Rabu, 12 Februari 2014

AWAS, JERAT DUNIA

Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih kesabaran dan kelembutan. (1 Timotius 6:11)

Ketika manusia jatuh ke dalam dosa maka natur manusia telah rusak total. sehingga yang ada dalam diri manusia hanya ada satu, yaitu cinta pada dirinya sendiri. Manusia menolak Allah dalam tatolitas hidupnya. Jauh dari dapa manusia untuk mencari Allah. Manusia hanya hidup sesuai dengan apa yang diinginkannya. Mereka hanya ingin melihat apa yang bisa memuaskan mata, mendengar apa yang dapat memuaskan telinganya dan melakukan sesuatu yang hanya bisa memberikan sebuah keuntungan. Sehingga benar atau salah bukan sebuah pertimbangan penting untuk menentukan sebuah pilihan dalam melakukan segala sesuatu. Hedonisme dan materialisme menjadi tujuan dan gaya hidup manusia yang membudaya dalam natur yang berdosa.

Gaya hidup hedonisme dan materialisme bukan hal baru, yang kita temuka dan kita hadapi di zaman yang serba modern ini, tetapi juga di zaman sebelumnya, bahkan ketika zaman Alkitab di tuliskan. Sebagai salah satu contoh, orang-orang yang ada di jemaat Efesus, dimana Timotius melayani. Mereka memiliki gaya hidup materalisme. Paulus menjelaskan bahwa ada dari antara mereka yang hidupnya hanya ingin kaya, sehingga mereka jatuh ke dalam berbagai pencobaan. Mereka jatuh ke dalam jerat dan ke dalam berbagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam reruntuhan dan kebinasaan. Bahkan ada di antara mereka menyimpang dari iman hanya karena ingin mengejar dan mendapatkan uang. Gaya hidup materialisme telah menguasai mereka dan uang telah menjadi tujuan utama dari kehidupan beberapa jemaat di Efesus.

Melihat fenoma yang terjadi di Efesus tersebut, Rasul Paulus pernah menasehatkan dan mengingatkan kepada Timotius, anak rohaninya; “Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih kesabaran dan kelembutan. (1 Timotius 6:11). Istilah pemakaian kata “manusia Allah” dalam PL menunjuk kepada mereka yang melayani Tuhan seperti para imam dan nabi, namun dalam PB istilah “manusia Allah” bukan hanya mengacu kepada para rasul tetapi juga menunjuk atau dikenakan kepada semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus dan yang melakukan kehendak-Nya.

Paulus ingin agar Timotius sebagai orang percaya yang juga melayani di Efesus tidak terjebak dan terjerat oleh gaya hidup seperti yang dilakukan oleh beberapa orang di Efesus. Sebagai orang percaya kiranya kita diberi hikmat untuk menghadapi dan menjalani kehidupan dunia yang serba penuh dengan kebahagiaan yang bersifat sesaat. Apalagi sampai menyimpang dari iman di dalam Tuhan Yesus Kristus hanya demi mengikuti “trend” yang sedang berkembang di sekitar kita. Karena tidak sedikit “orang Kristen” di zaman sekarang yang dengan rela dan dengan mudahnya meninggalkan persekutuan dengan Tuhan hanya karena demi mempertahankan “life style”. Karena itu, biarlah himbauan dan nasehat Rasul Paulus kepada Timotius juga mengingatkan kepada kita orang-orang percaya yang hidup di zaman yang serba modern untuk tetap kuat dalam iman dan setia dalam melayani Tuhan.  Amin

Jumat, 18 Oktober 2013

Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?”

( I Korintus 15 : 55 )
Proklamasi Rasul Paulus akan kuasa kebangkitan Kristus ini merujuk kepada penggenapan dari apa yang tertulis di dalam Hosea pasal 13 ayat 14: “Akan Kubebaskankah mereka dari kuasa dunia orang mati, akan Kutebuskah mereka dari pada maut? Di manakah penyakit samparmu, hai maut, di manakah tenaga pembinasamu, hai dunia orang mati? Mata-Ku tertutup bagi belas kasihan.” Mengapa proklamasi dari kuasa kebangkitan Kristus ini dikumandangkan?. Rasul Paulus mengetahui bahwa jemaat di Korintus telah menerima ajaran-ajaran yang salah mengenai kebangkitan tubuh. Sebagian orang Kristen Korintus yang berasal dari bangsa asing telah menolak kebangkitan tubuh dari kematian. Bahkan beberapa orang Korintus yang sudah percaya juga telah menolak realita kebangkitan tubuh Yesus Kristus. Rasul Paulus telah mendengar adanya pandangan yang salah dari orang-orang Korintus tentang kebangkitan Yesus Kristus. Ia harus mengembalikan mereka dari doktrin yang salah kepada ajaran yang benar yang sebelumnya telah diajarkan oleh para rasul.
            Rasul Paulus mengajarkan doktrin kebangkitan Yesus Kristus berdasarkan apa yang ditulis Kitab Suci. Saksi mata kebangkitan dengan jumlah yang cukup banyak itu menegaskannya. Ada tiga fakta dasar Injil yang telah disampaikan dan ini merupakan penggenapan dari apa yang tertulis di dalam Perjajian Lama. Ketiga fakta tersebut adalah :
 1.       Bahwa Yesus mati karena dosa-dosa kita sebagaimana tertulis didalam Kitab Suci (Yesaya 53:5-12).
2.       Bahwa Yesus telah dikubur dan telah dibangkitkan di hari yang ketiga sesuai dengan Kitab Suci (Mazmur 16: 8-10, Yunus 1:17).
3.       Bahwa Yesus telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus orang.
            Ketiga fakta diatas terdapat di dalam I Korintus pasal 15 ayat 3 sampai 6. Saat Rasul Paulus menuliskan tentang saksi mata ini banyak dari saksi mata-saksi mata tersebut masih hidup sehingga memungkinkan siapa saja untuk menyelidiki kebenarannya secara langsung kepada mereka. Saksi-saksi mata kebangkitan Kristus yang jumlahnya cukup banyak itu membuktikan bahwa kebangkitan Kristus ini bukanlah semata-mata halusinasi sekelompok orang.
            Rasul Paulus mengatakan bahwa jika Kristus tidak bangkit, maka Injil yang diberitakan oleh para rasul itu adalah sia-sia dan demikian pula halnya dengan iman orang-orang Korintus. Yang benar ialah: kematian datang melalui Adam tetapi kebangkitan dari kematian datang hanya melalui Kristus. Kebangkitan ini terjadi dengan ordo berikut ini: Pertama, Kristus terlebih dahulu dibangkitkan; Kedua, mereka yang adalah milik-Nya akan dibangkitkan kemudian. Adam membawa tubuh jasmani yang berasal dari debu tanah kepada keturunannya, tetapi Kristus membawa tubuh rohani yang berasal dari surga kepada orang-orang percaya.
            Rasul Paulus meminta pembacanya untuk kembali kepada ajaran yang benar dan memerintahkan meraka untuk berhenti berbuat dosa lagi sekaligus memperingatkan mereka bahwa di antara mereka ada orang-orang yang tidak  mengenal Allah dan hal ini dapat berakibat buruk terhadap mereka. Rasul Paulus mengejek kematian dengan mengutip apa yang telah disebut oleh Yesaya dan Hosea (Yesaya 25:8 dan Hosea 13:14) serta sekaligus mengekspresikan ucapan syukur kepada Tuhan atas kemenangan Yesus Kristus ini. Itu sebab Rasul Paulus memerintahkan para pembacanya agar tetap teguh , tidak goyah dan giat selalu di dalam pekerjaan Tuhan.

Kamis, 17 Oktober 2013

JEMAAT YANG MARTURIA

Dalam salah satu media online, jawaban.com, pada 8 Oktober 2013 melansir berita tentang kontoversi adanya rencana penghapusan sumpah di atas Alkitab dalam proses peadilan di Inggris. Para hakim Inggris menilai bahwa sumpah di atas Alkitab bagi para tersangka yang bersaksi untuk menyatakan kebenaran tidak memberikan pengaruh kepada mereka. Konsekuensi yang mereka terima tetap sama, yaitu penjara, apabila mereka tidak menyatakan kebenaran. Namun rencana para hakim Inggris tersebut belum final dan masih akan dibahas untuk dipertimbangkan. Pasalnya, pihak gereja di Inggris menilai hal tersebut sebagai bentuk penghapusan agama dari masyarakat. Lebih daripada itu "Alkitab terikat dengan konstitusi, lembaga dan sejarah bangsa. Tepat bila memilih sumpah, satu agama atau tidak beragama," ujar Pendeta Michael Nazir–Ali, mantan Bishop Rochester.
 Marturia atau bersaksi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan umat Tuhan atau dalam gereja Tuhan. Disebut penting karena marturia merupakan satu dari tiga panggilan gereja. Bersaksi adalah perintah atau mandat dari Yesus bagi para muridNya. Sebelum naik ke surga Tuhan Yesus berkata kepada para muridNya "Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi" (Kis.1:8). Menjadi saksi Tuhan adalah sebuah panggilan semua orang percaya. Karena itu marturia adalah hak dan tanggungjawab setiap jemaat Tuhan. Itu merupakan kehormatan dari Allah.
Menjadi saksi bagi Kristus adalah persoalan yang jauh lebih pelik dari menjadi saksi dalam pengadilan. Sebab yang diperlukan bukan hanya kata-kata melainkan mencakup seluruh totalitas hidup. Memiliki pengetahuan yang banyak akan kebenaran Firman Tuhan adalah sesuatu yang penting. Itu sangat baik. Karena tanpa pengetahuan bagaimana seorang dapat menyampaikan kesaksiannya dengan benar. Kekayaan pengetahuan akan kebenaran Firman Tuhan akan menolong seseorang untuk dapat bersaksi dengan benar. Namun sikap dan perbuatan sehari-hari bukan sesuatu yang harus diabaikan. Itu merupakan kesaksian nyata hidup orang percaya yang dapat mempengaruhi banyak orang. Itu adalah buah yang nyata dari iman orang percaya. Paulus menyebut hidup orang percaya sebagai surat Kristus yang hidup yang dikenal dan bisa dibaca oleh semua orang (2 Kor. 3:2-3). Dengan kata lain Kristus akan nampak dalam kehidupan orang percaya. Sehingga orang-orang percaya seyogyanya menjadi saksi Tuhan dimanapun ia berada.

Selain melaksanakan perintah Allah, bersaksi juga penting karena dengan bersaksi merupakan kesempatan untuk berbagi. Seorang perempuan Samaria yang berjumpa dengan Tuhan Yesus di sebuah sumur yang disebut sumur Yakub (Yoh. 4:1-42). Setelah Yesus selesai berbicara dengannya. Perempuan itu pulang dan bersaksi tentang Yesus. Ia membagi akan apa yang telah disampaikan oleh Yesus kepada orang lain. Sehingga banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada Yesus, karena perkataan atau kesaksian perempuan tersebut (ay.39). Semangat dan kegairahan untuk bersaksi senantiasa dimiliki oleh orang-orang yang telah mendapat pembaruan dari Tuhan. Mereka yang mau bersaksi adalah mereka yang mau berbagi hidupnya kepada orang lain. Karena mereka sadar bahwa mereka hidup bukan hanya untuk diri sendiri tetapi hidup untuk Tuhan dan untuk orang lain. Yesus yang telah menyelamatkan dan mengasihi hidup mereka tersebut harus disaksikan kebenarannya kepada orang lain. Lebih dari pada itu hidup mereka sendiri menjadi kesaksian bagi orang-orang yang ada di sekitar mereka.

Dengan memperhatikan betapa pentingnya bersaksi dalam kehidupan berjemaat, maka kiranya kita sebagai jemaat yang dewasa dalam Kristus untuk tetap menjadi saksi Kristus. Dengan berkata, bersikap dan bertindak benar maka hidup kita akan menjadi role model bagi sesama kita. Menjadi kesaksian bagi orang lain. Orang percaya adalah saksi bagi kebenaran dan kasih Allah. Yang kepada kita dipercayakan untuk menyampaikan berita Injil kepada semua semua orang yang ada di sekitar kita. Karena itu sebagai orang yang dipercayakan menjadi saksi untuk tetap membekali diri dengan kebenaran Firman Tuhan yang disampaikan kepada kita. Tanpa merasa sudah cukup bahkan puas dengan apa yang telah kita kitahui. Selamat bersaksi bagi kemuliaan nama Tuhan kita Yesus Kristus.

Rabu, 16 Oktober 2013

JEMAAT YANG KOINONIA


Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat
 (Ibr. 10:25)
Secara spesifik, kata “jemaat” dapat didefinisikan sebagai pribadi orang percaya yang telah dipanggil oleh Allah keluar dari gelap kepada terangNya. Sedangkan koinonia sendiri merupakan salah satu tugas panggilan gereja yang berarti bersekutu atau persekutuan. Secara spiritual, jemaat/orang percaya dipanggil untuk bersekutu dengan Allah, namun secara sosial jemaat dipanggil untuk bersekutu dengan sesama orang percaya. Karena sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah bukan hanya sebagai makhluk spiritual tetapi juga sebagai makhluk sosial. Hal ini berarti bahwa bahwa seseorang bukan hanya dituntut untuk bersekutu dengan Allah, tetapi juga perlu bersekutu dengan sesamanya. Sehingga menjadi sesuatu yang keliru ketika orang percaya menghilangkan atau meniadakan salah satu persekutuan. Bersekutu dengan sesama tidak ada artinya tanpa adanya persekutuan pribadi dengan Tuhan. Demikian juga sebaliknya, persekutuan pribadi dengan Tuhan akan tidak actual jika tidak di implementasikan dalam koinonia kepada sesama.

Pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi memang mempermudah manusia dalam melakukan berbagai aspek kehidupan. Dimana komunikasi dan informasi menjadi lebih mudah untuk diperolah. Berkembangnya teknologi dapat menjadi ancaman untuk seseorang menjadi “rusak” tetapi juga dapat menolong seseorang untuk bertumbuh dengan “baik atau benar”. Karena melalui iptek seseorang dapat memperoleh informasi yang salah namun melaluinya juga bisa mendapatkan informasi yang baik/benar, termasuk Firman Tuhan. Mendengan atau membaca Firman Tuhan melalui media memang tidak salah. Itu baik. Tetapi menjadi keliru bila kita merasa cukup bahkan puas dengan mendengar atau membaca firman melalui media atau teknologi namun mengabaikan persekutuan dengan sesama orang percaya lainnya. Dengan kata lain menganggap tidak perlu untuk datang bersekutu dengan orang percaya lainnya di gereja atau dikelompok-kelompok persekutuan lainnya.

Koinonia merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan bergereja atau berjemaat. Karena pentingnya koinonia, sehingga penulis Ibrani menasihatkan atau mengingatkan kepada orang percaya waktu itu supaya mereka jangan menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah (Ibr. 10:25). Dalam konteks kehidupan jemaat mula-mula, koinonia menjadi salah satu bagian dari cara atau model hidup mereka. Dalam konteks jemaat mula-mula ini, mereka melakukan koinonia karena mereka telah menerima perkataan para Rasul atau menerima pengajaran tentang Firman Tuhan yang disampaikan oleh para Rasul (Kis. 2:41). Dengan kata lain sebagai tanda mereka telah menerima dan mengalami Firman Tuhan sehingga ada koinonia dalam kehidupan jemaat mula-mula. Atas dasar panggilan Allahlah maka dapat terbentuknya koinonia (1 Kor. 1:9). Sehingga ketika jemaat mengabaikan koinonia, maka ia mengabaikan akan panggilan Allah dan mengabaikan Allah yang telah memanggilnya.

Selanjutnya, mengapa pentingnya koinonia dalam jemaat, adalah supaya bisa saling menasihati. Menasihati, mengajar, membimbing dan mengingatkan adalah hal yang penting dalam kehidupan berjemaat. Tidak ada seorang pun yang terlalu kuat seorang diri sehingga ia tidak memerlukan orang lain disisinya, dan tidak ada seorang pun yang terlalu lemah yang tidak memerlukan kehadiran orang lain dalam kehidupannya. Namun dengan koinonia maka satu sama lain dapat saling melengkapi, saling menopang dan saling memperhatikan sehingga jemaat dapat bertumbuh bersama satu dengan yang lain dalam pengenalan akan Kritsus. Selamat Menjadi jemaat yang koinonia. Tuhan Yesus memberkati.


Jumat, 27 September 2013

Kesepuluh Orang Kusta


Lukas 17:11-19 
Pertanyaan ini merupakan salah satu pertanyaan Yesus setelah kesepuluh orang kusta menemui Dia, mereka berdiri dari jauh lalu berseru kepadaNya “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Dan sepuluh orang kusta tersebut sembuh semua. Tentu saja kesembuhan mereka harus mendapat kepastian pemeriksaan oleh imam. Mereka semua sembuh/tahir. Di manakah yang sembilan orang itu?
Secara umum tentu kita sering mendengar bahwa sembilan orang yang tidak datang kepada Yesus adalah orang yang tidak tahu berterima kasih. Apakah demikian sejatinya? Karena kebanyakan orang memahami bahwa asumsi di balik pertanyaan-pertanyaan Yesus “Dimanakah  yang Sembilan orang itu?” merupakan suatu keharusan untuk datang atau kembali kepada Yesus untuk “mengucapkan syukur kepada-Nya” atau dalam bahasa kita sekarang “berterima kasih” Dalam kisah tersebut sungguh ironis, karena hanya orang asing yang datang kepada Yesus. Dalam konteks itu, tentu saja kita bisa menyebutnya sebagai orang Samaria. Hanya dia satu-satunya yang kembali untuk mengucapkan terima kasih, sedangkan sembilan orang yang lain tidak. Negatifnya adalah, Sembilan orang tersebut  “tidak tahu berterima kasih”. Mengapa? Karena mereka tidak kembali untuk menyampaikan terima kasih secara verbal (mengucapkan terima kasih) kepada Yesus.
   Yang menjadi pertanyaan bagi kita mengapa Sembilan orang itu tidak datang atau kembali kepada Yesus? Apakah itu suatu keharusan? Ataukah mereka lupa kepada Yesus, karena saking senang dan asyiknya dengan kesembuhan mereka, sehingga mereka terlena, lalu lupa kepada Yesus. Mungkin saja karena mereka telah sembuh dari sakit kusta. Tentu saja tidak mudah memahami penyakit kusta dalam konteks orang Yahudi, bagaimana mereka dipandang dan diperlakukan.
   Pandangan lain mengatakan bahwa kesembilan orang tersebut sudah sembuh; tetapi secara jahat mereka menghapus ingatan akan anugerah Allah, kesembuhan itu sendiri telah dihina dan terkontaminasi oleh ketidakberterimakasian mereka, sehingga mereka tidak mendapatkan keuntungan yang seharusnya mereka dapatkan darinya. Tetapi sejujurnya bagaima sebanarnya cara atau budaya Yahudi untuk mengucapkan terima kasih. Apakah sama dengan budaya kita sekarang, harus datang langsung kepada orang bersangkutan. Dalam konteks ini Sembilan orang tersebut, apakah harus datang langsung kepada Yesus secara verbal. Sehingga kita benar-benar bisa memahami pertanyaan Yesus “Dimanakah yang Sembilan orang itu?”
    Kita hidup dalam budaya di mana penyampaian terima kasih secara langsung (bertemu) merupakan suatu keharusan. Bila seseorang menolong kita, maka kita harus mengucapkan terima kasih kepadanya. Bila tidak, maka nilai-nilai budaya yang kita hidupi akan membuat kita merasa bersalah atau bahkan disalahkan. Kita akan dicap tidak tahu berterima kasih karena tidak mengucapkan terima kasih kepada orang yang sudah menolong kita. Inilah asumsi kebudayan kita saat ini dan kita hidup setiap hari di dalamnya.
   Tetapi, budaya penyampaian terima kasih secara verbal di atas bukan merupakan sebuah keharus dalam konteks Yudaisme saat itu. Pada saat itu, prinsip retribusi yang dianut orang-orang Yahudi adalah “perbuatan dibalas dengan perbuatan”. Artinya, bila mereka menerima perlakuan baik, misalnya pertolongan, mereka tidak harus mengucapkan terima kasih secara verbal, mis. “terima kasih ya”. Tidak. Mereka sebenarnya sudah tahu apa yang harus mereka lakukan, yaitu mereka akan melakukan sesuatu sebagai wujud dari perasaan terima kasih mereka atas perbuatan baik yang mereka sudah terima.
    Secara kultural, perihal tidak kembalinya kesembilan orang tersebut untuk mengucapkan terima kasih, seharusnya tidak melahirkan respons sebagaimana yang terungkap melalui serangkaian pertanyaan Yesus di atas. Orang-orang Yahudi tidak akan bersungut-sungut karena orang yang mereka tolong tidak kembali dan mengucapkan terima kasih secara verbal kepada mereka.
    Maka yang mengherankan seharusnya bukan persoalan kesembilan orang itu tidak kembali untuk mengucapkan terima kasih lalu kita mencap mereka sebagai orang-orang yang tidak tahu berterima kasih. Bukankah kita terjebak dengan cara deduksi untuk memahami pertanyaan Yesus tersebut. Yang mengherankan justru adalah respons Yesus dalam bentuk serangkaian pertanyaan di atas. Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan di atas, seakan-akan Yesus berharap agar kesembilan orang tersebut kembali dan menyampaikan syukur atau terima kasih kepada-Nya. Maka, yang harus kita selidiki adalah mengapa Yesus berharap demikian yang teraktualisasi dalam bentuk serangkaian pertanyaan tersebut.
    Penyakit kusta dalam pandangan Yahudi, bukan sekadar penyakit biasa. Menurut mereka, penyakit ini adalah kutukan yang membuat orang yang mengidapnya menjadi najis. Selain menajiskan, penyakit ini juga dianggap penyakit yang hanya dapat disembuhkan melalui mukjizat. Para rabi Yahudi bahkan menganggap bahwa penyembuhan terhadap penyakit kusta sama sulitnya dengan membangkitkan seseorang dari kematian. Bukan hanya itu, pada periode Intertestamental, mulai berkembang juga pemahaman bahwa penyembuhan terhadap penyakit kusta merupakan salah satu tanda dari era Mesianik (bnd. respons Yesus terhadap pertanyaan Yohanes Pembaptis dalam Mat. 11:5).
   Jadi Yesus “mengharuskan” kesepuluh orang tersebut untuk kembali guna berterima kasih, bukan karena sebuah keharusan budaya. Itu adalah sebuah keharusan teologis. Penyembuhan dan pentahiran atas penyakit kusta yang mereka derita, seharusnya membuat mereka melihat anugerah Allah. Mereka baru saja mengalami, ibaratnya, “kebangkitan dari orang mati”. Ironisnya, yang kembali kepada Yesus bukan kesembilan orang Yahudi yang mengenal baik tradisi teologis di atas, melainkan seorang Samaria yang dalam pandangan mereka adalah orang kafir. Kesembilan orang Yahudi yang telah sembuh namun tidak kembali itu, mungkin, atas asumsi kultural mereka mengenai “perbuatan dibalas perbuatan”, berpikir bahwa mereka akan membalas itu dengan perbuatan baik lainnya. Mereka merasa berhutang, tentunya. Tetapi perasaan berhutang itu mereka perhitungkan sebagai hutang perbuatan, bukan hutang anugerah.

Senin, 01 April 2013

BERKAT ALLAH ATAS SUAMI YANG SALEH

Mazmur 128:1-6 
Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! ........................... Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN.  (Ayat 1 dan 4)
Orang laki-laki yang dimaksudkan dalam ayat di atas adalah seorang suami atau kepala keluarga. Sedangkan seorang yang takut akan TUHAN dan yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dapat disimpulkan ke dalam satu kata, yakni : “Saleh”. Itulah sebabnya khotbah ini diberikan judul / topik : “Berkat Allah atas Suami yang Saleh”.
Begitu pentingnya kedudukan seorang suami / kepala keluarga di hadapan Allah, sehingga Allah menaruh perhatian secara khusus kepada-nya. Hal ini bukanlah berarti bahwa Allah tidak menganggap penting kedudukan wanita sebagai seorang Istri dalam sebuah keluarga, namun kedudukan Suami sebagai kepala Istri (baca : I Korintus 11:3; I Tim. 2 : 12 & 13) membuat seorang suami memiliki prioritas utama bagi Allah untuk menyalurkan berkat-Nya atas sebuah rumah tangga.
Oleh karena itu, jikalau seorang suami atau kepala keluarga takut akan TUHAN dan mau menurut jalan yang ditunjukan-Nya atau dengan perkataan lain mau hidup saleh di hadapan Allah, maka berkat-berkat yang tertulis dalam Mazmur 128 ini akan dicurahkan Allah ke dalam rumah tangganya. Berkat-berkat tersebut adalah seperti berikut :

1. Kebahagiaan untuk menikmati hasil jerih payah tangannya.

Ayat 2 berkata seperti begini : “Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!.”

Tanggung jawab utama seorang suami atau kepala keluarga adalah memberikan nafkah kepada seluruh anggota keluarganya. Tentunya dengan bekerja, kebutuhan tersebut diharapkan akan dapat terpenuhi, sekali pun ada juga orang yang telah bekerja sekuat tenaga, membanting tulang setiap hari namun kenyataannya belumlah mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan makan, minum dan pakai anggota keluarganya.

Sebagai orang yang beriman, kita percaya bahwa Allah akan selalu menggenapi Firman-Nya. Matius 6:31 – 34 berkata seperti begini : “Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.  Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.  Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

Seorang suami yang mau hidup saleh di hadapan Allah, maka hasil pekerjaannya akan diberkati oleh Allah, dan seluruh anggota keluarganya diberi karunia untuk menikmati berkat itu.
Ada orang yang dikaruniai kekayaan tetapi tidak dikaruniai kuasa untuk menikmatinya (baca Pengkhotbah 6:1-3). Tetapi keluarga yang saleh akan dikaruniai kuasa untuk menikmati berkat dari hasil jerih payah tangannya. (Baca Pengkhotbah 5:17-18).

2. Isteri akan seperti pohon anggur yang subur.

Ayat 3 berkata seperti begini : “Isteri mu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu.” 
Apakah artinya isteri akan menjadi seperti pohon anggur?
Mazmur 104 : 15 :  “….. dan anggur yang menyukakan hati manusia ……...”
Pengkhotbah 10 : 19 : “Untuk tertawa orang menghidangkan makanan; anggur meriangkan hidup ………...” 
Jadi anggur itu menyukakan hati dan meriangkan hidup.
Kalau kepala rumah tangga atau suami itu mau hidup saleh di hadapan Allah, maka isteri nya akan menyukakan hati, baik hati Tuhan maupun hati suami, dan akan meriangkan hidup anggota keluarga dalam rumahnya. Dan indahnya bahwa kesukaan dan keriangan itu tak akan pernah layu, dia akan selalu tumbuh subur setiap waktu oleh karena yang memeliharanya adalah TUHAN semesta alam, Allah yang mengaruniakan berkat tersebut oleh karena kasih-Nya.
Suatu hal perlu diperhatikan dalam membangun sebuah rumah tangga yang harmonis, kita harus memperhatikan apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Korintus : “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya.” (baca : II Korintus 6 : 14a).  

3. Anak-anak seperti tunas pohon zaitun.

Ayat 3  : “…........... anak-anakmu seperti tunas pohon Zaitun sekeliling mejamu!.”.
Apakah artinya anak-anak seperti tunas pohon zaitun?
Pohon zaitun adalah salah satu pohon yang paling berharga bagi orang Ibrani pada zaman purba. Orang Timur menganggap zaitun simbol kecantikan, kekuatan, berkat Ilahi dan kemakmuran. Betlehem, Hebron, Gilead, Lakhis dan Basan semuanya terkenal pada zaman Alkitab karena kemakmurannya berkat hutan-hutan zaitun. (Ensiklopedi Alkitab Masa Kini).
Beberapa kegunaan dari pohon zaitun diantaranya adalah sebagai berikut :
  • Rumpun zaitun umumnya dihargai sebagai sumber minyak. Pada upacara pemahkotaan minyaknya dipakai melambangkan kekuasaan. Minyak zaitun juga merupakan bahan dasar pengolahan salep, juga dipakai untuk merias rambut. Disamping itu minyak zaitun dipakai sebagai bahan bakar (Mat. 25 : 3), obat (Luk. 10:34; Yak. 5:14), dan makanan (2 Taw. 2:10). Minyak zaitun yang dicampur dengan mur, kayu manis, tebu dan kayu teja dibuat menjadi minyak urapan yang kudus dan digunakan untuk mengurapi alat-alat Kemah Pertemuan dan Harun serta anak-anaknya. (Keluaran 30:22-30).
  • Kayu zaitun digunakan untuk lemari halus. Batang-batang pohon zaitun dikeringkan beberapa tahun, kayunya yang berwarna kuning sawi bermotif indah, bila dipelitur menjadi permukaan yang halus. Cabang-cabang pohon zaitun digunakan untuk membangun pondok-pondok pada Hari Raya bulan ketujuh (Neh. 8 : 15).
  • Buah zaitun yang segar atau yang diasamkan dan yang dimakan dengan roti, termasuk makanan penting Palestina pada zaman purba.
  • Minyak zaitun itu juga berbau harum. Hosea 14 : 7 : “Ranting - rantingnya akan merambak, semaraknya akan seperti pohon zaitun dan berbau harum seperti yang di Libanon.”
Karena banyaknya kegunaan pohon zaitun sehingga lazim dimanfaatkan untuk banyak tujuan. Pohon zaitun dianggap layak dinamai raja pepohonan (Hak. 9:8).
Kalau seorang suami atau kepala keluarga mau hidup saleh di hadapan Allah, maka anak-anaknya akan bertumbuh dalam kehidupan yang berbau harum dan akan berguna baik untuk Tuhan maupun untuk sesama manusia.
4. Dikaruniai umur panjang.
Ayat 5-6 : “Kiranya Tuhan memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu, dan melihat anak-anak dari anak-anakmu! Damai sejahtera atas Israel.”
Dari ayat ini jelas bahwa seseorang dapat melihat anak-anak dari anak-anaknya, atau dengan perkataan lain melihat cucunya, oleh karena ia dikarunia umur panjang.

Mazmur 91:14,16 berkata : “Sungguh, hatinya melekat kepadaKu, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya,…… dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari padaKu.”

Dikarunia umur panjang adalah harapan setiap umat manusia. Sekalipun ada juga keinginan yang timbul di hati orang yang saleh seperti Rasul Paulus untuk segera berjumpa dengan KRISTUS karena baginya itu memang jauh lebih baik. (baca : Filipi 1 : 21 – 26).
Persoalannya adalah bahwa semasa kita hidup dan dikaruniai umur panjang apakah kita mau mengisi hidup kita tersebut dengan hal-hal yang berguna baik untuk diri kita sendiri, keluarga kita, sesama bahkan terlebih untuk TUHAN ?.   

Allah bukan hanya mengaruniakan umur panjang kepada umat-Nya yang hidup berkenan kepada-Nya, tetapi ia juga mengaruniakan kebahagiaan untuk menikmati buah-buah dari apa yang telah ia perbuat semasa hidupnya.

Seorang suami atau kepala keluarga yang mau hidup saleh di hadapan Allah, maka keluarganya akan dikaruniakan kebahagiaan untuk menikmati hasil jerih payah tangannya, istrinya akan menyukakan hati dan memberikan keriangan dalam hidup mereka, anak-anaknya dipermuliakan dan hidup berguna untuk TUHAN dan manusia, serta dikaruniai umur panjang dan kebahagiaan untuk menikmati hari-hari hidupnya tersebut. Oleh karena itu sebagai suami terutama baiklah kita mau menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Allah sehingga kita dapat menikmati berkat yang luar biasa tersebut atas rumah tangga kita. Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua.Tuhan Yesus Memberkati

Kamis, 21 Maret 2013

MENDERITA DEMI UMAT YANG DIKASIHINYA

Setelah selesai merayakan Perjamuan Terakhir di Ruang Atas di Yerusalem dengan menyanyikan sebuah nyanyian pujian (lihat Mat 26:30), Yesus dan para murid meninggalkan kota, kemudian menuruni lereng bukit dan menyeberangi Sungai Kidron menuju Bukit Zaitun. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya (lihat Yoh 18:1-2). 

Jarak antara kota Yerusalem dan tempat tujuan diperkirakan sekitar sekitar 1,7 km yang ditempuh dengan berjalan kaki selama setengah jam, karena keadaan lapangan yang tidak sama dengan jalan di dataran dan juga karena dilakukan pada malam hari. Sepanjang perjalanan itu Hati Yesus mengalami kesedihan mendalam dan kemungkinan besar rombongan kecil itu jalan beriring-iringan tanpa banyak bicara. Yang dilakukan mereka adalah menghaturkan doa-doa pribadi dalam keheningan. Tidak seperti biasanya, perjalanan Yesus dan para murid kali ini berkurang dengan satu orang. Iblis telah menguasai salah seorang murid-Nya. Selagi Yesus dan rombongan yang dipimpin-Nya mendekati lembah Kidron, Yudas Iskariot sedang pergi mengatur pengkhianatannya, sementara Yesus sedang menuju Getsemani, sebuah taman tempat produksi minyak zaitun. Di sana buah-buah zaitun diperas dengan alat peras sehingga menghasilkan minyak zaitun. Di sana pula Allah sendiri bermaksud untuk memperlakukan Anak-Nya seperti buah  zaitun dalam sebuah alat peras. 

Yesus adalah Gembala Baik yang sungguhan, yang dalam kasih-Nya yang begitu agung melihat bahaya yang mengancam kawanan domba-Nya. Inilah sebabnya mengapa Yesus memperingatkan para murid-Nya bahwa Dia berusaha menolong dan mempersiapkan mereka. Yesus tidak membawa serta mereka ke dalam taman Getsemani tanpa sekali lagi berbicara mengenai serangkaian peristiwa mengerikan yang segera akan dimulai, agar supaya mereka  menyiapkan diri. 
NUBUAT YESUS 
Ketika rombongan kecil itu sampai di kaki Bukit Zaitun, Yesus bernubuat: “Malam ini kamu semua akan terguncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai” (Mat 26:31; bdk. Za 13:7). Yesus sangat rindu untuk mempersiapkan para murid-Nya, tidak hanya pada malam itu sebelum pertempuran Getsemani dimulai. Sebelumnya berkali-kali Yesus juga sudah memperingati mereka tentang hal-hal yang akan terjadi dengan diri-Nya. 
Kata-kata Yesus ini sungguh memecah keheningan malam seperti bunyi halilintar. Reaksi Petrus: “Biar pun mereka semua terguncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak” (Mat 26:33). Yesus berkata kepada-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali” (Mat 26:34).  Kata Petrus kepada-Nya, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku tidak akan menyangkal Engkau.” Semua murid yang lain pun berkata demikian juga (Mat 26:35). 
Setelah itu Yesus tidak berkata apa-apa lagi, namun Ia memimpin para murid-Nya menuju taman Getsemani. Kata Gethesemane berarti alat pemeras zaitun. Alat produksi minyak zaitun itu barangkali disimpan di dalam sebuah gua, dan salah satunya masih dapat lihat di bukit itu. 
DOA YESUS 
Kitab-kitab Injil mengindikasikan bahwa Yesus sering mengunjungi Getsemani, mungkin saja pemilik taman ini adalah seorang sahabat-Nya dari keluarga berada, seperti keluarga Yohanes Markus. Keluarga-keluarga kaya memiliki taman dan lahan pertanian di luar tembok kota. Ketika rombongan kecil itu sampai di Getsemani, Yesus berkata: “Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.” Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya (lihat Mat 26:36-37). 
Pada setiap persimpangan jalan yang penting dalam kehidupan-Nya, Yesus berdoa. Misalnya Dia berdoa pada waktu pembaptisan-Nya. Dia berdoa sebelum memulai pelayanan pewartaan-Nya. Dia berdoa sebelum memilih dua belas orang rasul-Nya. Dia berdoa sebelum bertanya kepada para rasul-Nya sebuah pertanyaan yang teramat penting: “Siapakah Aku ini?” Dia juga berdoa pada hari kemuliaan-Nya, ketika Ia dimuliakan di atas gunung (transfigurasi). 
Dapat dikatakan sesuatu yang ironis bahwa ketiga rasul yang bersama dengan-Nya ketika Dia dimuliakan di atas gunung, sekarang ada bersama-Nya dalam jam sengsara-Nya. Kita lihat apa yang dikatakan dalam Injil Matius: 
Ia mulai merasa sedih dan gelisah. Lalu kata-Nya kepada mereka, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” Kemudian Ia manju sedikit, lalu sujud dan berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari hadapan-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat 26:37-39). Doa yang sama didoakan oleh Yesus sampai tiga kali (Mat  26:42; 26:44). 
PENDERITAAN MENTAL YANG DIALAMI YESUS 
Di taman Getsemani ini Yesus mulai suatu proses penderitaan yang akan membawa diri-Nya kepada kematian. Proses penderitaan-Nya ini mempunyai empat aspek, yaitu penderitaan mental, penderitaan emosional, penderitaan fisik dan penderitaan spiritual (Mark Link SJ, Experiencing Jesus His Story, hal. 169-179). 
Penderitaan pertama adalah penderitaan mental. Yesus mengantisipasi penderitaan fisik yang akan dialami-Nya. Antisipasi sedemikian dapat lebih menakutkan daripada penderitaan fisiknya sendiri. Sudah berbulan-bulan lamanya Yesus berkonfrontasi dengan para pemuka agama di Yerusalem. Yesus telah mengalami ketegangan yang semakin memuncak antara diri-Nya dengan para pemuka agama tersebut, bulan demi bulan, pekan ke pekan dan hari demi hari, dan sekarang: jam demi jam. 
Yesus telah memperingatkan para murid-Nya tentang akibat tak terelakkan dari ketegangan yang telah memuncak ini. Pada suatu kesempatan Ia berkata kepada para murid-Nya: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa lain, supaya Ia diolok-olokkan, dicambuk dan disalibkan, tetapi pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan” (Mat 20:18-19). 
Akan tetapi, bagi para murid-Nya peringatan Yesus ini masuk ke telinga kiri dan keluar dari telinga kanan, dan juga tak mampu terserap oleh nalar mereka. Penulis Injil Markus malah menceritakan bagaimana Petrus ‘menegur’ Yesus karena mempunyai pikiran seperti itu (lihat Mrk 8:32). Sekarang, di taman Getsemani ini, Yesus menderita dalam kesendirian. Ia tahu sekali segala sesuatu yang akan terjadi dengan diri-Nya malam/pagi hari itu sampai dengan esok siang hari. Yesus pernah melihat prajurit/algojo Romawi menyiksa tawanan mereka dengan cambukan. Ia juga telah melihat orang-orang yang dihukum mati di kayu salib. Penyaliban pernah dikatakan sebagai pemberian hukuman yang paling kejam yang pernah ada. Dapat diduga, bahwa pada penderitaan-Nya di malam gelap itu terkilaslah dalam ingatan Yesus nubuatan nabi Yesaya: “Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi. …… Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita; dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. …… Banyak orang akan tertegun melihat dia – begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi” (Yes 50:6; 53:5; 52:14). 
Selagi Yesus berlutut berdoa dalam penderitaan-Nya yang mendalam, kata-kata sang pemazmur kiranya juga terkilas dalam pikiran-Nya: “Banyak lembu jantan mengerumuni aku; banteng-banteng dari Basan mengepung aku;mereka mengangakan mulutnya terhadap aku seperti singa yang menerkam dan mengaum. Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku” (Mzm 22:13-15). 
Dalam penderitaan-Nya, Yesus berpaling kepada Bapa di surga: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari hadapan-Ku, tetapi janganlah seperti yang Ku-kehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat 26:39). 
Pada suatu hari Pater Mark Link SJ memperoleh suatu wawasan baru berkaitan dengan penderitaan Yesus di taman Getsemani yang diperolehnya dari sebuah buku karangan Dr. Martin Luther King Jr. yang sedang dibacanya. Seperti kita ketahui, Dr. Martin Luther King Jr. adalah pejuang persamaan hak orang-orang negro Amerika Serikat di tahun 1960-an yang akhirnya mati terbunuh. Dalam buku itu diceritakan ketegangan yang ada antara Dr. King dengan pihak penguasa, yaitu pemerintah negara bagian Alabama dan penguasa kota Montgomery, ketegangan yang semakin memuncak dari bulan ke bulan, dari pekan ke pekan dan dari hari ke hari. 
Pada suatu malam, dalam keadaan letih karena kerja keras seharian, pada saat Dr. King mau pergi tidur, telepon berdering. Dr. King mengangkat telepon dan terdengarlah suara ancaman: “Dengar baik-baik nigger (kata ejekan menghina bagi orang-orang negro/kulit hitam di Amerika Serikat), kami telah mengambil segalanya dari kamu. Sebelum pekan depan, kamu akan menyesal pernah datang ke Montgomery.” Dr. King menutup teleponnya. Tiba-tiba dirinya mulai dikuasai oleh rasa takut yang luarbiasa mencekam. Pejuang hak azasi ini mulai kehilangan keberaniannya. Dia mulai merasa sakit di sana sini. Dia bangkit berdiri dan mulai melangkah bolak balik dalam ruang tidurnya. Dia pergi ke dapur, menyiapkan kopi dan duduk di sana tak tahu apa yang akan diperbuatnya atau ke mana dia akan minta pertolongan. Kemudian dia menundukkan kepalanya dan mulai berdoa. Doanya kira-kira berbunyi begini: Tuhan, aku memperjuangkan apa yang aku percaya sebagai sesuatu yang benar. Namun demikian, sekarang aku merasa takut, sangat takut. Orang-orang tergantung pada diriku untuk kepemimpinan. Apabila aku tanpa kekuatan atau keberanian, maka mereka pun akan semakin takut. Aku sudah sampai di ujung. Aku tidak tahu ke mana aku harus berpaling. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak lagi mampu menghadapi tanggung jawab ini sendiri.
Dr. King menulis, bahwa pada titik inilah dia mengalami kehadiran Sang Ilahi yang tidak pernah dia alami sebelumnya. Pengalaman Dr. King ini memberikan kepada kita suatu wawasan bagaimana Yesus merasakan kehadiran Bapa-Nya setelah doa-Nya di taman itu. Karena setelah Ia berdoa, Injil Lukas mengatakan: “Lalu seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya” (Luk 22:43). 
Tidak lama kemudian terdengar suara-suara di kejauhan. Semakin keras dan keras, suatu tanda bahwa banyak orang semakin dekat. Yesus mengetahui sekali apa artinya ini. Beberapa menit kemudian sejumlah besar serdadu mulai memasuki taman Getsemani. Yudas Iskariot ada bersama rombongan orang banyak itu. Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan suatu tanda kepada mereka, ‘Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia.’ Segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata, ‘Salam Rabi,’ lalu mencium Dia. Tetapi Yesus berkata kepadanya, ‘Hai teman, untuk itukah engkau datang?’ Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya (Mat 26:48-50). 
PENDERITAAN EMOSIONAL YANG DIALAMI YESUS 
Di samping penderitaan mental-Nya, Yesus juga mengalami penderitaan emosional. Penderitaan emosional mulai dialami Yesus ketika Yudas mengkhianati-Nya. Penderitaan emosial-Nya semakin intensif pada saat-saat  para murid-Nya melarikan diri, meninggalkan diri-Nya sendiri menghadapi pihak lawan. 
Setelah ditangkap, mula-mula serdadu-serdadu membawa Yesus ke rumah Hanas, karena Hanas adalah mertua Kayafas yang pada tahun itu menjadi Imam Besar (lihat Yoh 18:13). Simon Petrus dan seorang murid lain mengikuti Yesus. Murid itu mengenal Imam Besar dan ia masuk bersama-sama dengan Yesus ke halaman istana Imam Besar, tetapi Petrus tinggal di luar dekat pintu. Murid yang lain itu, yang mengenal Imam Besar, kembali ke luar, berbicara dengan perempuan penjaga pintu lalu membawa Petrus masuk. Hamba perempuan itu mengenali Petrus, lalu bertanya: “Bukankah engkau juga murid orang itu?” Jawab Petrus: “Bukan!” (lihat Yoh 18:15-17). Petrus menyangkal Yesus untuk pertama kalinya. Kemudian Petrus – untuk menghangatkan badannya – berdiri di dekat api unggun yang dibuat oleh para hamba Imam Bear dan penjaga Bait Allah bersama dengan mereka.  Setelah Yesus diperiksa dan malah ditampar oleh seorang penjaga, Hanas mengirim-Nya kepada Kayafas (lihat Yoh 18:24). Pada saat inilah, ketika Simon Petrus masih berdiri menghangatkan badannya, beberapa orang bertanya: “Bukankah engkau juga salah seorang murid-Nya?” Petrus menyangkal dengan berkata: “Bukan” (lihat Yoh 18:25-26). Petrus menyangkal Yesus untuk kedua kalinya. Kemudian seorang hamba Imam Besar, seorang keluarga dari hamba yangt telinganya dipotong Petrus, berkata: “Bukankah engkau kulihat di taman itu bersama-sama dengan Dia?’” Petrus pun menyangkal Yesus untuk ketiga kalinya dan seketika itu juga berkokoklah ayam (lihat Yoh 18:26-27). Injil Lukas melukiskan penyangkalan Petrus yang ketiga kalinya dengan dengan lebih dramatis: 
Kira-kira sejam kemudian seorang lain berkata dengan tegas, “Sungguh, orang ini juga bersama-sama dengan Dia, sebab ia juga orang Galilea.” Tetapi Petrus berkata, “Pak, aku tidak tahu apa yang engkau katakan.” Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam. Lalu  berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya, “Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau  telah tiga kali menyangkal Aku.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedih (lihat Luk  22:59-62).    
Penderitaan mental yang mendalam dari Yesus di taman Getsemani hampir tidak dapat ditanggung-Nya. Namun sekarang, penderitaan emosional Yesus yang dikarenakan Dia merasa dikhianati, ditinggalkan dan disangkal hampir menghancurkan hati-Nya. Kata-kata sang pemazmur sekarang digenapi: “Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku” (Mzm 41:10). Kita hanya dapat membayangkan inilah kiranya yang ada dalam pikiran dan hati Yesus ketika Ia ditahan, setelah diolok-olok dan dipukuli (lihat Luk 22:63) menjelang dibawa ke Mahkamah Agama di pagi harinya. Di Mahkamah Agung, kepada Yesus diajukan suatu pertanyaan sangat penting dan menentukan. Berikut ini petikannya: 
“Jikalau Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada kami.” Jawab Yesus, “Sekalipun aku mengatakannya kepada kamu, kamu tidak akan percaya; dan sekalipun Aku bertanya, kamu tidak akan menjawab. Mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa.” Kata mereka semua, “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus, “Kamu sendiri mengatakan bahwa Akulah Dia.” Lalu kata mereka, “Untuk apa kita perlu kesaksian lagi? Kita telah mendengarnya dari mulut-Nya sendiri” (Luk 22:67-71) 
Setelah itu Yesus dibawa  ke mabes gubernur Romawi, Ponsius Pilatus. Anggota Mahkamah Agung berharap agar Pilatus-lah yang menjatuhkan hukuman mati atas diri Yesus. Setelah sekian lama proses pemeriksaan berlangsung, Pilatus menyimpulkan bahwa inti permasalahannya adalah suatu konflik keagamaan antara orang-orang Yahudi sendiri. Oleh karena itu dia mencoba untuk cuci tangan.
PENDERITAAN FISIK YANG DIALAMI YESUS 
Ketika setiap upaya gagal, Pilatus menyerah penuh frustrasi. Dia telah menyerahkan Yesus untuk dihukum cemeti dan menyerahkan-Nya untuk disalibkan. Di sini kita berbicara mengenai penderitaan badaniah, atau penderitaan fisik Yesus. Orang-orang Yahudi mengenal hukuman cambuk ini. Mereka sendiri telah mempraktekkannya sejak zaman-zaman sebelumnya, namun hanya untuk kesalahan yang serius. Taurat mereka mengatur sebagai berikut: “… maka jika orang yang bersalah itu layak dipukul, haruslah hakim menyuruh dia meniarap dan menyuruh orang memukuli dia di depannya dengan sejumlah dera setimpal dengan kesalahannya. Empat puluh kali harus orang itu dipukuli, jangan lebih; supaya jangan saudaramu menjadi rendah di matamu, apabila ia dipukul lebih banyak lagi” (Ul 25:2-3). 
Orang-orang Romawi tidak memiliki perikemanusiaan. Mereka tidak membatasi jumlah pukulan, dan mereka juga menggunakan cambuk yang dirancang sedemikian rupa sehingga mampu masuk dalam-dalam di tubuh korban. Penulis-penulis Romawi menceritakan bahwa  para korban kadang-kadang menjadi tidak-sadar-diri dan mati sebelum pemukulan dihentikan. Nah, Yesus mengalami penghukuman kejam seperti ini. Setelah itu, para serdadu Romawi malah mengolok-olok Yesus. Kita lihat apa yang ditulis dalam Injil Matius: 
Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olok Dia, katanya, “Salam, hai Raja orang Yahudi!” Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh  itu memukulkannya ke kepala-Nya. Sesudah mengolok-olok Dia mereka menanggalkan jubah yang dipakai-Nya itu dan mengenakan lagi pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan (Mat 27:29-31). 
Berikut ini adalah sedikit kesaksian dari Dr. Sheila Cassidy berkaitan dengan penderitaan fisik yang dialaminya. Cerita ini bersumber pada tulisan Pater Mark Link SJ dan tulisan lainnya. Dr. Cassidy lahir di Inggris pada tahun 1937 dan sekolah di Australia. Pada tahun 1970’an Dr. Cassidy melakukan kerja pelayanan sebagai dokter di Chile. Pada suatu hari seorang yang terluka datang kepadanya untuk berobat. Orang ini tidak dapat pergi ke rumah sakit karena dia sedang dicari-cari dan dikejar-kejar oleh polisi rahasia. 
Tidak lama kemudian Dr. Cassidy ditahan oleh polisi rahasia. Dokter ini dibawa ke sebuah penjara. Dalam pernjara ini dia ditelanjangi dan tangan-tangan dan kaki-kakinya ditarik keras ke empat arah tanpa dia dapat melawan sedikit pun. Dr. Cassidy menulis: Aku diberi hukuman yang mengakibatkan kesakitan fisik pada diriku, dan aku pun di bawah ancaman pembunuhan. Untuk pertama kali dalam hidupku aku berpikir bahwa aku akan mati. Mereka mencoba memaksa aku untuk menyebut nama orang itu …… Aku mengalami sedikit apa yang telah diderita Yesus. Sepanjang waktu susah penuh derita itu aku hanya merasakan bahwa Dia ada di sana dan aku pun mohon kepada-Nya untuk menolongku agar dapat tetap bertahan. 
“Setelah empat hari penuh dengan rasa sakit secara fisik, aku dipindahkan … Aku ditinggalkan sendirian, sungguh-sungguh sendiri dalam sebuah ruangan kecil … Aku dikuasai oleh suatu rasa takut yang luarbiasa, bahwa setiap saat mereka akan datang kembali dan menyiksa aku lagi. Pada saat itu aku teringat pada doa Dietrich Bonhoeffer yang ditulisnya sementara menunggu pelaksanaan hukuman mati atas dirinya…… “Dalam diriku terdapat kegelapan, tetapi dengan Dikau ada terang … ya Tuhan, apa pun yang terjadi hari ini, dimuliakanlah nama-Mu.” 
Selagi Yesus digiring ke tempat penghukuman, penderitaan fisik-Nya memuncak dan semakin intensif. Ada kebiasaan dalam dunia zaman dahulu, di mana si terhukum harus membawa sendiri alat yang digunakan untuk menghukum dirinya. Yesus juga tidak dikecualikan. Yesus juga harus memanggul salib-Nya sendiri, padahal punggung-Nya sudah rusak karena sudah terlukai oleh cambukan-cambukan sebelumnya. Setelah berjalan beberapa ratus meter jauhnya, Yesus mulai lemah karena kehilangan darah. Dia mulai tidak kokoh dalam memanggul salib yang berat itu. Oleh karena itu para serdadu memaksa seorang laki-laki yang sedang menonton di pinggir jalan bernama Simon dari Kirene, untuk menolong Yesus. 
Jarak dari mabes Pilatus ke Golgota kira-kira 400 meter (1/4 mil). Golgota adalah sebuah bukit kecil di luar pintu gerbang kota. Golgota berarti ‘tempat tengkorak’. Jalan-jalan menuju Golgota itu sempit dan terbuat dari batu-batu besar. Batu-batu ini semakin lama semakin licin dan membuat orang yang berjalan di atasnya mudah terpeleset. Pada hari Jumat itu jalan-jalan itu dipenuhi dengan orang-orang yang ingin menonton penghukuman itu. Ketika pada akhirnya prosesi sampai di bukit Golgota, bukit itu dengan cepat dikelilingi oleh para serdadu Romawi yang bertugas untuk menjaga keamanan. 
Yesus kemudian ditelanjangi dan siap untuk dihukum. Pada menit terakhir, para serdadu memberikan kepada Yesus minuman yang sudah dicampur obat-obat guna mematikan pikiran terhadap penderitaan yang dialaminya. Ini adalah praktik yang biasa dilakukan. Yesus menolak untuk minum.
Setelah Yesus telah dipaku pada kayu salib, salib pun ditegakkan. Kekejaman penyaliban adalah rasa sakit yang diderita korban dalam proses kematiannya. Rasa sakitnya menyiksa, tetapi tidak cukup untuk mematikan. Korban seringkali mati rasa lapar atau rasa haus. Ada laporan yang mengatakan bahwa para terhukum diketahui bertahan sampai beberapa hari, akhirnya mati gila. Inilah jenis penderitaan yang dialami Yesus. 
PENDERITAAN SPIRITUAL YANG DIALAMI YESUS 
Penderitaan Yesus yang keempat adalah penderitaan spiritual. Barangkali penderitaan spiritual ini adalah penderitaan yang paling menyakitkan dari semua penderitaan. Ini adalah penderitaan karena dibuang/ditinggalkan justru pada waktu seseorang membutuhkan pihak lain untuk menemani dan menghibur. Penderitaan karena ditertawakan, diejek, dicemoohkan pada saat-saat seseorang itu menderita karena siksaan. Mari kita lihat apa yang ditulis dalam Injil Markus: 
Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia, dan sambil menggelengkan kepala mereka berkata, “Hai Engkau yang mau meruntuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, turunlah dari salib itu dan selamatkan diri-Mu!” Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli Taurat mengolok-olok Dia di antara mereka sendiri dan mereka berkata, “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkank! Baiklah Mesias, Raja Israel itu, turun dari salib itu sekarang supaya kita lihat dan percaya” (Mrk 15:29-32). 
Yesus mendengar kata-kata itu semua, kata-kata yang sangat menyayat-nyayat hati-Nya. Apa tanggapan Yesus terhadap kata-kata yang menyakitkan tersebut? Apakah Dia membalas dengan kata-kata cercaan juga? Sama sekali tidak! Berikut ini adalah tanggapan Yesus: 
Yesus berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga. Pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring. “Eloi, Eloi, lema sabakhtani?”, yang berarti: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mrk 15:33-34). 
Dalam kehidupan ada saat di mana kita merasa tidak berdaya, yaitu ketika teman-teman baik kita tidak dapat menolong kita, dan ketika kita tak dapat menolong diri kita sendiri. Saat penderitaan spiritual ini bagi Yesus adalah ketika Dia tergantung di kayu salib. Bahkan Allah sendiri kelihatan sudah pergi meninggalkan Dia. Yesus sendiri, tanpa siapa-siapa di sisi-Nya. Lagi-lagi Dia kembali ke doa yang ada dalam Kitab Mazmur: 
Allah-ku, Allah-ku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. … Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak. Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku; kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku. Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku. Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku. Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku. Tetapi Engkau, YHWH, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku! (Mzm 22:2.7.15-20). 
Akan tetapi Allah tidak datang untuk menyelamatkan Yesus! Pada akhirnya keempat penderitaan Yesus membawa-Nya kepada kematian: 
Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas dan kegelapan meliputi seluruh bumi sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar. Tirai Bait Suci terkoyak menjadi dua. Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.”  Sesudah berkata demikian Ia menghembuskan napas terakhir-Nya (Luk 23:44-46). Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat-Nya menghembuskan napas terakhir seperti itu, berkatalah ia, “Sungguh, orang ini Anak Allah!” (Mrk 15:39). 
MAKNA PENDERITAAN YESUS 
Kematian pada akhirnya membebaskan Yesus dari penderitaan-Nya. Selagi Dia masih tergantung di kayu salib, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: Mengapa Yesus, Putera Allah, harus mengalami empat macam penderitaan yang begitu berat? Mengapa Yesus harus mati penuh dengan rasa sakit? Bukan karena penderitaan itu baik adanya. Samasekali tidak! 
Penderitaan itu sendiri bukanlah tujuan. Yang penting kita pegang adalah cintakasih Yesus yang begitu agung yang menyebabkan Dia bersedia untuk menderita demi keselamatan kita. Yesus yang tersalib berbicara kepada kita  tentang cintakasih dengan menggunakan tiga cara: 
Pertama, sebagai suatu manifestasi dari cintakasih. Tubuh Yesus yang tergantung di kayu salib adalah suatu cara visual untuk menggambarkan apa yang telah begitu sering dikatakan Yesus: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). 
Kedua, tubuh Kristus yang tersalib adalah suatu pengungkapan atau pernyataan cintakasih. Di sini ditegaskanlah bahwa cintakasih mengandung juga unsur penderitaan. Tubuh Yesus di kayu salib mengatakan secara visual apa yang begitu sering dikatakan oleh Yesus: “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku”  (Luk 9:23). 
Ketiga, tubuh Kristus yang tersalib adalah sebuah perintah/undangan untuk mencintai, untuk mengasihi. “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15:12). 

BERUSAHALAH, JANGAN MENYERAH

  Berusahalah, Jangan Menyerah Salah satu tanda kehidupan adalah adanya usaha dan perjuangan. Sebatang pohon yang hidup maka akarnya akan te...