Jumat, 25 November 2016

AUTENTISITAS INJIL YESUS KRISTUS



                                                      Kisah Para Rasul 1:1-4
    Kebenaran objektif di dalam kekristenan bukanlah suatu spekulasi dari keyakinan yang buta, melainkan melalui pembuktian yang sudah dilakukan oleh ribuan bahkan jutaan orang. Alkitab memuat banyak kebenaran objektif. Demikian juga ketika dokter Lukas menyampaikan kebenaran Injil kepada Teofilus. Dari perikop ini kita dapat mempelajari tiga prinsip dalam memberitakan kebenaran objektif dari Injil.
       Pertama, fokus berita Injil yang benar adalah Kristus, bukan diri si pemberita. Lukas memaparkan segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Tuhan Yesus (Kisah Para Rasul 1:1), yang mencakup ajaran-Nya, mukjizat-Nya, tindakan kasih-Nya, serta kematian dan kebangkitan-Nya. Berita Injil yang diberitakan Lukas berpusat kepada Pribadi Kristus dan karya-Nya.
         Kedua, isi berita Injil yang benar adalah Yesus yang telah mati dan bangkit. Lukas memaparkan fakta bahwa Yesus sunguh-sungguh hidup (Kisah Para Rasul 1:3). Selama 40 hari Dia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara tentang Kerajaan Allah kepada para murid. Bahkan Ia juga makan bersama-sama mereka. Kematian dan kebangkitan Yesus penting dalam pemberitaan Injil karena fakta inilah yang membedakan Yesus dari para pemimpin dunia/agama lainnya.
        Ketiga, sikap pemberita Injil yang benar adalah taat. Murid-murid disuruh menantikan janji Bapa karena sebentar lagi mereka akan berjuang dalam tugas pemberitaan Injil (Kisah Para Rasul 1:4). Tuhan Yesus menyuruh mereka menunggu supaya kesatuan mereka bisa terlihat dengan menerima Roh Kudus bersama-sama. Di samping itu dengan menunggu, murid-murid diajar taat. Ketaatan adalah penting bagi pemberita Injil. Bagaimana mungkin kita menyuruh orang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kalau kita sendiri tidak taat kepada Dia?
         Sudahkah kita taat pada panggilan Allah untuk memberitakan Injil? Bagaimana cara dan upaya kita dalam memberitakan Injil? Siapakah yang kita beritakan, diri sendiri atau Tuhan Yesus yang mati dan sudah bangkit? Ingatlah bahwa pemberitaan Injil harus dilakukan sesuai dengan firman-Nya. Jangan sampai kita mencuri kemuliaan Allah!

Minggu, 05 Juni 2016

TAAT KEPADA ALLAH



        Tunduk kepada wewenang, menjalankan apa yang diperintahkan, mematuhi apa yang dituntut, atau menjauhkan diri dari apa yang dilarang oleh Allah itu adalah suatu gambaran atau sikap taat. Dalam Alkitab, gagasan tentang ketaatan dinyatakan dengan kata syama, yang pada dasarnya berarti ”mendengar atau mendengarkan”.  Sedangkan dalam Septuaginta atau dalam Perjanjian Baru, kata yang dipakai untuk menyatakan gagasan tentang ketaatan hypakouo yang secara harfiah berarti ”mendengar di bawah”, yaitu mendengar dengan sikap tunduk atau melayani (Kis 12:13). Istilah lain yang mengandung makna ketaatan adalah peiʹtho, yang artinya membujuk, menaruh kepercayaan, percaya, dan mengindahkan.
Terkadang syama, sekadar berarti mendengar, menjadi sadar akan sesuatu melalui indra pendengaran (Kej. 3:10). Namun, apabila kata-kata yang diucapkan menyatakan kehendak, hasrat, instruksi, atau perintah, makna istilah Ibrani itu adalah mengindahkan atau menaati orang yang sedang berbicara. Adam ”mendengarkan” perkataan istrinya, yaitu mengabulkan keinginan istrinya agar Adam juga ikut memakan buah yang terlarang. Yusuf menolak ’mendengarkan’ desakan istri Potifar (Kej. 39:10). Raja Saul takut kepada rakyatnya ”sehingga menaati (mendengarkan) perkataan mereka”, dengan demikian melangkahi perintah Allah (1 Sam. 15:24).
Istilah Ibrani yang sama digunakan sehubungan dengan Allah sewaktu Ia mendengar atau mendengarkan manusia. Misalnya, ketika Allah memberi tahu Abraham bahwa sehubungan dengan Ismael, Aku telah mendengarmu… (Kej. 17:20). Atau dibagian lain, Allah mendengar atau menanggapi permohonan orang-orang pada masa kesukaran atau penderitaan, mengabulkan permohonan mereka jika Ia menganggapnya bahwa hal tersebut dimaksudkan untuk memperlihatkan belas kasihan-Nya (Kel. 3:7-9). Hal ini tentu tidak sedang menyatakan bahwa Allah taat atau tunduk kepada manusia, melainkan untuk menyatakan akan kasih dan pemeliharaan-Nya kepada manusia. Allah peduli kepada manusia.
Ketika Alkitab menggunakan kata taat atau ketaatan, maka hal tersebut diperuntukan bagi manusia. Manusia harus taat kepada Allah. Ketaatan kepada Allah sangat penting untuk Kehidupan. sebaliknya ketidaktaatan manusia kepada Allah adalah awal dari kebinasaan bagi manusia (Kej. 3). Apa yang dituntut oleh Allah dari kehidupan manusia, yaitu ketaatan kepada Dia yang adalah Pencipta dan Pemelihara kehidupan (Mzm. 95:6-8).
Ketaatan kepada Allah tidak dapat digantikan oleh apa pun, misalnya, dengan mempersembahkan korban kepada Allah sebagai bentuk untuk mengganti hidup taat dalam mendengarkan firman Allah dan melakukan kehendak-Nya. Seperti yang dikatakan Samuel kepada Raja Saul, dalam 1 Samuel 15:22, ”Apakah Tuhan senang akan persembahan bakaran dan korban sama seperti akan menaati perkataan-Nya? Sungguh, Lihat! Menaati yang dinyatakan dengan sikap mendengar lebih baik daripada korban, memperhatikan lebih baik daripada lemak domba jantan”.
Ketaatan dalam mendengarkan suara Allah dan melakukan kehendak-Nya adalah hal yang pertama dan utama. Ketaatan kepada Allah membawa seseorang untuk memiliki kerinduan mendengar akan kebenaran firman Allah dan mendorong dia untuk melakukan seluruh kehendak Allah dalam totalitas hidupnya. Karena itu mempersembahkan korban kepada Allah seharusnya menjadi buah ketaatan yang ada dalam diri orang percaya.
Ketaatan kepada Allah menunjukan akan standar nilai hidup yang tinggi dihadapan Allah. Betapa Yesus Kristus, Tuhan yang telah mengambil rupa menjadi manusia telah menunjukan dan memberikan teladan kepada orang percaya. Hiduplah dalam ketaatan kepada dan lakukanlan apa yang menjadi kehendak-Nya, niscaya, Ia akan memelihara hidupmu. Amin

MEMAHAMI HIDUP KEBERIMANAN KRISTIANI


           Dalam sosiologi agama maka hampir semua orang beragama mengakui bahwa ia adalah orang beriman atau memiliki iman. Ini tentu sesuatu yang sangat menarik, karena secara umum iman selalu dipandang sebagai sesuatu yang dikaitkan dengan hidup keberagamaan. Misalnya, saya orang beriman karena saya memiliki agama, saya orang beriman karena saya telah melakukan berbagai aktivitas keagamaan saya. Saya orang beriman karena saya memiliki pola doa yang teratur dalam tiap hari. Saya orang beriman karena saya telah melakukan banyak mujizat. Saya orang beriman karena saya sudah memberitakan ajaran agama saya kepada orang lain. Tentu saja baik, ketika seseorang telah melakukan aktivitas-aktivitas keagamaan, memiliki pola doa dan melakukanya dengan komitmen pribadinya, melakukan mujizat, dan menjadi pemberita ajaran (Injil). Tetapi akankah itu adalah pertanda bahwa seseorang sudah memiliki iman yang sejati. Eh, nanti dulu!
Di dalam perjumpaanNya dengan orang-orang yang menyebut diri beragama, yang direpresentasikan pada para imam dan ahli taurat, Yesus sangat mengecam mereka dan menyebut bahwa mereka bukanlah orang beriman. Padahal mereka sudah melakukan aktivitas keagamaan. Yesus menyebut, mereka bukan orang yang diselamatkan (Mat. 23:13). Kepada orang yang melakukan berbagai mujizat dan memberitakan Injil palsu dengan berbagai motivasi buat diri mereka, Yesus pun mengecam, bahwa mereka ditolak oleh surga (Mat. 7:21-23). Sesungguhnya seseorang yang memiliki iman yang sejati, pasti akan dikenal dan diterima oleh surga. Karena iman bersumber dari Pemilik surga. Sebagai warga kerajaan surga yang diberi mandate tinggal dalam kesementaraan di dunia, maka sudah seharunya orang beriman menunjukan kualitas kehidupan keberimanannya di mana Tuhan hadirkan.
Sebaliknya dalam tatanan hidup keberagamaan manusia pun dengan sangat mudah mengatakan bahwa seseorang tidak memiliki iman. Misalnya ketika, seseorang mendoakan orang yang sakit dan tak kunjung sembuh bahkan meninggal, maka dengan mudahnya si-pendoa berkata bahwa yang di doakan itu tidak punya iman. Atau ketika seseorang melihat orang yang miskin, dan dengan mudah orang lain berkata bahwa dia tidak memiliki iman, karena kalau dia beriman pasti dia diberkati dan kaya, punyai ini dan itu. Secara natur alami, umumnya semua manusia ingin sehat terus-menerus, ingin hidup dalam berkecukupan dan bahkan berkelimpahan dalam materi. Tetapi, lagi, akan kah itu adalah pertanda bahwa seseorang yang mengalami hal tersebut dimaksud adalah orang yang tidak memiliki iman yang sejati. Eh, nanti dulu!
Betapa Alkitab memberi kesaksian kepada kita, Tuhan memperhatikan, memelihara kehidupan janda miskin dan memuji iman mereka (1 Raj. 17; Luk. 21:1-4). Injil Yohanes menyajikan di mana Allah ingin menyatakan pekerjaanNya melalui seorang yang buta sejak lahir (Yoh. 9:3). Para nabi, para rasul dan orang-orang yang mendapat kasih karunia Allah, mereka yang dipilih oleh Allah secara khusus untuk menjadi alat di dalam tangannya, betapa di dalam hidupnya, mereka mengalami berbagai macam pergumulan dan kesulitan hidup. Namun mereka memperlihatkan betapa mereka gigih berjuang, hidup dalam kebenaran dan melakukan apa yang menjadi kehendak Allah. Itulah hidup orang beriman. Hidup yang tidak cengeng dalam menghadapi berbagai pergumulan hidup. Hidup yang memuliakan Tuhan dalam berbagai kondisi yang diperkenan Tuhan.
Ayo mawas diri dalam hidup keberimanan. Bicara tentang iman adalah bicara tentang anugerah Allah kepada orang yang Dia perkenan. Iman adalah pemberian Allah kepada orang pilihan-Nya untuk hidup percaya kepada Yesus Kristus, Tuhan dan melakukan kehendak Allah. Iman yang sejati adalah diperuntukan Allah bagi orang yang mendapat anugerah keselamatan yang telah dikerjakan oleh Yesus Kristus Tuhan (Ef. 2:8). Dan sebagai orang yang telah diberi iman oleh Allah, maka sudah seharusnya kita melakukan kehendak Allah. Karena untuk itulah Allah memanggil kita. (Ef. 2:10). Amin

Sabtu, 07 Mei 2016

HIDUP DIUBAH OLEH KUASA KEMATIAN DAN KEBANGKITAN KRISTUS

Hasil gambar untuk hidup YANG DIUBAH kuasa kematian dan kebangkitan kristus
        Mengingat peristiwa penyaliban dan kebangkitan Kristus, baru beberapa hari kita peringati. Peristiwa Agung yang terjadi satu kali untuk selama-lamanya. Satu kali untuk semua orang yang diperkenanNya. Peristiwa yang tak tertelan oleh waktu. Peristiwa yang berlaku disegala abad dan segala tempat tersebut seyogyanya mewarnai hidup tiap orang percaya untuk hidup seperti apa yang Dia kehendaki. Semestinya sikap hidup orang percaya yang telah dibaharui oleh kuasa kematian dan kebangkitan Kristus, berkata: “Aku berserah dalam ketidak-mengertianku, kehendak-Mu-lah yang jadi, rancangan-Mu-lah yang terwujud dalamku.” Rasul Paulus memberi teladan di dalam ia menginginkan agar  ‘dipersatukan dengan kematian Kristus’ itu menjadi pengalamannya. Ketika merelakan salib bekerja secara penuh dalam hidup kita, maka tahapan itu akan cepat kita lalui. Kita akan lebih cepat menyelesaikan ujian dan proses yang harus kita jalani. 
       Ketika salib sedang berproses atas kita, posisikan diri sebagai orang yang telah memiliki kuasa kebangkitan, yaitu keyakinan bahwa kita pasti bangkit kembali. Kita menyikapinya dengan memuliakan Tuhan dan mengikatkan diri kepada target Tuhan. Reaksi natural kita biasanya terkejut, takut, malu, bertanya-tanya, mencari pembenaran diri, mencari orang yang mau membela kita, mengasihani diri, dan semacamnya. Jangan tenggelam dalam reaksi manusiawi yang menuntut keadilan dan merasa menjadi korban. Kita melepaskan hak kita seperti respon Yesus terhadap proses penyaliban-Nya. Karena itu, sebagaimana Kristus telah bangkit, kitapun pasti akan bangkit. 
        Oleh sebab itu, muliakan Tuhan dalam keadaan apapun yang menimpa kita. Pujilah Tuhan atas kasih dan kesetiaanNya. Apa yang Tuhan inginkan untuk terjadi sebagai hasilnya, seharusnya menjadi fokus dan target yang harus kita kejar hidup yang telah dibaharui oleh karya Kristus. Melewati salib, kita diubah jadi emas murni. Kita harus menanggapi dipersatukan dengan kematian Kristus ini dengan sikap minta dibersihkan dari sikap mementingkan diri dengan segala keinginan yang tersembunyi. Sebagaimana Ayub, ketika melewati masa “salib”nya,  dia memutuskan menjadi emas murni: “Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas. Kakiku tetap mengikuti jejak-Nya, aku menuruti jalan-Nya dan tidak menyimpang.” (Ayub 23:10,11).
        Ketika telah menjadi emas murni, maka kita akan mencintai Tuhan dengan hati yang murni, tidak ada lagi sisa cinta pada diri yang penuh dengan keinginan duniawi. Urusan yang tidak bernilai kekal tidak akan mengganggu apapun di dalam kita. Kita  menjadi orang yang mengejar kepentingan Tuhan, bukan kepentingan diri sendiri. Perasaan Tuhan dan pandangan Tuhan menjadi yang lebih utama. Kita tidak sibuk memikirkan dan mempertahankan harga diri kita, melainkan menjadi rendah hati, rela ditegur, dan peka terhadap godaan untuk menyombongkan diri. Inilah emas murni yang Tuhan cari dari hati kita. Kuasa kematian dan kebangkitan Kristus mengubah kita menjadi emas murni.
         Apapun yang sedang kita alami, kuasa kebangkitan sudah ada di dalam kita. Muliakanlah Tuhan dengan apapun yang terjadi atas hidup kita. Orang yang memuliakan Allah akan mampu melihat kemuliaan Allah yang dinyatakan pada dirinya. Betapa, kuasa kematian dan kebangkitan Kristus seharusnya hidup dalam kehidupan kita. Sebab oleh kuasa itulah yang menopang sehingga kita menjadi berani melakukan apa yang orang lain takuti. Kita bisa membuang dan menanggalkan segala sesuatu yang tidak bernilai kekal, yang mungkin orang lain pertahankan mati-matian. Haruskah kita mengejar hal-hal yang bernilai fana dan bersifat kesementaraan melebihi semangat dan kegairahan kita dalam menjalani hidup benar dan melayani-Nya yang telah menganugerahkan hidup yang kekal. Sungguh, betapa hebat kuasa Kristus bagi orang yang percaya. (Ef. 1:19-21 ). Jalanilah hidup yang telah dimurnikan oleh Allah dengan takut dan gentar. Berkarya dimana Dia hadirkan kita.

Jumat, 06 Mei 2016

DOA SEORANG KRISTEN SEJATI

teenz-prayer-juni.jpg
 Maka Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita, kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin. 
                                                       (Ibrani 13:20-21) 

         Pada ayat sebelumnya penulis kitab Ibrani menasihatkan kepada para penerima dan pembacanya, yaitu orang percaya mula-mula supaya mereka berdoa untuk pemimpin. Mengingat tugas dan tanggung jawab berat yang diemban oleh pemimpin serta banyaknya tantangan yang mereka hadapi. Entah itu tantangan dari eksternal maupun internal. Sementara pemimpin mesti mampu hidup dalam kualitas iman kepada Allah yang diaktualisasikan dalam seantero kehidupan nyata sehari-hari. Pemimpin yang dimaksud oleh penulis Ibrani tentu menunjuk pada pemimpin yang adalah manusia (ay. 18a). Manusia, bukan super hero, juga bukan Allah yang punya kuasa, kekuatan dan otoritas benuh. Tetapi, mereka, yaitu pemimipin, manusia yang adalah ciptaan yang punya keterbatasan karena itu penulis Ibrani sadar betul, pemimpin pun memerlukan support, dan yang mereka yang dipimpin pun sudah semestinya memberikan dukungan doa. Akan hal dukungan doa bagi pemimpin dan pemberita Injil, Rasul Paulus dalam surat kepada jemaat di Tesalonika, ia berkata; “selanjutnya, saudara-saudara, berdoalah untuk kami…”(2 Tes. 3:1). 
         Dalam konteks Ibrani ini, secara praktis tampaknya penulis sedang terpisah dari penerima dan pembaca surat kirimannya. Harapan penulis dari doa yang disampaikan kepada Allah untuk mereka adalah berharap penulis lekas kembali dan bersekutu dengan penerima dan pembaca surat pada saat itu. Sungguh, ini memang tidak mudah karena terpisah dari kebersamaan yang tampaknya pernah ada, namun ini juga gambaran relasi yang indah, persekutuan, dan kepedulian antara pemimpin dan yang dipimpin. Selanjutnya, bukan sekedar hal praktis  yang diharapkan dari penulis Ibrani ini, dimana ia berharap boleh kembali pada persekutuan dengan orang percaya mula-mula pada waktu itu. Tapi juga ada hal yang sangat menarik yang seharusnya menjadi perhatian dan pokok penting dalam hidup keberimanan kepada Allah. Karena ada hal teologis yang ingin ditekankan oleh penulis Ibrani. Yaitu Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita. Ini adalah point penting dalam ajaran dan iman Kristen. Damai sejahtera Allah dalam dan oleh karya Yesus Kristus membawa manusia berdosa yang diperkenan-Nya untuk kembali ke dalam persekutuan yang indah dengan Allah. Ini adalah suatu jaminan yang pastian bagi orang percaya.
        Penulis Ibrani sangat menyadari bahwa darah perjanjian yang kekal dari Allah memiliki signifikasi penting bagi kehidupan orang percaya. Karena itu penulis berdoa bagi para penerima dan pembaca suratnya. Doa dan harapannya adalah supaya orang percaya diperlengkapi oleh Allah dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan apa yang berkenan kepada-Nya. inilah permohonan penulis Ibrani kepada Allah dalam Kristus Yesus. Dengan tujuan, supaya melalui kehidupan mereka, nama Allah dipermuliakan. Selama orang percaya hidup di dalam dunia, dan dalam kondisi serta situasi apapun yang mereka alami, mereka seyogyanya hidup dalam kebenaran Allah dan memuliakan nama-Nya melalui seantero kehidupan mereka. Doa dan harapan penulis Ibrani ini, seharusnya menjadi doa setiap orang percaya yang menyadari akan karya Allah dalam Kristus Yesus yang telah menebus hidupnya. Ironisnya, tidak sedikit orang Kristen gagal dalam memahami apa yang seharusnya menjadi pokok doa. Sejujurnya,bukankah kita juga terjebak dalam hal yang sama, kita sering berdoa untuk apa yang menjadi keseangan sesaat bagi hidup, yang sebetulnya belum tentu itu menjadi kemuliaan bagi nama Tuhan. Sudah semestinya kita berdoa kepada Tuhan, kiranya melalui hidup Kita, nama Tuhan yang dipermuliakan, kiranya melalui hidup kita orang lain diberkati oleh Tuhan.  
         Pada bagian sebelumnya telah dipaparkan nasihat penulis kitab Ibrani kepada para penerima dan pembacanya, yaitu orang percaya mula-mula supaya mereka berdoa untuk pemimpin. Mengingat tugas dan tanggung jawab berat yang diemban oleh pemimpin serta banyaknya tantangan yang mereka hadapi. Entah itu tantangan dari eksternal maupun internal. Sementara pemimpin mesti mampu hidup dalam kualitas iman kepada Allah yang diaktualisasikan dalam seantero kehidupan nyata sehari-hari. Pemimpin yang dimaksud oleh penulis Ibrani tentu menunjuk pada pemimpin yang adalah manusia (ay. 18a). Manusia, bukan super hero, juga bukan Allah yang punya kuasa, kekuatan dan otoritas benuh. Tetapi, mereka, yaitu pemimipin, manusia yang adalah ciptaan yang punya keterbatasan karena itu penulis Ibrani sadar betul, pemimpin pun memerlukan support, dan yang mereka yang dipimpin pun sudah semestinya memberikan dukungan doa. Akan hal dukungan doa bagi pemimpin dan pemberita Injil, Rasul Paulus dalam surat kepada jemaat di Tesalonika, ia berkata; “selanjutnya, saudara-saudara, berdoalah untuk kami…”(2 Tes. 3:1). Dalam konteks Ibrani ini, secara praktis tampaknya penulis sedang terpisah dari penerima dan pembaca surat kirimannya. Harapan penulis dari doa yang disampaikan kepada Allah untuk mereka adalah berharap penulis lekas kembali dan bersekutu dengan penerima dan pembaca surat pada saat itu. Sungguh, ini memang tidak mudah karena terpisah dari kebersamaan yang tampaknya pernah ada, namun ini juga gambaran relasi yang indah, persekutuan, dan kepedulian antara pemimpin dan yang dipimpin.
          Selanjutnya, bukan sekedar hal praktis  yang diharapkan dari penulis Ibrani ini, dimana ia berharap boleh kembali pada persekutuan dengan orang percaya mula-mula pada waktu itu. Tapi juga ada hal yang sangat menarik yang seharusnya menjadi perhatian dan pokok penting dalam hidup keberimanan kepada Allah. Karena ada hal teologis yang ingin ditekankan oleh penulis Ibrani. Yaitu Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita. Ini adalah point penting dalam ajaran dan iman Kristen. Damai sejahtera Allah dalam dan oleh karya Yesus Kristus membawa manusia berdosa yang diperkenan-Nya untuk kembali ke dalam persekutuan yang indah dengan Allah. Ini adalah suatu jaminan yang pastian bagi orang percaya.
        Penulis Ibrani sangat menyadari bahwa darah perjanjian yang kekal dari Allah memiliki signifikasi penting bagi kehidupan orang percaya. Karena itu penulis berdoa bagi para penerima dan pembaca suratnya. Doa dan harapannya adalah supaya orang percaya diperlengkapi oleh Allah dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan apa yang berkenan kepada-Nya. inilah permohonan penulis Ibrani kepada Allah dalam Kristus Yesus. Dengan tujuan, supaya melalui kehidupan mereka, nama Allah dipermuliakan. Selama orang percaya hidup di dalam dunia, dan dalam kondisi serta situasi apapun yang mereka alami, mereka seyogyanya hidup dalam kebenaran Allah dan memuliakan nama-Nya melalui seantero kehidupan mereka. Doa dan harapan penulis Ibrani ini, seharusnya menjadi doa setiap orang percaya yang menyadari akan karya Allah dalam Kristus Yesus yang telah menebus hidupnya. Ironisnya, tidak sedikit orang Kristen gagal dalam memahami apa yang seharusnya menjadi pokok doa. Sejujurnya,bukankah kita juga terjebak dalam hal yang sama, kita sering berdoa untuk apa yang menjadi keseangan sesaat bagi hidup, yang sebetulnya belum tentu itu menjadi kemuliaan bagi nama Tuhan. Sudah semestinya kita berdoa kepada Tuhan, kiranya melalui hidup Kita, nama Tuhan yang dipermuliakan, kiranya melalui hidup kita orang lain diberkati oleh Tuhan. 

Rabu, 04 Mei 2016

MELAYANI OLEH KEHENDAK ALLAH


Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.
(Efesus 1:1-2)

Tanpa diragukan bahwa Rasul Paulus adalah penulis Kitab Efesus. Sebagai penulis, Paulus tentu dituntun dan dikuasai oleh Roh Kudus sepenuhnya, sehingga apa yang ditulisnya adalah benar-benar Firman Allah. Allah berotoritas penuh dalam memakai seluruh pikiran, kepribadian, kepandaian, dan bakat-bakat Paulus, sehingga ia betul-betul menuliskan Firman Allah sesuai kehendak Allah. Selanjutnya disebutkan bahwa Paulus adalah rasul Kristus Yesus. Ilham dari Allah dan kerasulan Paulus menjadi dasar otoristas isi surat sekaligus menyatakan sifat resmi surat yang ditulisnya.

      Menarik untuk diperhatikan bahwa, Paulus adalah rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah. Kerasulan Paulus bukan karena diutus oleh jemaat, bukan karena kehendak orang lain, juga bukan karena sukarela menawarkan diri, melainkan oleh kehendak Allah. Hal Ini menunjukkan bahwa panggilan menjadi rasul datang dari Allah. Dalam kasih karunia Tuhan, Paulus sangat menyadari bagaimana Tuhan memanggilnya menjadi utusan untuk memberitakan Injil tentang Yesus Kristus. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia “Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karuniaNya, berkenan menyatakan AnakNya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia; juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik” (Gal. 1:15-17).

      Melayani oleh kehendak Allah memberikan makna bahwa melayani adalah kasih karunia dari Allah. Siapakah manusia, sehingga oleh dan dengan kekuatannya, kepintarannya, kekayaannya bahkan dengan segala yang adapadanya dapat melayani Allah jika bukan Allah yang menggerakan dan mendorong manusia untuk melayani-Nya. Karena panggilan melayani Allah adalah atas dasar kehendak Allah, maka pelayanan harus berpusat kepada kehendak Allah, bukan pada kesenangan dan kebutuhan diri. Kehendak Allah harus lebih utama dan diatas kehendak diri. Dan itu sangat nyata dalam kehidupan diri Paulus. Apa yang Tuhan kerjakan dalam kehidupan Paulus, menyadar-ingatkan kita dalam melayani Tuhan. Sungguh, ketika kita melayani, kita melayani karena kasih dan kehendak Allah. Sehingga ketika kita melayani, maka kita melayani dengan hati nurani yang tulus dan murni. Panggilan dan kehendak Allah adalah dasar yang teguh dalam menjalani hidup melayani Tuhan. 

      Melayani oleh kendedak Allah adalah kerelaan untk menjadi saluran berkat bagi orang lain. Dalam permohonannya kepada Allah Paulus dengan jelas mengatakan kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu. Menjadi saluran berkat tidak serta merta dengan memberi hal-hal berupa harta benda. Paulus telah menjadi saluran berkat dalam memberika ajaran yang benar tentang Injil. Paulus telah menjadi saluran berkat dalam hidup keberimanan dan dalam keteladanan hidup yang nyata. Kepada Timotius dia berkata; “Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku,  cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku” (2 Tim 3:10). Demikian seharusnya panggilan kehidupan kita dalam melayani. Kiranya Tuhan menolong dan memberkati kita dalam melayani Tuhan di tiap sudut kehidupan yang Tuhan percayakan. Amin

Jumat, 16 Januari 2015

Hikmat Dalam Pengambilan Keputusan


"Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.(Matius 10:16)

Keputusan Yesus ketika Ia mengutus murid-muridnya seperti doma ke tengah-tengah serigala, merupakan pengutusan yang unik.  Mengapa? Sungguh tidak berimbang antara domba dengan serigala.  Dan domba yang diutus bukan domba yang super (super sheep), yang mampu mengalahkan serigala. Tetapi domba yang lemah, yang hampir pasti akan binasa dan mati. Banyak orang berpikir kalau menjadi pengikut Yesus, everything oke, semuanya akan baik dan kami akan mendapat kemudahan-kemudahan yang kami perlukan. Itulah yang diharapakan manusia pada umumnya. Sesungguhnya, tidak demikian ketika Yesus mengutus murid-muridNya. Yesus berkata; “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala”

Memahami kontek ini, demikianlah gambaran orang-orang Kristen di tengah-tengah dunia ini. Kita tidak dibuat lebih hebat. Terhindar dari kesulitan. Tidak. Tapi kita dituntut untuk tetap mengambil keputusan. Di tengah situasi yang sulit, kita dituntut untuk mengambil keputusan-keputusan penting dalam kehidupan.Ada dua hal yang menjadi pancingan dan menggoda dalam situasi sulit, ketika harus mengambil keputusan; Pertama, Terpancing untuk lari dan menghidar dari kesulitan. Kecenderungan naluri manusia ketika menghadapi kesukaran adalah menghindar dan lari. Tak terkecuali, tidak sedikit orang Kristen pun tidak siap menghadapi kesulitan. Entah itu kesulitan hidup dalam usaha, pekerjaan dan bahkan ketika diperhadapan dengan pelayanan yang penuh dengan tantangan. Seraya menganggap bahwa; “ini bukan kehendak Tuhan”. Manusia cenderung mengukur kehendak dan perkenanan Tuhan dengan segala sesuatu berjalan baik, lancar, serta tanpa kesulitan dan tantangan. Alkitab dengan jujur memberi kesaksian akan kesulitan yang dialami oleh orang percaya mula-mula dan bahkan oleh para rasul, ketika mereka melayani Allah. Salah satu contoh adalah kehidupan perjalanan pelayanan Rasul Paulus. Kedua, menyamar menjadi serigala, dengan meniru dan bersikap ganas layaknya serigala, dan bahkan lebih ganas dari serigala. Ini sebagai satu strategi untuk mendapat rasa aman dan pengakuan komunitas dan tempat di mana dia ada. Manusia tidak siap terisolir karena berbeda dengan dengan yang lain. Kecenderungan manusia tidak siap berbeda atau berjalan sendiri untuk sesuatu yang benar. Menjadi sama adalah salah satu langkah yang aman. Dan tidak sedikit orang Kristen hidup sama dengan orang duniawi, karena ingin rasa aman.

Dalam situasi seperti domba, Yesus memberikan solusi atau cara bagaimana kita mengambil keputusan. Strategi Pertama; Hendaklah kamu cerdik seperti ular. Ular adalah salah satu binatang yang cerdik. Misalnya, berbelit-belit, tetapi juga punya strategi dalam beradabtasi dengan mengganti kulitnya. Ular bukan saja simbol binatang yang cerdik tetapi juga mengingatkan kita pada peristiwa taman Eden, dimana ular dipakai oleh iblis untuk berbicara kepada hawa. Dan singkatnya, Hawa tertarik pada kisah yang disampaikan oleh ular. Ketika kita diminta untuk cerdik dalam pengambilan keputusan, kita tidak diminta untuk cerdik dalam menipu, tetapi pandai membuka cerita, menyampaikan kisah, yaitu kisah tentang kebenaran Allah. Dan hikmat dari Allah akan menolong kita untuk mampu menceritakan kebenaran. Strategi Kedua; Hendaklah engkau tulus seperti merpati. Kata “tulus” adalah kata yang sangat bagus,  akeraios (Yun); sincerus (Latin) yaitu sesuatu yang simple, sederhana, polos, lugu dan apa adanya. Sikap tulus dan murni sangat diperukan dalam mengambil keputusan. Sebagai sikap jujur dalam hidup keberimanan kepada Allah. Yesus mengajarkan kepada kita dalam hidup keimanan, betapa ketulusan diperlukan dalam mengambil keputusan. Ketulusan dan kecerdikan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam mengambil keputusan. Keduanya harus seimbang. Sebab, ketulusan tanpa kecerdikan akan membuat orang menjadi konyol yang tidak pernah lepas dari kesulitan. Sebaliknya kecerdikan tanpa ketulusan dapat membuat orang menjadi jahat, licik yang dapat menjatuhkan orang lain.

Pengambilan keputusan bukan sekedar sebuah ajaran menganenai SOP (standar operasional prosedur), tetapi seni. Pengambilan keputusan dalam kehidupan adalah art, yaitu bagaimana kita mengolah peristiwa demi peristiwa di setiap hari kita. Dan, di tengah sulitnya kehidupan di dunia, seperti domba di tengah-tengah serigala, Roh Kudus yang adalah Hikmat itu sendiri yang akan menyertai dan menuntun kita dalam pengambilan keputusan. Amin 

BERUSAHALAH, JANGAN MENYERAH

  Berusahalah, Jangan Menyerah Salah satu tanda kehidupan adalah adanya usaha dan perjuangan. Sebatang pohon yang hidup maka akarnya akan te...