Rabu, 19 April 2017

GUA ADULAM: MENANTI APA YANG DILAKUKAN ALLAH (1 Samuel 22:1-5)


         Dalam bagian ini penggalan kisah perjalan Daud melarikan diri dari kejaran Saul yang ingin membunuhnya. Setelah Daud sampai pada Kota Gad. Dimana di sana dia berlaku seperti orang yang sakit ingatan. Mungkinkah ini sebagai suatu starteginya untuk menghindari tindakan pembunuhan atas dirinya oleh Akhis, raja kota Gad.
      Dari kota Gad, Daud pergi melarikan diri ke gua Adulam. Kata Adulam memiliki arti tempat yang tertutup.  Di kala itu, gua menjadi tempat persembunyian paling favorit bagi orang-orang yang bermasalah seperti buronan, penjahat, perampok, preman atau yang sering disebut sebagai  'sampah'  masyarakat. Apa yang dialami oleh Daud, hal dimana dia ingin dibunuh oleh Saul sampai pada saudara-saudara dan keluarga Daud. Ketika mereka mendengar dan mengetahui bahwa Daud ada di Gua Adulam mereka pergi ke sana untuk mendapatkan dia. Bukan hanya saudara-saudara dan keluarganya yang datang kepada Daud. Tetapi juga sejumlah orang yang sedang mengalami masalah. Dikatakan bahwa berhimpun juga kepada Daud setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati. Kira-kira empat ratus orang menggabung diri dengan Daud, dan Daud menjadi pemimpin bagi mereka. Menggabungkan diri dengan Daud tentu menjadi kekuatan, semangat, rasa aman dan nyaman bagi mereka yang sedang mengalami masalah, karena mereka bisa mendapatkan penghiburan dan memiliki seorang yang dapat mengayomi mereka. Ini tentu bagian dari cara Tuhan untuk melatihnya, untuk mengayomi, memimpim dan menjadi tempat pengaduan serta perteduhan bagi rakyat yang dia akan pimpin.
      Semua orang yang ada dalam rumah tangga Isai sekarang tinggal bersama-sama dengan Daud. Tetapi Daud tidak ingin kedua orang tuanya tinggal bersama dia dalam pelarian. Mereka sudah berusia lanjut dan tidak lagi sanggup kalau harus tinggal di tempat-tempat yang sulit dalam pelarian. Berada dalam kesulitan tidak berarti boleh mengabaikan hukum Tuhan. Daud tahu kalau dia harus mencari tempat perlindungan bagi kedua orang tuanya. Dia menemukannya justru di tempat raja Moab. Kerajaan yang menjadi musuh Saul, tetapi merupakan kerajaan tempat nenek moyang Daud – Rut – berasal. Maka dia memohon kepada raja Moab untuk menampung kedua orang tuanya.
        Dari gua Adulam, Dau pergi ke Mizpa di Moab. Ia pergi menemui raja Moab untuk meminta izin kepada raja supaya ayah dan ibunya bisa tinggal di Moab seraya Daud menanti dan mengetahui apa yang Tuhan lakukan atasnya. Lalu Daud mengantar mereka kepada raja Moab dan mereka tinggal bersama-sama dengan dia selama Daud ada di kubu gunung. Apa yang Daud lakukan dengan menemui raja Moab dan meminta izin kepadanya supaya keluarganya bisa tinggal di daerah kekuasaan raja Moab merupakan suatu sikap dan tindakan yang baik serta sikap hormatnya pada raja Moab yang memiliki otoritas atas wilayahnya. Memperhatikan hal ini, tentu kita bisa mengingat apa yang pernah dilakukan oleh Yusuf ketika ia menghadap firaun untuk meminta izin kepadanya tatkala ia meminta Yakub, ayahnya dan saudara-saudaranya untuk pergi dan tinggal di Mesir (Kej. 46). Apa yang Daud lakukan adalah bagaimana dia memiliki perhatian yang indah dan baik bagi ayah, ibun dan saudara-saudaranya, meskipun dia sendiri sedang mengalami pergumulan dan beban yang berat. Namun dia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melakukan yang terbaik baik bagi orang-orang yang dikasihinya. Daud tidak mejadikan diri pusat perhatian dari mereka apalagi menjadi beban bagi orang-orang disekitarnya.
      Dalam menghadapi kesukarannya Daud tidak mengambil jalan pintas dengan menghalalkan segala cara untuk keluar dan lepas dari kesulitan dan pergumulan hidup yang diajalani. Namun Daud tetap menyerahkan kepada kehendak Tuhan. Dikatakan bagaimana dia berkata “sampai aku tahu, apa yang dilakukan Allah kepadaku”. Dalam hal ini kita dapat melihat bagaimana Daud menyerahkan hidupnya pada kehendak Tuhan. Dia tidak ingin bertindak di luar jalur ketetapan dan kehendak Allah. Meski dia sendiri tidak tahu apa yang Tuhan akan lakukan atasnya, dan berapa lama dia akan lepas dari pengejaran dari Saul, namun Daud tetap bersandar pada Tuhan. Gambaran akan relasi Daud dan penyerahan diri Daud kepada Tuhan dalam pelariannya dari pengejaran Saul ini juga dapat terlihat bagaimana dia mengungkapkan dalam mazmurnya (Mzr 57; Mzr 142). Fakta hidup yang dialami oleh Daud ini tak jarang menggambarkan kehidupan banyak manusia, khusunya orang Kristen. Bagaimana ketika hidup dicengkram kesulitan maka membuat diri dengan mudah menyerahkan hidup pada pemeliharan Allah, mengingat Allah dan dekat dengan Dia. Namun ketika hidup sudah “lapang” dalam banyal hal maka dengan mudah mengabaikan Tuhan, seakan hidup tidak lagi bergumul dan memerlukan penyertaan dari Allah. Namun alangkah indahnya ketika hidup mengalami berbagai warna kita tetap ada dalam cinta kasih kepada Allah. Itu seharusnya kesadaran yang tinggi akan anugerah Allah dalam diri orang percaya.
        Tidak ingin Daud berada di kubu gunung, Gad, seorang nabi, meminta dia untuk tidak tinggal di tempat tersebut, ia meminta supaya Daud pergilah dan pulanglah ke tanah Yehuda. Mendengar permintaan Gad tersebut maka Daud pun pergi dan masuk ke hutan Keret.
       Dari perenungan akan cuplikan kisah pergumulan Daud ini, mungkin ada beberapa pertanyaan yang dapat kita renungkan. Apakah yang akan kita lakukan tatkala kita sedang mengalami pergumulan hidup yang berat? Adakah kita mencari jalan pintas dengan mengabaikan kebenaran Tuhan dan menghalalkan secaga cara? Atau adakah kita tetap dalam kesabaran, menyerahkan hidup  kepada Tuhan dan menanti jawaban yang indah dari Dia?
        Bagaimanapun beratnya perjalanan hidup yang sedang kita lalui, tetaplah berserah kepada Tuhan, percayakan hidup pada pimpinanNya, milikilah relasi yang indah dengan Allah, naikan doa kepadaNya serta renungkan Firman yang adalah sumber kekautan bagi jiwa kita. Amin.



Selasa, 11 April 2017

DITUNTUN PADA PERTOBATAN MELALUI KEMATIAN


Merenung akan kesengasaraan Tuhan Yesus yang berjalan menuju Golgota, bukit tempat dimana Dia akan disalibkan. Kita dengan mudah menceritakan dengan beragam emosi yang dapat dipakai untuk menjadikan kisah penderitaan Kristus menjadi kisah yang hidup, namun hal penting untuk direnungkan, bahwa betapa tidak mudah untuk masuk dan merasakan apalagi melakoni secara nyata apa yang telah Yesus alami dan jalani. Manusia berupaya untuk menghidar dari yang namanya derita dan sengsara, apa lagi dengan dalih bahwa sekarang sudah serba mudah dan instan. untuk apa lagi masuk dalam hidup yang menderita. Kristus telah menderita, disalibkan, mati, dikubur, bangkit dan telah naik ke Surga. Kasih yang mulia dan agung dalam diri Kristus kepada mereka yang dikasihi-Nya telah membuat Dia rela menderita.
Kisah kehidupan Adoniram Judson, yang hidup antara tahun 1788-1850 sangat menggugah dan meneguhkan panggilan hidup kita dalam melayani Tuhan. Adoniram Judson adalah perintis semangat misionaris di Amerika. Dialah orang pertama dari Amerika yang menjawab panggilan Tuhan untuk menjadi misionaris bagi bangsa asing. Bangsa asing di mana orang-orang sezamannya tidak pernah terpikirkan mau ke sana. Namun panggilan Tuhan tidak dapat ditolak bagi yang menerimanya. Anugerah Tuhan atas bangsa Burma (Myanmar) pun mulai pelan-pelan tercurah melalui Judson.
Judson adalah anak yang brilian dan suka membaca, seperti yang diajarkan ibunya kepadanya. Dia banyak menghabiskan waktu untuk membaca dan sangat menikmati segala hal yang dia baca. Akibat kebiasaan ini, dia memperoleh nilai tertinggi di Brown University. Meskipun demikian, orang tuanya tidak tahu bahwa Judson tidak memiliki iman Kristen yang baik. Judson dididik dalam kekristenan. Namun tanpa sepengetahuan orang tuanya, Judson dipengaruhi oleh temannya dan menganut paham deisme. Suatu paham mengakui adanya Allah, tetapi Allah yang tidak aktif menopang seluruh ciptaan-Nya. Sampai pada akhirnya paham ini akan membuat seseorang menolak Alkitab dan tidak percaya kepada Kristus. Keyakinan Judson pada paham deisme sangat kuat, sehingga pada umur yang ke-20, Judson mengatakan bahwa dia tidak percaya Kristus dan mau pergi ke New York untuk belajar menulis teater. Hal ini begitu mengagetkan orang tuanya. Anak yang brilian, anak yang dididik untuk mencintai Tuhan, ternyata menyembunyikan imannya dan menolak Kristus.
Ketika Judson hidup meninggalkan orang tuanya perjalanan hidupnya tak seperti yang dia rancangkan. Dia merasakan banyak yang sia-sia dalam hidupnya. Dia berpikir, dia bisa hidup lebih baik di luar kekristenan, tetapi justru yang ia dapatkan adalah hidup kehilangan arah. Ia berfoya-foya dan hidup dalam keberdosaan, dimana ketika ada kesempatan untuk menipu Judson pun harus menipu. Dalam kesulitan hidup yang dialaminya ia pun berupaya pergi mengunjungi pamannya untuk mencari pertolongan. Di tengah perjalanan, justru dia bertemu seorang muda yang membuatnya tertarik kepada kekristenan. Ketika di perjalanan tersebut Judson menghadapi kematian temannya yang tidak kenal Tuhan. Melalui perenungan akan kematian temannya, dia mulai mengalami pertobatan secara perlahan. Ke manakah nyawa orang yang sudah meninggal dunia? Anugerah Tuhan terus bekerja di dalam diri Judson, sampai akhirnya dia mengalami pertobatan yang sejati kepada Kristus.
Pada tahun 1813, tepatnya bulan Juli Judson memasuki Burma. Kala itu, Burma merupakan tempat yang bahaya dan sepenuhnya tempat yang tak terjangkau oleh orang luar. William Carey pernah menasihati Judson untuk tidak pergi ke Burma, sebab Burma adalah negara yang terpencil dan tertutup. Nyawa orang yang masuk ke negara itu tidak terjamin, penuh dengan peperangan, pemberontakan, dan diskriminasi. Hanya ada dua kemungkinan yang dialami oleh para misionaris yang pergi ke Burma, yaitu meninggal karena terbunuh atau pergi meninggalkan Burma. Judson tetap memegang teguh keyakinannya dan bersandar kepada Allah. Umur 24 tahun dia melakukan perjalanan ke Burma bersama istrinya, Ann yang berumur 23 tahun. Sepasang kekasih ini melakukan langkah iman yang besar. Mereka naik kapal laut menuju Burma. Di dalam empat tahun, Ann melahirkan tiga anak, dan semuanya meninggal mulai dari perjalanan yang panjang di kapal laut ke India sampai di Burma.
Beragam peristiwa sulit yang mereka alami tak menyurutkan niat dan langkah mereka untuk pergi memberitakan Injil ke Burma. Dia berpegang penuh pada ajaran kedaulatan Allah dan terus rindu agar Injil sejati diberitakan di Burma. Apa yang membuat Judson bertahan di dalam segala kesulitan panggilan misionarisnya adalah pengenalan-Nya kepada Allah yang berdaulat dan Allah yang baik. Dia menjadi bibit yang mati, tetapi menghasilkan ratusan ribu jemaat Kristen lainnya di Burma. Meski benih yang tumbuh ini bukan saja hasil kerja keras Judson, tetapi ratusan misionaris lain yang sudah menumpahkan darah di tanah Burma. David Barrett’s World Christian Encyclopedia menuliskan, “The largest Christian force in Burma is the Burma Baptist Convention, which owes its origin to the pioneering activity of the American Baptist missionary Adoniram Judson.”
Sekitar 38 tahun, Judson menjadi missionaris dan tinggal di Burma. Ia menghasilkan sebuah karya, yaitu terjemahan lengkap Alkitab bahasa Burma dan kamus bahasa yang nantinya akan digunakan para misionaris selanjutnya di Burma. Dia adalah satu-satunya misionaris pertama yang benar-benar menguasai bahasa Burma, baik tulisan maupun ucapan. Hasil taburan benih firman akhirnya dapat dituai oleh Judson. Setelah melalui pergumulan penyakit, gangguan dari orang-orang yang menolaknya, kesulitan bahasa, dan lain-lain, Judson melihat hasil jerih lelahnya. Enam tahun setelah mereka tiba di Burma, mereka membaptis satu petobat baru bernama Maung Nau. Proses penaburan benih ini begitu panjang dan sulit. Meskipun panjang dan sulit, hal ini merupakan perjuangan yang indah bersama Tuhan.
Kesulitan demi kesulitan dilalui oleh pasangan misionaris ini. Ketika mereka tiba di Rangoon, sebuah pelabuhan di mana pernah terjadi baku tembak dan seluruh orang-orang Barat dianggap sebagai mata-mata, Judson pun dianggap sebagai mata-mata dan pada tahun 1824 dia dimasukkan ke dalam penjara. Kakinya dibelenggu sepanjang harinya dan pada malam hari, sebatang bambu dimasukkan di antara belenggu kaki, kemudian bambu tersebut ditarik sampai setinggi bahu sehingga kepala tawanan menempel di tanah. Ketika menderita di penjara, Adoniram berkata kepada tawanan lain, “It is possible that my life may be spared; if so, with what ardor and gratitude shall I pursue my work; and if not, His will be done; the door will be opened for others who will do the work better.”
Istrinya yang sedang hamil, berjuang terus untuk meyakinkan orang-orang bahwa Judson bukanlah mata-mata. Selama satu tahun Judson dan istrinya, Ann berjuang untuk bebas dari penjara. Badan Judson dan Ann mengurus, anak yang dilahirkan Ann menambah pikiran dan beban Ann. Mereka berdua benar-benar seperti prajurit yang kehabisan tenaga untuk berperang. Judson menahan kesulitan kehidupan penjara, Ann berjuang memelihara bayi dan suaminya. Anugerah Tuhan datang tepat pada waktuya. Tahun 1825, Judson dibebaskan karena pemerintah membutuhkan penerjemah dalam negosiasi antara Burma dan Inggris. Tujuh belas bulan lamanya penuh kesulitan hidup di penjara akhirnya berakhir, penjara yang kelam dan menakutkan. Sayang sekali kondisi Ann memburuk selama 17 bulan tersebut. Hidupnya dicurahkan demi suami dan anaknya. Sebelas bulan kemudian, tahun 1826, Ann meninggal dunia. Anaknya juga akhirnya meninggal di tahun 1827. Pada saat yang bersamaan, Judson mendengar kabar bahwa ayahnya sudah meninggal dunia beberapa bulan sebelumnya.
Kesakitan fisik, ditinggalkan ayah, istri, dan anaknya meninggal membawa Judson ke titik terendah dalam kerohaniannya. Kegelapan mulai muncul dalam jiwanya. Efek-efek psikologi muncul, dia mulai ragu dan bertanya-tanya, apakah dia menjadi misionaris karena ambisi ataupun karena nama?
Pelan-pelan untuk memurnikan motivasi misionarisnya, dia mulai meninggalkan pekerjaan penerjemahan Perjanjian Lama, menjauh dari orang-orang dan segala hal yang mendukung kesombongannya. Dia tidak makan, dia menghancurkan semua surat penghargaannya. Dia memberikan semua kekayaannya (6.000 dolar) kepada Dewan Pengurus Baptis. Dia minta gajinya dikurangi dan memohon untuk lebih banyak diberikan kepada misi. Pada tahun 1828, dia membuat gubuk kecil, dan benar-benar terisolasi.
Di tengah keterpurukannya dia menuliskan, “God is to me the Great Unknown. I believe in Him, but I find Him not.” Selanjutnya pada tahun 1829, Judson mendapatkan kabar bahwa saudara kandungnya meninggal dunia pada umur 35 tahun. Seharusnya Judson semakin terpuruk, tetapi ironisnya, justru peristiwa ini merupakan titik pemulihan dalam hidup Judson. Judson meninggalkan saudara kandungnya selama 17 tahun dalam keadaan belum percaya. Namun, dia sadar bahwa ketika saudara kandungnya meninggal, dia meninggal dalam iman kepada Kristus. Kabar inilah yang menjadikan Judson kembali kokoh. Waktunya sudah tiba, Judson kembali melayani Tuhan.
Waktu Tuhan telah tiba, maka tidak ada yang bisa menghalanginya. Tuhan ingin Judson kembali melayani-Nya sebagai misionaris yang berbuah. Pada saat yang ditentukan Tuhan, Judson mengalami kekayaan rohani yang melimpah. Semangat hidup dan melayani kembali meningkat. Setelah delapan tahun Ann meninggal, dia menikah dengan Sarah Boardman dan mereka memiliki delapan anak. Sarah adalah seorang penolong yang pandai berbahasa. Setelah kembali melayani Tuhan, sebelas tahun kemudian Sarah sakit dan perlu berlayar kembali ke Amerika bersama dengan tiga anak-anak mereka yang tertua. Judson sudah 33 tahun tidak kembali ke Amerika, dan dia kembali demi kesehatan istrinya. Akan tetapi, dalam perjalanan kembali dari Amerika, Sarah meninggal, dan Judson menguburkan istrinya di Afrika.
Pengalaman kedua Judson kehilangan istri yang dikasihinya, tetapi pengalaman ini tidak lagi membuatnya goyah. Dia sudah belajar bagaimana membenci kehidupan di dunia ini tanpa kepahitan atau depresi. Dia hanya mempunyai satu hasrat dalam hatinya yaitu kembali ke Burma dan memberikan hidupnya untuk Burma. Pada tahun 1846, untuk kali ketiga, Judson jatuh cinta pada seorang wanita yaitu Emily Chubbuck. Emily saat itu berumur 29 tahun dan Judson 57 tahun. Emily merupakan seorang penulis terkenal dan dia meninggalkan kariernya demi pergi melayani di Burma bersama Judson.
Judson mengalami sakit keras. Satu-satunya harapan adalah mengirimkan Judson untuk pergi berlayar menjauh dari tempat itu. Dalam perjalanannya dia terus mengalami kesakitan dari waktu ke waktu. Di dalam kesakitannya dia berkata, “How few there are who suffer such great torment who die so hard!” Judson meninggal dunia setelah mengeluarkan kalimat tersebut, dia dikuburkan di gereja Burma. Sepuluh hari setelah kematiannya, Emily melahirkan anak kedua mereka. Namun tragisnya, anak keduanya meninggal saat proses kelahiran. Empat bulan kemudian, barulah Emily tahu bahwa suaminya telah tiada. Dia kembali ke New England, tiga tahun kemudian dia juga meninggal dunia karena tuberkulosis.
Melalui kisah hidup Judson, menyadaringatkan kita bagaimana hidup tanpa Kristus dan bagaimana kesetiaannya dalam melayani Tuhan. Panggilan Allah bagi orang yang diperkenanNya begitu kokoh. Dan mereka yang diperkenan Allah untuk menjadi alat ditanganNya akan teguh dalam melayani-Nya. Kristus telah mati bagi kita, adakah kita memiliki cinta kasih yang tulus, murni dan setia kepada-Nya. Selamat merenungkan akan kematian Kristus di Jumaat Agung 2017. Tuhan Yesus memberkati. Amin. (dbs)

Jumat, 25 November 2016

AUTENTISITAS INJIL YESUS KRISTUS



                                                      Kisah Para Rasul 1:1-4
    Kebenaran objektif di dalam kekristenan bukanlah suatu spekulasi dari keyakinan yang buta, melainkan melalui pembuktian yang sudah dilakukan oleh ribuan bahkan jutaan orang. Alkitab memuat banyak kebenaran objektif. Demikian juga ketika dokter Lukas menyampaikan kebenaran Injil kepada Teofilus. Dari perikop ini kita dapat mempelajari tiga prinsip dalam memberitakan kebenaran objektif dari Injil.
       Pertama, fokus berita Injil yang benar adalah Kristus, bukan diri si pemberita. Lukas memaparkan segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Tuhan Yesus (Kisah Para Rasul 1:1), yang mencakup ajaran-Nya, mukjizat-Nya, tindakan kasih-Nya, serta kematian dan kebangkitan-Nya. Berita Injil yang diberitakan Lukas berpusat kepada Pribadi Kristus dan karya-Nya.
         Kedua, isi berita Injil yang benar adalah Yesus yang telah mati dan bangkit. Lukas memaparkan fakta bahwa Yesus sunguh-sungguh hidup (Kisah Para Rasul 1:3). Selama 40 hari Dia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara tentang Kerajaan Allah kepada para murid. Bahkan Ia juga makan bersama-sama mereka. Kematian dan kebangkitan Yesus penting dalam pemberitaan Injil karena fakta inilah yang membedakan Yesus dari para pemimpin dunia/agama lainnya.
        Ketiga, sikap pemberita Injil yang benar adalah taat. Murid-murid disuruh menantikan janji Bapa karena sebentar lagi mereka akan berjuang dalam tugas pemberitaan Injil (Kisah Para Rasul 1:4). Tuhan Yesus menyuruh mereka menunggu supaya kesatuan mereka bisa terlihat dengan menerima Roh Kudus bersama-sama. Di samping itu dengan menunggu, murid-murid diajar taat. Ketaatan adalah penting bagi pemberita Injil. Bagaimana mungkin kita menyuruh orang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kalau kita sendiri tidak taat kepada Dia?
         Sudahkah kita taat pada panggilan Allah untuk memberitakan Injil? Bagaimana cara dan upaya kita dalam memberitakan Injil? Siapakah yang kita beritakan, diri sendiri atau Tuhan Yesus yang mati dan sudah bangkit? Ingatlah bahwa pemberitaan Injil harus dilakukan sesuai dengan firman-Nya. Jangan sampai kita mencuri kemuliaan Allah!

Minggu, 05 Juni 2016

TAAT KEPADA ALLAH



        Tunduk kepada wewenang, menjalankan apa yang diperintahkan, mematuhi apa yang dituntut, atau menjauhkan diri dari apa yang dilarang oleh Allah itu adalah suatu gambaran atau sikap taat. Dalam Alkitab, gagasan tentang ketaatan dinyatakan dengan kata syama, yang pada dasarnya berarti ”mendengar atau mendengarkan”.  Sedangkan dalam Septuaginta atau dalam Perjanjian Baru, kata yang dipakai untuk menyatakan gagasan tentang ketaatan hypakouo yang secara harfiah berarti ”mendengar di bawah”, yaitu mendengar dengan sikap tunduk atau melayani (Kis 12:13). Istilah lain yang mengandung makna ketaatan adalah peiʹtho, yang artinya membujuk, menaruh kepercayaan, percaya, dan mengindahkan.
Terkadang syama, sekadar berarti mendengar, menjadi sadar akan sesuatu melalui indra pendengaran (Kej. 3:10). Namun, apabila kata-kata yang diucapkan menyatakan kehendak, hasrat, instruksi, atau perintah, makna istilah Ibrani itu adalah mengindahkan atau menaati orang yang sedang berbicara. Adam ”mendengarkan” perkataan istrinya, yaitu mengabulkan keinginan istrinya agar Adam juga ikut memakan buah yang terlarang. Yusuf menolak ’mendengarkan’ desakan istri Potifar (Kej. 39:10). Raja Saul takut kepada rakyatnya ”sehingga menaati (mendengarkan) perkataan mereka”, dengan demikian melangkahi perintah Allah (1 Sam. 15:24).
Istilah Ibrani yang sama digunakan sehubungan dengan Allah sewaktu Ia mendengar atau mendengarkan manusia. Misalnya, ketika Allah memberi tahu Abraham bahwa sehubungan dengan Ismael, Aku telah mendengarmu… (Kej. 17:20). Atau dibagian lain, Allah mendengar atau menanggapi permohonan orang-orang pada masa kesukaran atau penderitaan, mengabulkan permohonan mereka jika Ia menganggapnya bahwa hal tersebut dimaksudkan untuk memperlihatkan belas kasihan-Nya (Kel. 3:7-9). Hal ini tentu tidak sedang menyatakan bahwa Allah taat atau tunduk kepada manusia, melainkan untuk menyatakan akan kasih dan pemeliharaan-Nya kepada manusia. Allah peduli kepada manusia.
Ketika Alkitab menggunakan kata taat atau ketaatan, maka hal tersebut diperuntukan bagi manusia. Manusia harus taat kepada Allah. Ketaatan kepada Allah sangat penting untuk Kehidupan. sebaliknya ketidaktaatan manusia kepada Allah adalah awal dari kebinasaan bagi manusia (Kej. 3). Apa yang dituntut oleh Allah dari kehidupan manusia, yaitu ketaatan kepada Dia yang adalah Pencipta dan Pemelihara kehidupan (Mzm. 95:6-8).
Ketaatan kepada Allah tidak dapat digantikan oleh apa pun, misalnya, dengan mempersembahkan korban kepada Allah sebagai bentuk untuk mengganti hidup taat dalam mendengarkan firman Allah dan melakukan kehendak-Nya. Seperti yang dikatakan Samuel kepada Raja Saul, dalam 1 Samuel 15:22, ”Apakah Tuhan senang akan persembahan bakaran dan korban sama seperti akan menaati perkataan-Nya? Sungguh, Lihat! Menaati yang dinyatakan dengan sikap mendengar lebih baik daripada korban, memperhatikan lebih baik daripada lemak domba jantan”.
Ketaatan dalam mendengarkan suara Allah dan melakukan kehendak-Nya adalah hal yang pertama dan utama. Ketaatan kepada Allah membawa seseorang untuk memiliki kerinduan mendengar akan kebenaran firman Allah dan mendorong dia untuk melakukan seluruh kehendak Allah dalam totalitas hidupnya. Karena itu mempersembahkan korban kepada Allah seharusnya menjadi buah ketaatan yang ada dalam diri orang percaya.
Ketaatan kepada Allah menunjukan akan standar nilai hidup yang tinggi dihadapan Allah. Betapa Yesus Kristus, Tuhan yang telah mengambil rupa menjadi manusia telah menunjukan dan memberikan teladan kepada orang percaya. Hiduplah dalam ketaatan kepada dan lakukanlan apa yang menjadi kehendak-Nya, niscaya, Ia akan memelihara hidupmu. Amin

BERUSAHALAH, JANGAN MENYERAH

  Berusahalah, Jangan Menyerah Salah satu tanda kehidupan adalah adanya usaha dan perjuangan. Sebatang pohon yang hidup maka akarnya akan te...