Sabtu, 10 Juli 2021

SUKACITA KETIKA MENDERITA

 

Mendekati kebaikan dan menjauhi penderitaan, barangkali itu yang ada dalam pemikiran dan keinginan manusia. Mengapa? Karena penderita identik dengan ketidaknyamanan, kesatikan, ketidakberdayaan, kemiskinan dan lain-lain. Menderita sesuatu yang tidak menyenangkan. Bagi manusia tidak ada sukacita ketika hidup mengalami penderitaan. Tetapi Alkitab memberikan pemikiran yang berberbeda dari apa yang manusia umumnya pikirkan. Bagi kehidupan orang percaya, bersukacita bukan hanya ketika hidup tidak mengalami penderitaan. Bersukacita dapat dirasakan ketika hidup sedang mengalami suatu penderitaan. Penderitaan tidak bisa dihindari oleh manusia. Bahkan setiap manusia memilki bagian penmderitaannya masing-masing, termasuk bagi orang percaya. Apa yang dikatakan oleh rasul Petrus; “Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.”1 Petrus 4:13

Bagaimana penderitaan bagi kehidupan orang percaya? Bagaimana orang percaya ketika mereka menderita? Mengapa orang percaya menderita? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering muncul dalam pikiran sebagian orang Kristen.  Seorang Puritan, Thomas Case, menuliskan berikut ini. Penderitaan kita sendiri memberikan sebagian pencerahan tentang penderitaan Yesus Kristus. Di masa kemakmuran, kita mengabaikan salib. Cerita tentang kesengsaraan Kristus membawa hati kita kepada-Nya, tetapi rasa haru dan kesedihan cepat berlalu. Tetapi jika Allah menimpakan penyakit pada tubuh kita, membuat nyeri tulang-tulang kita, dan demam membakar kita, kaki lecet-lecet di balik kasut, dan jiwa kita tertikam pisau, maka kita akan memandang Dia yang mereka tikam dan mengatakan: “Jika serpihan salib yang saya rasakan sedemikian berat, betapakah berat salib (Kristus) yang sesungguhnya? Jika rasa sakit tubuhku demikian pahit, alangkah menyesakkannya penderitaan yang dipikul Tuhan Yesus di dalam jiwa-Nya?

Jika kemarahan manusia begitu menusuk hati, bagaimanakah jadinya murka Allah? Bukankah begitu pedih hati kita tatkala ditinggalkan para sahabat? Lalu seperti apakah rasanya bagi Anak Allah yang dikasihi, ditinggalkan oleh Bapa-Nya? Apakah belenggu begitu berat, penjara begitu menjijikkan, dan hukuman mati demikian mengerikan? Aduh, bagaimana rasanya bagi Dia, Pencipta langit dan bumi, dibelenggu, diejek, ditindas, diludahi, dipukul, dicerca, dilempar ke penjara, didakwa, dihukum, dan dihukum mati dengan cara yang paling memalukan dan terkutuk! Oh, untuk apa Dia menanggung semua perlawanan manusia berdosa, kegusaran setan, dan murka Allah, sambil berteriak keras: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” la tidak melakukan satu pun kejahatan, tipu tidak pernah keluar dari mulut-Nya.

Terpujilah Allah, penjaraku bukanlah neraka, kebakaranku bukanlah oleh api tak terpadamkan, cawan minumanku tidak diisi oleh murka (Allah), dan aku dilepaskan dari murka yang akan datang! Dengan keikutsertaan kita menanggung sisa-sisa serpihan salib, yang diwariskan kepada kita sebagai pusaka, kita dapat sedikit memahami penderitaan Kristus, atau setidaknya melalui penderitaan kita yang sangat tidak sebanding dengan penderitaan-Nya, kita mampu menduga-duga penderitaan-Nya yang tidak mampu kita pahami sepenuhnya. Tuhan menolong, memimpin dan menguatkan ketika kita sedang mengalami penderitaan. 

Minggu, 04 Juli 2021

BELAJAR MENCUKUPKAN DIRI

Belajar mencukupkan diri         


Rasa tidak cukup, tidak puas dan ingin lebih. Itulah gambaran hati manusia berdosa. Merasa tidak pernah cukup mengakibatnya manusia menjadi serakah, mengekspoitasi, menindas, menjarah, mencuri, korupsi hingga tega membunuh sesama bahkan keluarga demi mencapai keinginannya. Tidak pernah puas dan tidak merasa cukup juga membuat manusia sulit untuk berbagi dengan sesamanya, karena hidup hanya berpusat pada diri. Manusia akan menjadi egois dan krisis cinta kasih. Tidak pernah merasa puas dan selalu merasa kurang membuat manusia tidak bersukacita, kalau pun ada sukacita, maka sukacitanya adalah sukacita yang semu. Orang yang merasa selalu kurang dan tidak pernah merasa cukup akan sulit untuk mengucap syukur atas pemeliharaan Tuhan dalam kehidupannya. Kemampuan dan perasaan merasa cukup bukan tindakan instan dalam diri seseorang tetapi suatu proses pembelajaran yang harus dilakukan.

        Sebagai orang percaya apakah kita masih diikat oleh hati dan sikap hidup yang tidak pernah merasa cukup? Atau kita sudah belajar untuk mencukupkan diri dengan segala yang Tuhan telah berikan kepada kita? Belajar mencukupkan diri berarti menyangkut suatu pengendalian atas diri. Itulah yang dilakukan oleh rasul Paulus ketika ia berkata; Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan (Filipi 4:11).

Mengutip dari pandangan seorang puritan bernama Thomas Lye, ada karang-karang dan rawa pasir hisap yang harus dihindari secara maksimal oleh iman: Waspadailah kekhawatiran yang merusak (Flp. 4:6). Kekhawatiran yang merusak adalah kekhawatiran yang membuat seseorang meragukan pemeliharaan Tuhan atas hidupnya. Allah yang memberi makan burung pipit akan mencukupi kebutuhan kita. Hati-hati terhadap nasihat duniawi, dan jangan mengandalkan manusia atau bantuan yang bersifat kedagingan. Mencari kelepasan dengan melawan hukum dapat disamakan dengan memancing menggunakan kail emas tetapi hanya berhasil menangkap bangkai ikan, tubuh mungkin terpelihara, tetapi membinasakan jiwa.

Jangan membatasi Yang Kudus dari Israel dengan satu cara kelepasan belaka. Naaman menginginkan Nabi Elisa menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit (kusta) itu untuk menyembuhkannya. Namun Elisa memerintahkan kepadanya untuk pergi ke sungai Yordan, dan mandi tujuh kali di sana (2Raj. 5:10-11). Awasi ketidaksabaran yang menimbulkan sungut-sungut, keluh kesah, dan perbantahan melawan pengaturan Allah. Inilah batu besar yang menjadi sandungan Yunus yang malang: kemarahannya yang begitu besar karena pohon jarak yang mengering. Jangan meragukan kasih Allah ketika menderita. Hati Allah tidak dapat kita pahami sepenuhnya. Diperlukan iman untuk taat pada pemeliharaan Allah.

 Iman kerap kali justru menemukan kasih di hati Allah meskipun yang terlihat di keningNya kernyitan belaka. Batu pemberat iman bergerak dalam aliran arus yang berbeda. Iman mengalir dalam arus rasa cukup (Flp. 4:11) dan kerendahan hati. Kerendahan hati menenangkan jiwa dan membuatnya selamat menunggangi badai. Kesombongan membengkakkan hati dan menyebabkan hati tidak sanggup menahan beban sekecil apa pun. Iman juga mengalir dalam arus pemikiran sorgawi. Iman mengecap dan mengarahkan afeksinya pada perkara yang di atas. Iman yang dipengaruhi oleh pemikiran sorgawi, terbang tinggi dan mampu memandang melampaui bintang-bintang. Iman memandang pada "tangan sorga” dalam semua peristiwa hidupnya. Iman memandang melampaui hingga menjangkau isi hati Allah. “Allah yang mengambil,” kata Ayub. Allah senantiasa bertindak atas dasar kasih, yang mana tujuan akhir pengaturan-Nya senantiasa demi kebaikan para orang kudus-Nya. Iman berpusatkan pada kemuliaan di masa mendatang. Kristus menjalani salib menuju sorga: demikianlah seharusnya semua orang percaya. Pikullah salib hari ini, terimalah mahkota kehidupan di hari esok (Yak. 1:12). Mohonlah kekuatan dan pertolongan dari Allah untuk menjalani semuanya. Tuhan memberkati. Amin

Jumat, 02 Juli 2021

JANGAN PUTUS ASA SAAT SITUASI HIDUP YANG BERAT

          Dalam zaman kepemerintahan raja Yosafat, bangsa Israel menghadapi peperangan melawan bani Moab dan bani Amon. Mereka bangsa yang besar, kuat dan punya pasukan yang banyak jika di bandingkan dengan orang Israel. Raja Yosafat menjadi takut. Apakah Yosafat akan menyerah, putus asa, dan takluk kepada musuhnya? Tidak. Yosafat mencari Tuhan. Ia berseru kepada Tuhan. Dia datang kepada Allah. Tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Salah satu kalimat yang ia ucapkan adalah “Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu” (2 Taw. 20:12).

Apa yang di hadapi oleh Yosafat merupakan gambaran hidup yang mungkin sedang kita hadapi, atau akan kita hadapi. Masalah kita begitu banyak dan sangat besar. Kita tidak tahu harus berbuat apa? Harus bertindak bagaimana? Tetapi ingat, kita punya Allah.

Masa kesesakan adalah masa yang tepat untuk mengandalkan Allah. Ketika tidak ada roti untuk dimakan, atau air untuk diminum, tetapi hanya ada kesesakan dan keterkejutan, inilah saatnya untuk tidak secara berlebihan berduka, menggerutu, tenggelam, patah semangat, putus asa, melainkan saat untuk mengandalkan Allah. Jika di kapal, nakhoda memerintahkan petugas kapal untuk melemparkan jangkar ke bawah (ke laut) supaya jangkar dapat terkait pada batu karang untuk menahan kapal agar dapat bertahan dan tenang ketika ada ombak badai yang datang menerpa. Demikian juga seyogyanya kita orang percaya. Saat diserang badai, orang percaya harus melemparkan jangkarnya ke atas. Bukan ke bawah. Ke atas, kepada Allah, Dialah Batu Karang yang teguh tenpat jangkar kita terpaut. Kita melemparkan jangjar ke atas, Percaya dan mengandalkan Tuhan.

Menyerahkan hidup pada Tuhan, mengandalkan Dia merupakan obat penawar paling ampuh bagi kita untuk mendapat ketenangan hidup, melawan kelemahan, ketidakberdayaan, dan keterpurukan. Tatkala Tuhan mengijinkan beragam kesulitan hidup, ombak dan gelombang yang datang menerpa hidup kita, ada kedukaan, kesulitan ekonomi, pekerjaan dan sebagainya, tatkala la meremukan kita, tatkala panahNya menusuk kita, dan tekanan tangan-Nya yang menyakitkan, tatkala kita makan debu bagaikan roti dan minuman kita bercampur dengan tangisan, inilah saatnya untuk merangsang iman kita kembali ke tujuan sejati. Dalam situasi badai seperti ini, dudukkan iman di tempat pengemudi dan lindungi jiwa dari kekaraman.

Iman bergulat dengan Goliat penderitaan, dan sanggup mengalahkannya. Tatkala hati condong gagal, jiwa condong tak berdaya, iman mengambil “botol obat"-nya dan mengatur pemberian minuman penyegar iman. Di tengah semua badai, topan, dan prahara, ya, di tengah angin ribut kedukaan dan kesengsaraan, iman tahu bagaimana dan kapan melemparkan jangkar: “Janganlah gelisah hatimu: percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku" (Yoh. 14:1).

Iman adalah obat penawar ampuh dan penyembuh kita. menuntun kita kembali pada Allah. Iman memungkinkan kitaa tetap hidup di tengah kematian. Allah mempunyai sarana luar biasa untuk menanggulangi ketika sarana-sarana lain gagal. la mampu mengubah racun menjadi penawar ampuh, hambatan menjadi pendorong, dan penghancuran menjadi kelepasan. Burung gagak memberi makan Nabi Elia. Ikan besar Tuhan pakai menjadi kapal dan juga kaptennya Yunus. Tanpa sarana pun, Allah yang mahakuasa juga mampu berkarya. Bukankah begitu banyak kesaksian yang Alkitab berikan kepada kita ketika Allah membawa umat-Nya ke dalam situasi kebuntuan. Allah memberi manna kepada orang Israel untuk mereka makan. Memberi mereka minum dari bukit batu. Musa bersama dengan orang Israel digiring oleh Allah kepinggir laut Teberau. Yosua dan umat Israel digiring oleh Allah ke tepi sungai Yordan. Mengapa Ia melakukan itu? Ia melakukan ini agar mereka mengenal kesanggupan-Nya. Allah beserta dengan umatNya senantiasa, tetapi Ia paling ramah saat mereka paling terpuruk. Allah beserta dengan kita. Allah beserta dengan saudara. Bahkan Ia paling mengerti ketika engkau dan saya paling terpuruk dan jatuh ke tingkat yang paling terendah. Allah hadir di sana dan mengangkat kita memimpin kita untuk berjalan dalam kehendak-Nya, mencapai tujuan yang Dia sediakan bagi kita. Amin

 

 

Jakarta, 03 Juli 2021

Rabu, 30 Juni 2021

Allah Tempat Perteduhan

 Dalam surat kepada orang percaya di Efesus, Paulus dalam doanya menyampaikan akan kelimpahan kasih karunia Allah dalam Tuhan Yesus Kristus yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan…(Ef. 3:20)

Tangan Tuhan yang mahakuasa merupakan dasar yang kokoh dan tempat yang aman bagi tempat orang kudus menaruh kepercayaan mereka. Berbagai gambaran yang dipakai oleh Alkitab untuk menyatakan akan Allah Yang Mahakuasa. Ia mengukur langit dengan jengkal-Nya (Yes. 40:12). Ia jaya dan perkasa (Mzm. 24:8) dan dengan memberi perintah maka terciptalah dunia (Mzm. 33:9). la adalah El-Shaddai, Allah yang Maha kuasa (Kej. 17:1). Kuasa-Nya yang besar jauh melebihi kebutuhan kita, doa-doa kita, pemikiran, dan semua yang mungkin pernah kita perlukan, minta, atau bayangkan. Kita dapat meminta hal-hal besar dan membayangkan bahkan yang lebih besar lagi. Namun kuasa Allah jauh melampaui semuanya. Jika kita membuka mulut lebar-lebar, maka Ia akan membuatnya penuh (Mzm. 81:11).

Jika manusia membuat penyangga bagi dirinya, apakah penyangga tersebut memiliki kekuatan untuk menopang manusia? Sudah pasti tidak. Penyangga buatan manusia tidak mampu menahan bobot jiwa yang tidak fana. Penyangga buatan cenderung ambruk di bawah kita. Tetapi Allah yang mahakuasa adalah gunung batu. Orang yang membangun di atas dasar-Nya akan kokoh walaupun angin melanda dan badai menerjang (Mat. 7:25). Di atas gunung batu itu Abraham telah mendirikan imannya yang melampaui akal, yaitu iman yang transenden (Rm. 4:21) demikian juga dengan Daud. Ia mendirikan keyakinannya yang tak tergoyahkan di atas gunung batu yang kokoh, yaitu Allah.

Alasan dan dasar lain untuk mengandalkan Allah ialah di atas kemurahan dan kelimpahan-Nya serta kebaikan-Nya yang cuma-cuma, dan tak terbatas. Hati-Nya lembut dan tangan-Nya kuat. la tidak pernah kekurangan hasrat ataupun kemampuan untuk memberi kelegaan. “Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia” (Mzm. 103:13). Seorang ayah yang melihat anaknya kekurangan akan berusaha untuk menolong anaknya. Seorang ayah tidak akan berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa untuk menolong anaknya jika ia melihat anaknya mengalami kekurangan. Itulah ayah yang baik. Jika anaknya meminta ikan maka ayah yang baik tidak akan memberikan ular sebagai gantinya, jika anaknya meminta telur apakah ayahnya akan memberikan kala jengking? (Luk. 11:11-12). Allah adalah Bapa yang begitu mengasihi anak-anak-Nya. Ia Tuhan yang sangat mengasihi umat-Nya. Kasih-Nya melampaui batas yang dapat dipikirkan dan dimohonkan oleh umat-Nya.

Betapa baiknya Allah. Allah sungguh Allah yang baik. Dia sajalah “yang terbaik.” Kebaikan adalah sifat-Nya yang memikat dan merupakan kemuliaan-Nya. Musa meminta untuk melihat kemuliaan Allah dan ia melihat kebaikan-Nya (Kel. 33:8). Sekalipun kita tidak layak memohon apa pun kepada Allah, namun Ia berkenan memberikan apa yang Dia ingin berikan kepada kita menurut kerelaan dan kekayaan kasih karunia-Nya. Allah memberikan diri dalam Tuhan Yesus Kristus yang menyerahkan nyawanya, rela mati di kayu salib  untuk menebus kita dari hukuman murka Allah yang membinasakan. Yesus Kristus datang ke dalam dunia,  rela berdiam bersama dengan manusia untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita. Apakah kita masih ragu akan pemeliharaan Allah dalam Tuhan Yesus Kristus dan penyertaan Roh Kudus atas hidup kita? Kiranya tidak. Mari letakanlah hidup kita pada dasar yang kokoh, yaitu Allah sebagai gunung batu yang teguh. Dia adalah kekuatan dan hidup kita. Amin

Senin, 28 Juni 2021

Sandaran Hidup

            Apa yang menjadi objek andalan manusia? Apakah kesehatan? Atau kekuatan fisik? Usia yang masih muda? Otak yang pintar? Keluarga? Sahabat? Atau harta kekayaan? Apakah itu semua adalah akar dan pondasi untuk kita meletakan hidup? Jika ya, maka seberapa kuat semua hal tersebut untuk menjadi pondasi bagi kehidupan kita? Bagaimana dengan kita sebagai orang percaya. Apakah kita menjadikan semua itu sebagai objek andalan kita. Bukan.

Tuhan seharusnya menjadi objek tunggal andalan orang percaya. Di tengah pergumulan hidup, topan badai, kita harus datang kepada Gunung Batu ini sebagai tempat perlindungan (Yes. 26:4). Saat panas terik, pohon jarak Yunus terbukti tidak berarti; tidak ada tempat teduh yang menyamai naungan sayap-Nya (Mzm. 36:8). Pengandalan atau kepercayaan yang kudus merupakan satu tindakan lazim sekaligus istimewa, menyembah kepada Allah yang kudus. Tidak boleh ciptaan berbagian dalam hal ini, karena itu akan menjadi ilah atau allah palsu. Memercayai dan mengandalkan Allah merontokkan engsel-engsel kepercayaan kita kepada yang lain termasuk kepercayaan kita pada diri sendiri. Kita tidak dapat mengandalkan Allah sekaligus Mamon. Seharusnya hanya ada satu tali busur kepercayaan kita, dan itu adalah Tuhan. Secara lebih khusus, kita tidak boleh meletakkan andalan kudus kita kepada apa pun, baik yang berada di dalam maupun di luar kita, selain kepada Allah. Kita tidak dapat bersandar pada pengertian sendiri (Ams. 3:5). Meletakkan dan menaruh kepercayaan pada sesuatu yang bukan Allah hanya akan menuntun kita ke tempat berlumpur yang mematikan. Pada kesesatan yang semakin jauh dari pusat kehidupan dan semakin masuk dalam kegelapan yang tidak ada setitik pun sinar di sana.

Kita tidak dapat mengandaikan hati kita sendiri, karena hati kita terlalu licik (Yer. 17:9). Kita tidak dapat mengandalkan kekuatan fisik kita. Lengan yang paling berotot pun akan gagal sama sekali tatkala diserang kematian dan penyakit. Kaki yang sekarang berdiri kokoh laksana pilar tembaga segera akan tampak aslinya, pilar cetakan tanah liat yang rapuh. Kita tidak dapat mengandalkan keunggulan-keunggulan alami kita yang adalah pinjaman, semua ini adalah kesia-siaan. Tidak ada juga hal-hal di luar diri kita yang dapat kita andalkan, selain Allah. Mengandalkan apa pun yang merupakan bagian dari alam ciptaan ibarat memberi diri makan kerikil. Kita tidak boleh mengandalkan kekayaan yang melimpah, sekalipun dalam aliran paling lancar dan limpah, kekayaan adalah hal yang paling tidak menentu dan tidak akan berfaedah pada hari penghakiman. Harta kekayaan apapun tidak memiliki nilai yang stabil. Nilainya bisa berubah kapanpun. Harta kekayaan bisa hilang, entah karena diambil pencuri atau karena bencana seperti kebakaran, bencana alam dan lain sebagainya. Harta kekayaan berapapun banyaknya dan sebesar apapun nilainya tetap adalah benda mati. Dan itu bisa dicari, bisa dibeli. Karena itu jika kita percaya pada harta kekayaan untuk hidup maka kita akan sia-sia.

Orang yang mengandalkan kekayaan tidak pernah dapat mengharapkan warisan pusaka di sorga. Lebih muIah seekor unta masuk lubang jarum daripada seorang kaya memasuki gerbang kemuliaan sorga. Demikian juga jika mengandalkan manusia, yang tidak lain adalah buluh yang patah. Manusia hanyalah debu dan harapan-harapan kita lenyap bersama kematian. Ah, tetapi orang kudus mendapatkan dasar fondasi kokoh dengan mengandalkan Allah! Semua yang kita temukan di dalam Allah akan mengajarkan kepada kita untuk menempatkan kepercayaan kita di dalam Dia saja. Percayalah kepada Allah. Allah kita adalah tempat kita bersandar dengan aman. Karena itu Yesaya mendorong atau memerintahkan bahwa percaya pada Tuhan adalah selama-lamanya bukan hanya dalam situasi tertentu saja tetapi dalam setiap musim hidup kita. Percayalah pada Tuhan bukan hanya sesaat atau sementara, tetapi selama-lamanya. Amin

Minggu, 27 Juni 2021

Allah Punya Rencana Bagi Kita

Allah mempunyai rencana atas setiap kehidupan kita. Itu adalah suatu penghiburan yang perlu kita sadari dalam kehidupan ini. Segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan di dunia ini berada dalam kedaulatan dan kuasa-Nya, termasuk penderitaan dan beragam kesulitan hidup yang kita hadapi seperti masa pandemic covid yang sedang terjadi. Allah mengetahui setiap kondisi hidup yang kita hadapi, bahkan rambut di kepala kita sekalipun Allah mengetahuinya (Luk. 12:7). Karena itu tidak perlu kita mengalami ketakutan yang berlebihan.

Percayakan hidup secara total kepada Allah. Walau goncangan ini telah mempengaruhi banyak dari kita. Tapi kita tetap percaya bahwa Allah tidak pernah terlelap dan tertidur (Mzm. 121:4). Firman Kebenaran ini memberi penghiburan dan sukacita bagi kita untuk tetap memiliki kekuatan dan bersandar terus pada Tuhan dan tetap percaya pada pemeliharaan-Nya. Kita percaya bahwa Dia sanggup menolong kita untuk melewati berbagai kesulitan yang sementara ini. Kesulitan yang kita hadapi akan berakhir, walau terkadang harus berakhir dengan kematian. Namun kita tetap berpegang pada janji Allah bahwa Ia akan memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (Flp. 4:19). Ingat akan janji Allah bahwa Ia akan menyertai kita sampai kepada akhir zaman (Mat. 28:20). Tetap semangat…tetap kuat. Tuhan Yesus menyertai kita semua. Amin

Jumat, 23 Agustus 2019

DOA YESUS UNTUK PARA MURID-NYA

Yohanes 17:9-17
 
     Yesus mendoakan murid-murid-Nya agar Tuhan memisahkan dan melindungi mereka dari dunia ini. Untuk merekalah Kristus berkorban, dan untuk merekalah Kristus berdoa. Kasih dan kedekatan Yesus dengan murid-murid-Nya sangat terlihat di dalam doa ini. Yesus akan pergi meninggalkan para murid dan Dia meminta Bapa untuk menjaga mereka. Mereka telah diberikan Bapa kepada Dia, dan sekarang Yesus menyerahkan mereka ke tangan Bapa karena Dia akan segera pergi kepada Bapa. Yesus telah menjanjikan kepada mereka akan mengirimkan Roh Kudus, dan Yesus tetap mendoakan agar Bapa menjaga para murid. Doa dan janji-Nya berisi tema yang sama. Para murid tidak sanggup menjalankan yang Yesus jalankan dengan penuh kesetiaan. Tetapi Yesus adalah Sang Pengantara yang tidak mungkin gagal. Dia menebus kita dengan darah-Nya, dan Dia mendoakan kita agar Bapa senantiasa memelihara iman kita. Doa Yesus adalah ekspresi jiwa-Nya yang penuh kasih sekaligus ungkapan diri-Nya yang dekat dengan Bapa. Doa yang memohon bagi orang lain sesuai dengan kehendak Bapa di surga adalah doa yang benar, berkuasa, dan patut diteladani. Apakah yang sering kita doakan? Kita sering kali terlalu berpusat pada diri di dalam doa-doa kita, atau sering kali juga kita mendoakan banyak hal tanpa kepekaan akan kehendak Bapa di surga. Tetapi doa tidak boleh dipanjatkan dengan munafik. Apa yang ada di dalam hati kita, itulah yang kita doakan. Dengan demikian, melatih diri untuk mendoakan orang lain demi kehendak Bapa di surga dan demi kemuliaan Bapa di surga adalah bentuk disiplin rohani yang tidak boleh diabaikan. Yesus berdoa agar Bapa menyertai murid-murid-Nya demi kemuliaan Bapa. Mengapa? Karena mereka ini adalah milik Bapa yang dipercayakan kepada Kristus. Yesus, Gembala mereka, menerima mereka dari Bapa, dan Yesus menyerahkan mereka ke dalam perlindungan tangan Bapa karena Dia akan menyelesaikan pekerjaan yang menjadikan para murid itu milik-Nya dan milik Bapa-Nya. Betapa indahnya doa ini. Yesus, yang rela mati bagi murid-murid-Nya ini, akan segera menyelesaikan pekerjaan-Nya menyatakan Kerajaan Allah dan menebus umat pilihan Allah. Dia, yang dengan sempurna mengerjakannya, tetap bergantung pada Bapa di surga untuk pekerjaan-Nya ini. Kebergantungan kepada Bapa bukanlah sifat pasif, pasrah, dan tidak berjuang. Justru kegigihan memperjuangkan kehendak Tuhan harus dilakukan secara menyeluruh. Rencana, tindakan, kegigihan, niat hati, dan kebergantungan di dalam doa menjadi satu kesatuan yang tidak mungkin dipisahkan. Yesus mengasihi murid-murid-Nya, Dia telah menetapkan hati untuk menebus mereka. Yesus mengasihi Bapa-Nya, Dia telah menetapkan hati untuk menaati-Nya menggenapi rencana Kerajaan-Nya di surga dan dunia. Yesus, yang telah menetapkan hati-Nya untuk melakukan hal-hal ini, juga akan menjalankannya dengan sempurna. Yesus yang akan menjalankannya dengan sempurna, juga adalah Yesus yang berdoa bergantung kepada Bapa di surga untuk menjaga para murid dan memuliakan nama Allah.
      Selama Yesus bersama para murid, Dia menyertai mereka, mendampingi mereka, menjaga, dan melindungi mereka seperti gembala yang baik menyertai domba-dombanya. Tidak ada yang diluputkan dan tidak ada yang dibiarkan hilang kecuali dia yang tidak pernah dipilih untuk menjadi milik-Nya. Setelah Yesus menyelesaikan pekerjaan-Nya, Dia akan pergi meninggalkan murid-murid-Nya. Untuk apakah Dia pergi? Untuk menyelesaikan pekerjaan-Nya sebagai Imam Besar yang memimpin jemaat Allah. Dia ada di surga menjadi Pengantara bagi kita. Dan inilah yang sedang Yesus lakukan. Dia berdoa sebagai Imam Besar yang mengasihi dan memedulikan jemaat Allah. Imam Besar yang tidak ingin umat Allah tercerai-berai.
     Bagaimana supaya murid-murid dapat terpelihara? Bagaimana agar mereka tidak lepas dan binasa? Hanya ada satu cara, yaitu dengan menyatukan mereka dengan Yesus dan dengan Bapa di surga. Inilah yang Yesus minta di ayat 11. Apakah maksudnya kesatuan antara murid-murid dan Yesus bersama Bapa? Di dalam ayat 10-17 kesatuan antara murid-murid dan Yesus bersama Bapa terjadi karena tiga hal. Yang pertama adalah kesatuan di dalam kasih, yang kedua adalah identitas di dalam Kristus dan di dalam Bapa, dan yang ketiga adalah kesatuan karena dipelihara oleh firman. Kasih Bapa di dalam Kristus diberikan Kristus kepada murid-murid. Identitas, yaitu nama yang diberikan Bapa kepada Kristus, diberikan oleh Kristus kepada murid-murid. Dan yang ketiga adalah firman yang diberikan Bapa kepada Kristus, diberikan oleh Kristus kepada murid-murid. Semua ini dilakukan agar Kristus, Bapa, dan para murid menjadi satu.

BERUSAHALAH, JANGAN MENYERAH

  Berusahalah, Jangan Menyerah Salah satu tanda kehidupan adalah adanya usaha dan perjuangan. Sebatang pohon yang hidup maka akarnya akan te...