat. Tidak ada seorang pun yang terlalu kuat seorang diri sehingga ia tidak memerlukan orang lain disisinya, dan tidak ada seorang pun yang terlalu lemah yang tidak memerlukan kehadiran orang lain dalam kehidupannya. Namun dengan koinonia maka satu sama lain dapat saling melengkapi, saling menopang dan saling memperhatikan sehingga jemaat dapat bertumbuh bersama satu dengan yang lain dalam pengenalan akan Kritsus. Selamat Menjadi jemaat yang koinonia. Tuhan Yesus memberkati.


BERUSAHALAH, JANGAN MENYERAH

  Berusahalah, Jangan Menyerah Salah satu tanda kehidupan adalah adanya usaha dan perjuangan. Sebatang pohon yang hidup maka akarnya akan te...